Usaha Camilan di Kelawi Andalkan Pemasaran Ratusan Warung

LAMPUNG – Sejumlah pemilik usaha kecil camilan di wilayah Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni terus berkembang sebagai usaha rumahan yang memberi keuntungan bagi pelaku usaha tersebut.

Rohman (25) salah satunya menyebut usaha kecil yang ditekuninya merupakan jenis usaha pembuatan camilan dengan modal kecil serta peralatan sederhana dan sistem penjualan mengandalkan sumber daya sendiri. Sebagai wiraswastawan Rohman menyebut usaha kecil yang digelutinya merupakan usaha makanan yang masih menjadi kebutuhan masyarakat sekitar setiap hari.

Bermula saat dirinya bekerja di Jakarta dan merasakan makanan kecil berupa kerupuk pada sebuah rumah makan dengan kesederhanaan kemasan namun rasa yang lezat, setelah kembali ke kampung halamannya di Desa Kelawi dan menikah dengan Septi (24), keduanya sepakat memulai usaha kecil dengan modal awal sekitar 200 ribu. Awalnya membeli bahan baku dari pasar lalu digoreng sendiri. Selanjutnya dilakukan proses pengemasan. Lalu dilakukan proses distribusi ke sejumlah warung.

“Niat saya memang ingin bekerja tanpa terikat dengan orang lain, sebelumnya sebagai karyawan. Saya ingin memberikan pekerjaan bagi istri serta warga sekitar yang saya libatkan dalam pekerjaan pembuatan camilan,” terang Rohman, salah satu pemilik usaha camilan di Dusun Kelawi I, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Selasa (12/9/2017).

Awalnya, ia juga sempat bersiskusi dengan sang isteri termasuk keluarganya terkait keputusan membuat camilan yang semula dianggap sebagai bisnis yang tak menghasilkan uang besar. Ia mencoba menepis persepsi tersebut. Akhirnya bisa mantap menekuni usaha camilan dengan rata-rata per hari bisa mengirim sebanyak 100 pack berbagai jenis kerupuk camilan. Masing-masing dijual di warung seharga Rp8 ribu berisi sebanyak 10 kemasan kecil camilan dengan harga jual hanya Rp500 per bungkus. Produk serupa sebelumnya seharga Rp1000 justru kurang laku untuk pangsa pasar anak-anak.

Salah satu warung kecil yang menjual produk camilan buatan Rohman. [Foto: Henk Widi]
Ia yakin bisa meraih kesuksesan dengan melakukan pembuatan berbagai camilan tradisional di antaranya kerupuk gandum, ceriping pedas manis, kerupuk pasir, kerupuk jengkol, kerupuk ikan, opak balado serta beberapa jenis camilan yang banyak disukai sekaligus terjangkau harganya bagi anak-anak. Terlebih memang banyak sekolah dari tingkat TK hingga SMA yang ada di wilayah tersebut.

Ia menyebut, pada awalnya melakukan penjajakan soal kualitas rasa produk camilan yang dijualnya hingga sampai ke pelanggan. Proses pengemasan diakuinya dilakukan bersama sebanyak enam karyawan yang bekerja mulai dari proses penggorengan bahan baku hingga matang serta pengemasan. Khusus bagian distribusi dan pencarian pelanggan Rohman pun tak segan berkeliling lintas kecamatan dan kabupaten untuk melakukan perluasan cakupan distribusi sekaligus memperkenalkan produk.

“Saya mencari jaringan baru untuk menciptakan pasar tersendiri dan memberikan layanan yang prima kepada pemilik warung yang merupakan pelanggan pertama selanjutnya konsumen masyarakat,” ungkapnya.

Ia menyebut, meski memiliki pesaing dengan produk yang sama namun dengan kualitas produk yang dilakukan dengan proses pengemasan yang lebih baik, sebagian warung akhirnya secara berkelanjutan memesan produk camilan miliknya. Ia bahkan menyebut melalui proses perizinan di tingkat desa hingga melalui dinas kesehatan untuk keamanan produksi camilan miliknya telah dilalui sehingga ia yakin camilan miliknya cukup aman.

Setahun menjalankan usaha miliknya dengan tekun ia mampu memperoleh omzet sekitar Rp800 ribu sekali pengiriman ke puluhan warung dan mulai terus mengembangkan usaha tersebut sekaligus menambah produk camilan yang dijualnya. Ia mengaku, produk camilan sudah memiliki pasar tersendiri khususnya bagi masyarakat pedesaan dan sekolah.

Bermula dari proses pendistribusian menggunakan kendaraan roda dua akhirnya kini bisa mengangsur kendaraan roda empat yang bisa membantu dalam memasarkan hasil usaha pembuatan camilan. Selain itu, dengan adanya pengirim kerupuk dengan roda dua ikut membantu memasarkan produk camilan ke sejumlah warung. Ketekunan serta pantang menyerah dengan memulai usaha kecil menjadi kunci agar usahanya tetap berkembang hingga sekarang dan mulai memiliki cakupan distribusi yang lebih luas.

“Menciptakan produk terbilang gampang-gampang susah apalagi jika produk serupa juga diproduksi oleh pemilik usaha lain sehingga saya harus terus meningkatkan kualitas dan strategi pemasaran,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, selain menginginkan memiliki mata pencaharian tetap dari usaha camilan, dirinya bisa ikut memberdayakan kaum ibu rumah tangga di wilayah tersebut yang sebagian tidak memiliki pekerjaan saat anak-anak sekolah. Selain memberikan sumber penghasilan harian juga bisa memberikan waktu yang luang bagi istrinya yang bisa mengawasi anak tanpa meninggalkan pekerjaan. Ia juga akan terus berupaya melakukan peningkatan produksi yang akan berimbas pada peningkatan objek penjualan.

Proses pengemasan produk camilan rumahan yang ditekuni oleh Rohman. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...