Padi Siap Panen di Lamsel Kekeringan, Petani Pastikan Penurunan Produksi
LAMPUNG — Ratusan hektare areal persawahan di Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan dilanda kekeringan, sehingga berimbas tanah persawahan mengalami retak retak.
Sementara sebagian tanaman padi yang siap berbuah harus mendapatkan pengairan dari sumur bor menggunakan selang mengatasi kekeringan yang melanda. Tejo, salah seorang petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan mengungkapkan beberapa hektare padi petani sebagian memasuki masa muncul bulir padi, sementara sebagian lagi mulai berisi membutuhkan air.
Tejo menyebut lahan padi miliknya seluas satu hektare memasuki masa pematangan buah dan masih sangat membutuhkan air. Sayangnya semenjak dua pekan terakhir kekeringan melanda berimbas daun padi miliknya mulai menguning dan kering.
Ia bahkan terpaksa menyewa mesin pompa untuk proses penyiraman lahan sawah miliknya menghindari kerugian lebih banyak akibat padi miliknya tidak berisi bahkan mati. Penggunaan mesin sedot untuk penyiraman diakuinya dilakukan untuk membuat padi miliknya berisi sehingga bobot saat dijual akan lebih baik dibandingkan saat kekurangan air.
“Daripada terkena fuso atau gagal panen saya upayakan menyewa mesin sedot air meski mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan padi yang sebentar lagi akan dipanen menunggu padi tua dan menguning,” terang Tejo yang tengah mengalirkan air dari mesin sedot air dari kolam penampungan air sumur bor milik salah satu warga di desa tersebut, Jumat (8/9/2017).
Biaya sewa satu jam mesin sedot air tersebut sebesar Rp30 ribu dengan bahan bakar disediakannya sendiri. Sementara untuk lahan satu hektare dirinya membutuhkan waktu pengairan sekaligus mengalirkan air ke beberapa petak sawahnya selama lima jam.
Selain membutuhkan biaya ekstra hingga ratusan ribu rupiah, dirinya memastikan hasil panennya akan mengalami penyusutan sekitar 40 persen akibat lahan pertanian sawah miliknya kekurangan air.
Pada lahan sawah seluas satu hektar miliknya dengan varietas IR64 Tejo mengaku memperoleh hasil sekitar 8 ton pada masa panen sebelumnya sementara pada masa panen yang diperkirakan akan berlangsung pada akhir September dirinya bisa hanya memperoleh hasil sekitar 7 ton lebih.
Ia menyebut datangnya musim kemarau atau kekeringan terbilang cukup merugikan bertepatan dengan saat tanaman padi membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan bulir padi.
Sementara pada masa tersebut hujan sama sekali tidak turun dan saluran irigasi yang dibuat oleh instansi terkait sebagian sudah rusak dengan beberapa saluran irigasi permanen mengalami keretakan sehingga air dari saluran yang bisa sampai ke lahan persawahan petani terbuang percuma di saluran irigasi.
“Banyak saluran irigasi yang retak dan rusak sejak satu tahun terakhir namun belum mendapat perbaikan dari dinas pekerjaan umum dan juga dari perkumpulan petani pengguna air,” lanjut Tejo.
Ia berharap perhatian terhadap saluran irigasi diperhatikan oleh instansi terkait sehingga petani pengguna air bisa mempergunakan air untuk pengairan lahan sawah yang mereka miliki tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyewa mesin sedot air.
Tejo yang memiliki lahan sawah mendekati masa panen sekitar satu bulan ke depan mengaku lebih beruntung dibandingkan petani lain yang menanam padi lebih lambat dibanding dirinya. Edi, pemilik lahan padi lainnya di desa yang sama bahkan memiliki lahan padi seluas setengah hektar belum memasuki masa berbuah /meratak sehingga dipastikan padi miliknya tidak berbuah akibat kekeringan.
“Padi yang berusia sekitar dua bulan justru dilanda kekeringan sementara saluran irigasi sudah tidak berfungsi dan untuk menyewa mesin pompa atau sedot air jarak antara lahan sawah dan sungai serta sumur bor jauh,” papar Edi.
Ia menyebut hanya pasrah tanaman padi miliknya mengering sehingga dipastikan dirinya tidak akan panen. Meski demikian ia tetap bisa menikmati hasil pertanian lain dari perkebunan kelapa dan perkebunan jagung yang saat musim kemarau tengah memasuki masa panen.

