PP Persis: Jangan Nagih-nagih Perlu PKI di Indonesia

JAKARTA — Ketua Pembina Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Maman Abdurrahman menyebutkan, perbincangan mengenai isu Partai Komunis Indonesia (PKI) biasanya mencuat jelang 30 September, yang dikenal dengan G30S/PKI.

Padahal, kata Maman, sudah tercakup dalam UUD 45, Pancasila adalah dasar negara dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. “Kan PKI tidak percaya adanya Tuhan, mau apa lagi? Oleh karena itu, PKI tidak pada tempatnya di Indonesia, karena di sini sudah Pancasila. Jangan nagih-nagih perlu PKI di Indonesia,” tegas Maman kepada Cendana News di Jakarta, Jumat (22/9/2017).

Selain itu, TAP MPRS No.25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, mesti dijaga oleh komponen negara, dan tidak ada pertentangan lagi mengenai PKI. Artinya, tegas Maman, secara UU sudah terlarang dan kalau kemudian ada orang yang ingin menghidupkan kembali PKI, itu bertentangan dengan Pancasila.

“Jadi kalau sekarang orang yang ngomong PKI boleh. Menurut saya, itu adalah tidak memahami filosofi bangsa dan negara ini. Apalagi UU, belum lagi kalau dilihat dari aspek sosial yaitu mayoritas di Indonesia umat Islam yang menolak keberadaan atheisme,” tukasnya.

Kalau kemudian, ada seminar bilang PKI itu korban. Itu memutarbalikkan sejarah. Coba baca tulisan-tulisan sejarawan, tidak ada dari dulu yang menyalahkan keganasan PKI. Menurut Maman, memutarbalikkan fakta sejarah adalah kebohongan besar, dan patut dikenakan hukuman.

Film G30S/PKI dikatakan pemutarbalikan fakta sejarah yang dilakukan oleh Pak Harto, itu juga terbalik pendapatnya.

Kalau Pak Harto melawan para kudeta. Itu memang tugasnya sebagai seorang jenderal harus menjaga keamanan negara. Apalagi para korban adalah teman-temannya, yaitu tujuh orang jenderal dibunuh dimasukkan ke sumur di Lubang Buaya.

Sangatlah tidak mungkin, kata Maman, Pak Harto membuat film G30S/PKI tanpa melihat fakta. Toh, Lubang Buaya nyata-nyata sebuah pembuktian sejarah telah terjadi kudeta yang dilakukan PKI.

“Pak Harto itu sudah tampil mengambil kebijakan, beliau telah berjasa bagi Indonesia menghancurkan PKI. Bukti sejarahnya ada kok para jenderal dibunuh dimasukkan ke Lubang Buaya. Monumen Pancasila itu bukti sejarah. Artinya keduta itu benar terjadi,” tegas Maman.

Maman pun menyebutkan bukti sejarah lainnya adalah di Jawa Timur ada tempat dimana ratusan santri dibunuh oleh PKI, dan dikubur massal.

Dia mengaku pernah melihat satu momentum di Jawa Timur, tertulis mereka yang terbunuh itu yang dimasukkan ke jurang sumur oleh PKI. “Masa orang membuat momentum berbuat dusta. Jadi yang berdusta itu siapa nanti juga terlihat. Ya kalau tidak sekarang di akhiratlah,” ujar Maman.

Maman pun akan berdoa supaya mereka yang mengatakan film G30S/ PKI itu pemutarbalikan fakta sejarah, agar dapat hidayah. “Tolong berpikir apa benar itu dusta atau Anda yang pendusta. Jadi menurut saya jangan memutarbalikan sejarah, bertobatlah tinggalkan itu keyakinan yang tidak sesuai dengan Pancasila,” tegasnya.

Maman pun menyambut baik dengan wacana akan diputar kembali film G30S/PKI. Bahkan dia mengaku dalam ceramahnya di masjid di Bandung, Jawa Barat, dirinya menganjurkan agar umat atau masyarakat untuk nobar film tersebut. Karena film itu menurut dia, adalah pembuktian sejarah bangsa Indonesia. Yakni pertama, mengenai kejahatan pemberontakan PKI, kedua terjadinya genosida terhadap ulama dan santri, dan ketiga pembuktian para pejuang Muslim ingin menegakkan NKRI.

“Saya akan kerahkan umat untuk nonton film G30S PKI. Saya sudah sampaikan dalam ceramah saya di Bandung. Rencana nobar dimananya masih disusun, baiknya sih ditempat luas. Insyaallah saya akan ajak keluarga,” pungkas Maman.

Lihat juga...