Paraga, Seni Tradisi Sulsel yang Hampir Punah

MAKASSAR — Saat bertandang ke rumah H. Alauddin Daeng Kulling yang berlokasi di Sudiang Raya, kecamatan Biringkanaya, terdengar gendang yang ditabuh serta suara suling pui-pui. Beberapa orang terlihat sedang memainkan bola takraw dengan pakaian daerah.

Permainan ini merupakan olahraga tradisional yang disebut paraga atau maraga. Dulu, permainan ini dimainkan oleh para anak raja yang ada di Sulawesi Selatan. Namun, sangat disayangkan permainan tradisional ini akan terancam punah.

Menurut H. Allauddin paraga atau maraga ini dulu merupakan permainan anak-anak raja untuk unjuk kebolehan. “Saya sering memberdayakan pemuda di lingkungan saya untuk mengajari mereka paraga atau maraga untuk melestarikannya, bahkan saya rela untuk tidak dibayar untuk itu”, ungkap H. Allauddin atau yang lebih dikenal dengan nama sapaan Daeng Kulling, di kediammannya, Minggu (24/9/2017).

Permainan paraga Sulawesi Selatan, yang membedakan dengan paraga di daerah lain adalah cara bermainnya. Selain bisa dimainkan sendiri, paraga Sulsel juga biasa dimainkan secara beregu. Bahkan para pemain ini terkadang harus membentuk sebuah formasi piramid yang bisa mengundang bahaya.

Tidak hanya itu, dalam permainan ini pasappu atau ikat kepala yang digunakan, sengaja diisi dengan tepung kanji, agar passappu dapat berdiri tegak agar pemain bisa mengontrol bola di kepala. Tidak hanya pada ikat kepala yang unik, bola takraw yang digunakan juga lain, rotan yang digunakan untuk membuat bola berlapis tiga.

Menurut H. Allauddin, pasappu dan bola takraw sengaja dibuat sedemikian, agar para pemain bisa mengontrol bola takraw tersebut. “Itu semua sudah aturan dari nenek moyang kami sejak dulu dari baju dan juga bola itu sudah dimainkan sejak dulu”, ujar pria 63 tahun itu.

Dalam permainan tradisional paraga sendiri tidak ada peraturan tertentu dalam memainkan permainan ini. Hanya saja menurut kepercayaan orang di Sulsel, jika memainkan permainan ini, para pemain merapalkan mantra atau doa agar para pemain diberikan keselamatan pada saat memainkan bola takraw ini.

Permainan paraga atau lebih dikenal dengan maraga bukanlah pertandingan. Melainkan permainan tradisional unjuk kebolehan dalam mengontrol bola yang terbuat dari rotan. Itulah sebabnya hingga kini acara paraga atau maraga sering ditampilkan di saat-saat tertentu seperti menyambut tamu.

Bapak 6 orang anak ini yang juga pengajar di sanggar tradisional paraga sudiang, berharap agar pemerintah memperhatikan sanggar-sanggar yang ada. “Jangan yang ditampilkan dan ditojolkan hanya sanggar-sangar itu-itu saja”, tutupnya.

Lihat juga...