Penuhi Kebutuhan Pangan, Petani Perlu Beralih ke Penerapan Teknologi
MAUMERE — Untuk bisa bersaing, petani di provinsi NTT perlu mengubah sistem pertanian dari tradisional menjadi modern dengan menerapkan teknologi. Petani tidak dapat terus hanya mengandalkan sumber daya alam tetapi perlu meningkatkan sumber daya manusianya.
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) provinsi NTT, Dr.Ir Syamsuddin, MSc menyebutkan, tidak ada yang salah dengan sistem pertanian tradisional, bahkan kita perlu belajar banyak dari kearifan lokal tersebut dimana sistem ini masih bisa dipertahankan selama sumber daya alam masih tersedia cukup dan bisa menjawab kebutuhan masyarakat yang dinamis.
“Namun dalam kenyataannya pertumbuhan penduduk yang pesat telah menyebabkan tuntutan kebutuhan pangan meningkat dan sulit dipenuhi dengan sistem pertanian tradisional,” ujarnya saat kegiatan temu lapang dan panen perdana jagung komposit Srikandi kuning di desa Kolisia kecamatan Magepanda Jumat (29/9/2017).

Bahkan pengurasan sumber daya alam terus berlanjut kata Syamsuddin, yang mengakibatkan input yang dikembalikan ke alam tidak sebanding dengan output yang diambil masyarakat.
Oleh karena itu diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjamin keberlanjutan sistem pertanian dan memenuhi kebutuha pada tingkat keamanan lingkungan yang dapat diterima.
“Badan Litbang Pertanian mempunyai komitmen yang kuat untuk mempercepat ahli teknologi kepada pengguna dan membangun saling keterkaitan yang erat dan sinergis dengan semua institusi yang berhubungan dengan pembangunan pertanian,” tegasnya.
Temu lapang dan panen perdana jagung Komposit Srikandi kuning terang Syamsuddin, bukan saja sebagai media bertemuanya aparat pemerintah, peneliti dan petani tetapi mengandung komitmen menyukseskan program ketahanan pangan wilayah perbatasan berorientasi ekspor.
Khusus kabupaten Sikka, untuk mendukung program desa mandiri benih melalui peningkatan calon penangkar di NTT, BPTP NTT tahun 2017 ini melakukan kegiatan pendampingan pengembangan model penyediaan benih yang hasilnya telah dipanen bersama di desa Kolisia hari ini.
“Kami yakin Tuhan mempunyai rencana indah dengan memberikan lahan kering yang luas dimana lahan ini akan mendatangkan kebaikan dan kesejahteran bagi kita semua jika kita mampu melihat dan menggali potensi yang ada didalamnya dengan sungguh-sungguh,” tuturnya.
Sementara itu bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera mengatakan, Kolisia merupakan wilayah desa yang dari dulu menjadi tempat atau model percontohan, baik tanaman yang baru maupun lokasi untuk pembibitan, apalagi pada kondisi saat ini sejalan dengan swasembada pangan nasional.
Dengan tanaman komoditi yang utama yakni Pajale atau padi, jagung dan kedelai secara serentak di seluruh Indonesia ucap Ansar merupakan upaya khusus pemerintah untuk meningkatkan kesejereaan masyarakat termasuk di kabupaten Sikka yang ditangani langsung oleh Kodim 1603 Sikka dan ini sudah dilaksanakan dengan luar biasa.
Hadir pada kesempatan ini Danlanal Maumere Kol. Marinir Sumantri, Dandim 1603 Sikka Letkol Inf.Abdullah Jamali,SIP, Kadis pertanian kabupaten Sikka Hengki Sali, kepala tata usaha BTP NTT Drs.Jemi Banoe, ketua panitia temu lapang Ona de Rosari, para penyuluh pertanian serta warga masyarakat desa Kolisia.