Rumah Akar Raja Baca Mengakarkan Seni dan Literasi
LAMPUNG — Kepedulian akan nilai historis daerah Lampung dan kecintaan akan dunia seni budaya dan literasi, mendorong warga Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan menggagas rumah baca berkonsep alam dan lingkungan, tanpa meninggalkan kearifan lokal setempat yang dikenal sebagai tempat tinggal Pahlawan Nasional Raden Intan II.
Sebagai warga asli Lampung, laki-laki bernama Khaja Muda dengan nama asli Febrial Gelar Raja Muda (33), menyulap sudut rumah tinggalnya menjadi rumah baca yang asri dengan ornamen tradisional terbuat dari akar, kayu, atap daun rumbia serta benda fungsional rak buku dan meja terbuat dari kayu.
Ditemui di rumahnya yang lebih menyerupai sebuah galeri seni, laki-laki yang dikenal sebagai pegiat kesenian Lampung tersebut mengaku sudah lama menekuni bidang seni dan peduli pada tradisi nenek moyang yang ditransformasikan dalam aktivitas sehari-hari, hingga dirinya tergerak untuk membuat rumah baca yang kini menjadi tempat berkumpul anak-anak untuk aktivitas membaca dan membuat karya seni.
Bak gayung bersambut, keinginan mulia putra asli Lampung tersebut dilihat oleh Nuri Sibly, founder Rumah Akar Indonesia, yang memiliki beberapa rumah akar di sejumlah provinsi di Indonesia, salah satunya di Desa Kuripan dengan nama Rumah Akar Raja Baca.
Pemilihan nama tersebut, diakuinya sangat melekat erat dengan nama Gunung Rajabasa yang tepat berada tak jauh dari Desa Kuripan, dan menjadi saksi perjuangan Pahlawan Nasional Raden Intan II yang peninggalannya masih dipertahankan hingga kini dengan adanya bangunan lamban balak (Rumah besar).
“Kecintaan saya pada seni, budaya, tradisi akhirnya sejalan dengan gerakan literasi atau menumbuhkan minat baca di masyarakat sejak dini, dengan penambahan buku-buku yang saya beli dari menjual benda-benda seni kreasi tangan saya, dan buku-buku tersebut ditambah dengan bantuan buku dari donatur,” terang Khaja Muda, saat ditemui di rumahnya, Rumah Akar Raja Baca di Kuripan, Sabtu (30/9/2017).
Febrial yang kini masih terus menekuni pembuatan benda-benda seni, di antaranya berupa akar-akar berbagai jenis pohon yang ditemukannya di gunung, pantai dan beberapa tempat lain yang memiliki nilai seni dipadukan dengan pernis dan pelitur. Ia mengaku, hingga kini masih membuat pelatihan kepada anak-anak yang belajar di rumah akar raja baca berupa pembuatan tuping atau topeng berbahan serbuk kayu sisa gergajian, yang dicampur dengan lem kayu dipadukan dengan ijuk pohon aren sebagai pelengkap tuping.
Rumah akar raja baca yang berada tepat di bawah pohon mangga dan rambutan miliknya tersebut, dibuat dengan kirai dari bambu temiang tempat menaruh tulisan “Rumah Akar Raja Baca” terbuat dari akar tanaman yang diambil dari pesisir pantai, tidak seperti rumah baca pada umumnya yang terbuat dari bangunan permanen. Peneduh dari plastik transparan ditutup dengan daun kelapa kering, sehingga sirkulasi udara tetap terjaga bagi anak-anak yang berkunjung ke rumah akar raja baca miliknya.
“Saya membuat tempat yang pertama nyaman bagi saya sendiri, sehingga anak-anak yang berkunjung ke sini untuk membaca dan belajar membuat benda-benda seni cukup nyaman dan betah berlama-lama di rumah akar raja baca,” terang Febrial.
Hingga kini, ia menyebut buku yang ada di rumah akar raja baca miliknya saat ini berjumlah sekitar 500 buku didominasi bacaan anak-anak, komik sains, sejarah, budaya dan buku-buku yang banyak diminati anak. Penyimpanan buku bacaan yang memanfaatkan rak buku, dibuat dari beberapa bahan daur ulang bekas kayu tidak terpakai di lokasi penggergajian kayu yang ada di wilayah tersebut, dan dikerjakan secara manual sehingga memiliki nilai artistik yang tinggi.
“Anak-anak usia sekolah umumnya datang pada sore bahkan malam hari untuk membaca buku serta sebagian belajar membuat benda seni dari kayu bekas”, terang Febrial.
