Warga Sumba NTT Andalkan Mata Air Saat Kemarau
SUMBA BARAT — Sebanyak 200 kepala keluarga di desa Lolowano Kecamatan Tanah Righu, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, hanya mengandalkan satu-satunya mata air di daerah itu untuk kebutuhan makan dan minum akibat darurat kekeringan yang melanda daerah tersebut.
“Mau bagaimana lagi, musim kemarau kali ini membuat kami harus berjalan jauh menuju satu-satunya mata air di desa kami. Karena kalau tidak kami tidak dapatkan air bersih,” kata Daniel Umbu, warga desa Lolowano saat ditemui ketiga sedang mengisi air di mata air Wee Tame, Sumba Barat, Minggu (10/9/2017).
Ia menjelaskan bahwa untuk menuju ke lokasi mata air yang tak pernah kering tersebut masyarakat harus berjalan kurang lebih 6 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Belum lagi jalan yang menanjak membuat mereka kesulitan untuk membawa air yang diisi di jeringen ukuran 5-10 liter.
Oleh karena itu masyarakat setempat menggunakan kendaraan roda dua atau juga kuda untuk mengangkutnya air dari mata air itu.
“Perlu 5 sampai 6 kali mengangkut air dari mata air ini karena memang kami tidak bisa membawa lebih banyak jeringen,” katanya.
Disamping mata air Wee Tame, menurut dia, ada satu mata air lagi. Namun jaraknya sangat jauh dan berada di tengah hutan.
Kepala Sekolah SDN Mata Wee Tame Simon B Buma yang sekolahnya berdekatan dengan mata air mengatakan desa tersebut sebenarnya mempunyai pipa air yang dipasang dari mata air yang berada di puncak gunung menuju ke bak penampung di desa tersebut.
“Tapi pipanya dirusak orang. Kemudian juga ada pipa yang dicuri sehingga akibatnya kami yang dibagikan bawah ini kesulitan air,” tuturnya.
Menurut dia, bagi masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas bisa membeli air sebanyak 5000 liter yang dibawa oleh mobil tangki dan harganya mencapai Rp300 ribu per tangki.
“Pemerintah daerah juga menurutnya sudah banyak membantu mengatasi masalah kekeringan di daerah itu yakni dengan memberikan sumbangan bak penampungan berupa fiber plastik untuk setiap rumah,” tambahnya.
Bak penampungan itu digunakan untuk mengisi air bersih yang baik diambil dari mata air maupun dari mobil yang menjual air.
Iapun berharap agar hujan segera datang agar masalah kekeringan dan kesulitan air bersih di desa tersebut dapat teratasi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur merilis sembilan dari 22 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur dilaporkan mengalami darurat kekeringan, menyusul sumber-sumber mata air mulai mengering, akibat kemarau panjang.
Sembilan kabupaten yang masuk dalam darurat kekeringan itu adalah Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sabu Raijua.
“Sementara itu TTS dan Sumba Barat juga merupakan daerah yang setiap tahun selalu dilanda kekeringan, sehingga pemerintah dan DPRD setempat sudah melakukan antisipasi dengan mengalokasikan dana melalui APBD,” kata Kepala BPBD NTT Tini Tadeus.[Ant]