Walkot Solo: Masa Depan Atlet Harus Diperhatikan

SOLO — Prestasi gemilang kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2017, di Kuala Lumpur, Malaysia, mendapat sanjungan dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Walikota Solo, Jawa Tengah, FX Hadi Rudyatmo, yang menekankan pentingnya masa depan atlet harus diperhatikan dari pada sekedar bonus.

Walikota yang akrab disapa Rudy melihat kesuksesan para atlet di ASEAN Para Games 2017, tak lepas dari kerja keras mereka. Ironisnya, sejauh ini pemerintah belum mampu memberikan fasilitas yang layak bagi atlet untuk berlatih, dan mengembangkan kemampuan.

“Memang prestasi yang sangat membanggakan. Tapi, yang paling utama adalah memberikan fasilitas dan peralatan yang layak,” kata Rudy, saat ditemui Cendana News, di Bandara Adi Soemarmo, Solo, pada Minggu (24/9/2017) petang.

Sebelum berlaga di Kuala Lumpur, saat berlatih di Solo, para atlet Para Games tidak memiliki peralatan yang memadai. Misalnya, dari cabang lari, atlet tidak memiliki kursi roda yang layak untuk berlatih. “ Masak untuk latihan lari harus pinjam rumah sakit. Pasti tidak jalan, kursi roda untuk lari dengan milik rumah sakit beda, kok. Ini harus diperbaiki,” tegas Rudy.

Pemerintah, lanjut dia, harus lebih peka terhadap apa yang dibutuhkan pejuang bangsa di kancah olah raga. Sebab, jika tidak, minat terhadap olah raga di Indonesia akan semakin minim, jika tidak diperhatikan. Jerih payah atlet yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah Internasional juga harus dipikirkan oleh pemerintah.

“Mereka membawa nama negera, lho. Meski tangannya hanya satu, kakinya tidak sempurna, harus diberi penghargaan. Tidak hanya sesaat, bonus itu kan sifatnya hanya sementara,” imbuh dia.

Ia berharap, pemerintah harus lebih memikirkan masa depan para atlet berprestasi untuk bangsa. Misalnya, diberikan jaminan masa depan yang jelas, dengan menjadikan Pagawai Negeri Sipil (PNS) maupun diberikan pekerjaan yang layak.

“Prestasi mengukir sejarah dan menaikkan bendara merah putrih ini mahal harganya. Jangan memandang ijazah ataupun usia, untuk dijadikan PNS. Kalau zaman saya dulu ada jaminan, kalau tidak PNS, ya kerja di BUMN, jadi Polisi atau TNI,” imbuhnya.

Tidak adanya jaminan masa depan inilah yang membuat meredupnya atlet Indonesia. Tak hanya itu, banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anak-anak mereka untuk bisa mendapatkan ijazah yang tinggi. “Makanya orang tua lebih memilih mengejar Ilmu pengetahuan dibanding olah raga. Usia 44 tidak boleh PNS, jangan dilihat atau diukur dari usia, tapi lihat prestasi yang mengharumkan bangsa indonesia,” tandasnya.

Ditambahkan, Walikota Solo, pada ASEAN Para Games 2017 kali ini, Solo mengirimlan 11 atlet. Hasilnya pun sangat memuaskan, karena seluruhnya berhasil memperoleh mendali emas. “Ada yang dapat dua emas sekaligus, ada yang satu. Prestasi luar biasa ini tentunya diimbangi dengan fasilitas diperbaiki dan jaminan masa depan yang jelas,” tutupnya.

Lihat juga...