Selain menularkan literasi, laki-laki yang menyukai seni tersebut juga kerap membuat berbagai tulisan dari kayu secara artistik menggunakan akar sebagian dibuat dengan aksara Lampung sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya Lampung dalam bidang tulisan.
Pelatihan penulisan aksara Lampung yang dikreasikan dalam pembuatan nama-nama terbuat dari kayu tersebut, menjadi program akhir pekan selain pembuatan tuping atau topeng dari bahan bekas berupa kardus dan serbuk gergaji.
Ia menyebut, pembuatan benda seni berupa tuping sekaligus mengenalkan kepada generasi muda akan sisi historis, tradisi dan budaya masyarakat Lampung, khususnya di kaki Gunung Rajabasa yang sangat berkaitan erat dengan perjuangan pahlawan Raden Intan II.
Selama proses pembuatan tuping, ia menyebut memanfaatkan barang bekas berupa kardus yang dibuat pola, lalu diberi serbuk gergaji dengan 12 topeng berbagai warna dan karakter berbeda. Sesuai dengan nilai sejarahnya, tuping 12 wajah Keratuan Darah Putih tersebut merupakan simbol 12 pasukan gerilya Raden Intan, sehingga tujuan pembuatan tuping memiliki sisi pendidikan, sosial, seni budaya, sejarah perjuangan pahlawan Raden Intan II.
“Selain mengajarkan proses pembuatan tupingnya, saya juga mengajarkan anak-anak sejarah karakter tuping pada masa perjuangan Raden Intan II saat melawan penjajah”, terang Febrial.
Ia juga menyebut, dari semula tidak mengenal karakter tuping sekaligus tempat ditugaskannya pasukan gerilya Raden Intan II, kini sebagian mulai mengenal karakter kedua belas tuping. Berdasarkan sejarahnya, kedua belas tuping yang ada tersebut di antaranya, Tuping Ikhung Tebak (hidung melintang), Ikhung Cungak (hidung mendongak), Luah Takhing (keluar taring), Jangguk Khawing (janggut panjang tidak teratur), Banguk Khabit (mulut sompel), Bekhak Banguk (mulut lebar), Mata Sipit (mata sipit), Banguk Kicut (mulut mengot), Pudak Bebai (muka perempuan), Mata Kedugok (mata ngantuk), Mata Kicong (mata sebelah), Ikhung Pisek (hidung pesek).
Sebagai sebuah karya seni yang mengandung sisi historis ia menyebut saat ini seni tari tuping menggunakan tuping tersebut masih dipertontonkan pada kegiatan perkawinan, khitanan, festifal sekaligus sebagai hiburan bagi masyarakat banyak khususnya di Lampung Selatan.
Beberapa benda seni hasil buatannya bahkan dibeli para pecinta seni dengan harga mulai Rp25ribu hingga ratusan ribu yang hasilnya bisa dipergunakan untuk membeli buku buku bacaan sebagai koleksi rumah akar raja baca.
Kecintaannya pada seni berhubungan dengan kegiatan literasi bahkan diakuinya dalam waktu dekat akan mendorong pemerintah daerah untuk kekayaan budaya berupa penggunaan aksara Lampung atau dikenal Ka Ga Nga dibuatkan peraturan daerah (Perda) dalam penggunaan aksara dengan fokus tempat wisata, nama nama jalan, sekaligus penggunaan Siger dalam beberapa tempat komersial serta fasilitas umum di Lampung Selatan.
Pemilik rumah Akar Raja Baca tersebut mengaku kegiatan literasi melalui buku buku bacaan merupakan langkah untuk memperkenalkan dan pintu masuk generasi muda untuk mencintai budayanya, dengan proses pembuatan karya seni berupa tuping dan pemanfaatan barang bekas menjadi karya seni. Ia berharap, rumah baca miliknya semakin dikenal orang.
Febrial atau Khaja Muda sedang menyelesaikan proses pembuatan tuping di rumah akar raja baca Desa Kuripan Kecamatan Penengahan. [Foto: Henk Widi]
Karakter tuping yang dibuat oleh Febrial merupakan tuping simbol 12 pasukan gerilya Raden Intan II pahlawan nasional asal Lampung . [Foto: Henk Widi]
Anak-anak membaca buku di rumah akar raja baca pada malam hari dengan berbagai buku bacaan yang disiapkan. [Foto: Henk Widi/Ist]
Anak-anak muda yang ada di sekitar rumah akar raja baca mengerjakan tuping dengan bahan bekas. [Foto: Henk Widi]