Pembudidaya Udang Vaname Manfaatkan Kemarau untuk Bersihkan Tambak

LAMPUNG — Musim kemarau yang berlangsung dari akhir Agustus 2017 di wilayah Lampung mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Tidak hanya negatif, dampak positif juga dirasakan pembudidaya udang yang memanfaatkannya untuk membersihkan tambak.

Menurut Chicko, salah satu penanggungjawab tambak seluas empat hektar di tepi pantai Totoharjo milik salah satu pengusaha, musim kemarau justru dimanfaatkan petambak untuk mengistirahatkan masa budidaya udang dan menyiapkan petak petak tambak udang tersebut.

Lahan tambak sebanyak sepuluh petak yang biasanya dipergunaka terpaksa hanya diaktifkan pada dua petak besar dengan sistem sedot air laut menggunakan mesin pompa. Sementara air tawar diambil dari aliran mata air pegunungan Rajabasa untuk mendapatkan air payau berkualitas dengan sistem pipanisasi. Pipanisasi tersebut juga masih dibantu dengan proses pengaturan sirkulasi air menggunakan mesin khusus sehingga kondisi air yang ada di dalam setiap petak tambak terjaga kondisinya.

“Sementara sengaja kita istirahatkan beberapa petak yang sebelumnya memang selesai panen dikeringkan lalu ditumbuhi dengan rumput liar selanjutnya dibersihkan dengan cara dibakar untuk menyuburkan lahan,” terang Chicko saat ditemui Cendana News tengah menyelesaikan proses pembersihan lahan tambak, Minggu (10/9/2017).

Chicko, penanggungjawab lahan tambak salah satu pengusaha tambak di Dusun Sumbermuli Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lamsel [Foto: Henk Widi]
Beberapa petak tambak yang sengaja ditumbuhi rumput dan semak tersebut selama musim penghujan dan kini tiba musim kemarau menjadi kesempatan untuk tumbuhnya berbagai jenis rumput dan saat proses pembusukan ditambah dengan taburan dolomit akan merangsang pertumbuhan plankton pakan alami udang.

Pada lahan tambak tersebut Chicko menyebut menebar sekitar 10ribu benih dengan prediksi panen size 60 dengan harga yang saat ini bisa mencapai Rp80ribu perkilogram yang cukup menjanjikan bagi pemilik tambak saat memasuki masa panen.

Musim kemarau diakui Chicko sekaligus memudahkan petambak membersihkan lahan tanpa menggunakan zat kimia karena sebagian besar rumput yang mengalami kekeringan bisa segera dibakar. Selanjutnya setelah proses pembakaran akan dilakukan pengisian air laut dan air tawar untuk membentuk lumpur secara alami sekaligus menjadi media berkembangnya pakan alami.

“Kemarau secara positif bermanfaat untuk mematikan gulma berupa rumput dan tanaman pengganggu sehingga biaya operasional untuk pembersihan lahan bisa ditekan,” ungkap Chicko.

Lokasi pertambakan di wilayah tersebut diakui Chicko cukup strategis karena berada di dekat dengan laut dan kanal kanal yang mudah diatur proses sirkulasi airnya untuk air yang akan dibuang serta air yang akan dipergunakan untuk budidaya sehingga tidak terjadi percampuran air bersih dan air kotor. Hasil dari proses pengaturan saluran air untuk budidaya udang vaname tersebut membuat kualitas udang vaname di wilayah tersebut cukup baik dan banyak diminati oleh pembeli dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Setelah proses pembersihan lahan dilakukan ia menyebut proses penyiapan lahan akan segera dilakukan karena dengan datangnya kemarau tanaman gelagah air, pandan air serta tanaman lain di sekitar tambak yang menjadi lokasi persembunyian hewan pemangsa mudah dimusnahkan. Sebagai lahan tambak semi intensif wilayah tambak di Desa Totoharjo diakuinya cukup strategis karena dekat dengan akses jalan raya memudahkan akses distribusi pakan hingga saat panen.

Salah satu pekerja tambak mengatur sirkulasi air tambak budidaya udang vaname menggunakan air laut dan air tawar Gunung Rajabasa [Foto: Henk Widi]
Selain menguntungkan melakukan proses budidaya udang vaname saat musim kemarau ia menyebut budidaya udang vaname pada musim kemarau dengan sistem semi intensif dan proses sirkulasi air yang baik justru menguntungkan. Sebab saat musim penghujan dirinya menyebut budidaya udang kerap mengalami serangan virus white spot serta myo yang kerap membunuh udang dengan curah hujan yang tinggi.

“Datangnya musim kemarau bagi pemilik tambak yang dekat dengan sumber daya alam strategis berupa air laut dan air tawar justru sangat menguntungkan,” terang Chicko.

Lihat juga...