Tradisi Takiran Jelang Satu Muharam di Penengahan Lamsel Masih Lestari
LAMPUNG — Ratusan warga Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan mulai berdatangan di pertigaan jalan desa dengan membawa berbagai makanan yang telah diolah oleh kaum ibu rumah tangga selanjutnya dibawa oleh anak anak dan para suami ke pertigaan jalan desa setelah maghrib.
Tradisi tersebut oleh masyarakat dikenal sebagai takiran atau membawa makanan berupa nasi, berbagai jenis lauk dengan tujuan mengucapkan rasa syukur atas tahun yang lewat dan mengharap berkah pada tahun baru Islam yang akan dihadapi.
Menurut H. Nasruloh, selaku pamong atau Kepala Dusun Sumbersari, tradisi tersebut digelar setiap tahun pada malam pergantian tahun baru Islam. Menurut kalender, Tahun Baru Hijriah tahun ini jatuh pada Kamis, 21 September 2017 dan dalam tradisi masyarakat Sumbersari peringatan malam tahun baru Islam bahkan dirayakan oleh semua lapisan masyarakat dan agama yang tinggal di dusun tersebut.
“Kami mempertahankan tradisi ini sejak puluhan tahun silam dengan acara memasak berbagai menu dan dibawa untuk didoakan bersama selanjutnya dibawa ke rumah masing masing,” terang H. Nasruloh Kepala Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu malam (20/9/2017).
H.Nasruloh juga menerangkan, sebelum kegiatan membawa makanan tersebut ke pertigaan jalan desa sebagian ibu rumah tangga sejak sore sudah mempersiapkan semua jenis makanan yang sebagian dibungkus dengan daun pisang dan dibungkus sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Pada beberapa tahun sebelumnya saat wadah wadah plastik belum dikenal selain bungkus daun pisang tatakan atau nampan tempat meletakan nasi dan berbagai lauk dibuat dari bambu dan pelepah pisang dan menjadi acara yang sangat ditunggu anak anak.
Seiring berjalannya waktu dan sisi kepraktisan sebagian masyarakat Dusun Sumbersari dengan jumlah kepala keluarga mencapai 120 kepala keluarga bahkan saat melakukan takiran mulai menggunakan kertas nasi sebagian bahkan menggunakan kotak nasi. Kepraktisan tersebut diakuinya tidak mengurangi kemeriahan dan rasa syukur atas tahun terlewat dan tahun yang akan dilalui.
“Penyelenggaraan acara takiran menjadi wujud bersatunya masyarakat dari berbagai usia menyatu dalam kebersamaan dan berdoa bersama bahkan tanpa memandang suku dan agama,” tegas Hj.Nasruloh.

Bandi, warga Dusun Sumbersari menyebut hingga usianya menginjak umur 30 tahun dirinya sudah mengikuti tradisi takiran sejak dirinya masih kecil dan tradisi tersebut sangat disukai anak-anak setelah didoakan oleh pemuka agama Islam dan Katolik semua mengambil takaran makanan yang dimasukan dalam wadah daun pisang serta wadah lain.
“Tradisi ini sudah lama kami pertahankan sekaligus mengajarkan anak anak menghargai kearifan lokal dan keberagaman,” beber Bandi.
Permohonan keselamatan menjelang tahun baru Hijriyah tersebut bahkan masih akan diisi dengan kegiatan kesenian tradisional kuda lumping yang menjadi grup kesenian di dusun tersebut. Kegiatan kesenian yang masih dipertahankan sebagai rasa syukur masyarakat Dusun Sumbersari memohon keselamatan bagi warga yang tinggal di wilayah tersebut.