Ini Cara Petani Agar Kakao Tetap Produktif
LAMPUNG – Musim kemarau di wilayah Lampung yang sudah berlangsung hampir satu bulan terakhir, menyebabkan sejumlah komoditas tanaman pertanian kekurangan air, di antaranya tanaman kakao.
Sodik, salah satu petani kakao atau kopi coklat di wilayah Dusun Cekah, Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan, mengaku terpaksa memusnahkan sebagian tanaman kakao miliknya dengan cara ditebang akibat produksi kakao yang tidak memuaskan, dan memilih mengganti tanaman kakao dengan yang baru dan sebagian diganti tanaman lain.
Sodik yang memiliki tanaman kakao di aliran Sungai Way Pisang, menyebut kurangnya pasokan air di beberapa titik kebun miliknya berimbas penurunan produksi buah kakao yang memasuki masa panen. Penurunan produksi tersebut terjadi pada lahan setengah hektare miliknya yang dipanen sepekan sekali, biasanya menghasilkan 10 kilogram buah kakao gelondongan kini hanya mampu menghasilkan 5 kilogram.
“Panen kakao puncaknya terjadi pada bulan ini, namun beberapa tanaman kakao yang saya miliki diserang hama kutu putih dan tupai, imbasnya produksi buah kakao menurun, meski masih bisa saya panen dengan hasil masih bisa saya nikmati,” tegas Sodik, Senin (25/9/2017).

Petani kakao di Dusun Sideder, Desa Banjarmasin, Sahrul, juga terpaksa memusnahkan puluhan tanaman kakao miliknya dengan cara membakar akibat menurunnya produksi, ditambah hama kutu dan tupai. Sahrul menyebut akan merombak tanaman kakao miliknya dengan tanaman jagung dan sayuran untuk menghasilkan uang lebih cepat dibandingkan dengan menanam kakao.
“Saat kemarau melanda tanaman kakao juga sedang menggugurkan daunnya, sehingga produksi tidak banyak akhirnya saya memilih untuk mengganti dengan tanaman lain yang lebih produktif,” beber Sahrul.
Beberapa petani komoditas kakao yang mengalami kendala dalam pengelolaan lahan kakao dan mengeluh menurunnya produksi buah kakao tersebut justru tidak dialami oleh Khoirul Saleh, warga Dusun Tarikolot, Desa Tanjungheran, yang justru tengah melakukan panen raya pada tanaman kakao yang ditanamnya.
Pemilik dua hektar lahan kakao tersebut mengaku melakukan proses pemanenan setiap empat hari sekali dengan jumlah 11 karung kakao gelondongan dengan berat rata-rata per karung mencapai 20 kilogram. Setelah dipanen dengan bantuan dua pekerja, dirinya melakukan proses pengupasan buah kakao dan memisahkan dengan cangkang, selanjutnya dilakukan proses fermentasi dalam sebuah ember dan karung.
“Fermentasi dilakukan untuk memisahkan biji kakao dengan bagian hati, agar lebih mudah dan menjaga kualitas kakao dari serangan hama jamur”, terang Khoirul Saleh.
Di saat petani kakao lain mengeluhkan penurunan produksi laki-laki yang pernah mengikuti sekolah lapang pertanian dalam budidaya kakao dari Kementerian Pertanian tersebut mengaku mendapat penyuluhan tentang peningkatan produksi kakao. Tanaman kakao sekitar ribuan batang miliknya diakui diperoleh dari bibit bermutu dan pola perawatan yang intensif sehingga tetap berproduksi dengan baik.
Saleh, demikian ia dipanggil, menyebut tanaman kakao mulai memproduksi buah pada umur 2,5 tahun setelah tanam, dan pembuahan pada tahap pertama sengaja dibuang tanpa dipanen. Produktivitas buah pada tahun berikutnya akan semakin meningkat dengan penambahan pupuk jenis Phonska dan sekaligus penyemprotan hama kutu dan busuk buah dengan obat-obatan khusus yang sebagian diramu dari bahan organik.
Salah satu trik yang dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi buah kakao miliknya dengan cara pemangkasan ranting dan penjarangan buah. Pemangkasan ranting tersebut diakuinya memberi dampak pada pertumbuhan bunga baru dan penjarangan buah dilakukan untuk memberikan kesempatan pada buah lain mendapat nutrisi cukup dari pohon.
“Dalam satu pohon maksimal bisa berbuah sekitar dua puluh buah, namun banyak petani sayang membuang beberapa buah yang tidak bagus. Namun saya buang buah yang kecil dan menempel di batang atau ranting berdekatan”, ungkap Khoirul Saleh.
Pola pemetikan buah yang benar diakuinya kerap tidak diperhatikan dengan cara memelintir buah kakao, sehingga mengakibatkan kerusakan batang dan berimbas pada penurunan produksi kakao yang ia miliki. Cara aman yang dilakukan olehnya dengan menggunakan gunting steril dan setelah dipanen buah kakao tersebut dimasukkan dalam ember atau karung untuk proses pengupasan dan penjemuran.
Setelah proses pemetikan, dilakukan pengupasan, proses penyimpanan dengan fermentasi dan dijemur hingga kadar air berkurang hingga 5 persen, meski kerap dalam kondisi kadar air mencapai 17 persen dirinya sudah menjual kakao miliknya ke pengepul.
Khoirul Saleh menyebut menjemur kakao miliknya selama hampir empat hari dalam kondisi cuaca panas sudah bisa dijual dengan harga pasaran saat ini mencapai Rp22 ribu. meski harga kakao di pasaran dunia diakuinya bisa mencapai Rp35 ribu. Selisih yang tinggi tersebut sesuai dengan mata rantai distribusi dari petani, pengepul kecil, pengepul besar hingga eksportir yang rata-rata mengambil keuntungan sebesar Rp3 ribu dengan adanya penyusutan dan memperhitungkan kadar air.
Omzet jutaan rupiah diakuinya diperoleh dengan harga jual sekitar Rp22 ribu per kilogram, bahkan untuk panen sekitar 100 kilogram saja dirinya sudah mendapatkan hasil Rp2,2 juta. Panen kakao yang kerap dijual sepekan sekali dengan jumlah 50 kilogram tersebut diakuinya harus cepat dijual, karena dirinya mengaku tidak memiliki alat penyimpanan khusus untuk kakao kering serta kebutuhan ekonomi, sehingga harus menjual kakao miliknya.
Ia menyebut, pola tanam dan perawatan yang benar membuat petani kakao bisa memperoleh hasil maksimal dan bisa digunakan sebagai investasi menjanjikan.