Kelas Rumah Belajar untuk Anak Pemulung
MAKASSAR – Di ruangan yang luasnya hanya 8x9m ini sering diadakan kelas Rumah Belajar. Setidaknya setiap sore rumah ini selalu dijejali oleh warga yang tinggal di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Borong Jambu, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala. Baik anak-anak maupun orang dewasa suka mengikuti kegiatan rutin yang di adakan di kelas Rumah Belajar ini.
Kelas Rumah Belajar sendiri merupakan program kerja dari Taman Baca yang dikelola oleh Naharia. Setidaknya setiap sore hampir 200 orang memenuhi ruangan yang luasnya tidak seberapa itu. Mereka terdiri dari 3 tingkatan usia seperti anak-anak, remaja dan dewasa.
Menurut Naharia, program itu dijalankan karena berangkat dari rasa prihatin atas banyaknya anak pemulung yang masih putus sekolah.
“Saya merasakan bagaimana menjadi seorang yang putus sekolah. Kebetulan ayah dan ibu saya hanya pedagang sayur dan dulu sekolah dibayari orang karena orang tua saya tidak memiliki biaya,” ungkap Naharia pada Cendana News, Kamis (28/9/2017).
Di kelas belajar sendiri siswanya tidak hanya anak-anak dan remaja saja, bahkan ada juga ibu-ibu rumah tangga. Di kelas belajar materi pengajarannya tidak hanya pengetahuan umum saja, ada juga keterampilan dan pengetahuan agama. Bahkan di kelas rumah belajar ini rutin diadakan pengajian bagi ibu-ibu yang tinggal di sekitar TPA.
Selama 11 tahun berjalannya rumah belajar, banyak hal yang ditemui sebagai pengalaman oleh Naharia. Ia jadi tahu, masyarakat memang kurang kesadarannya dalam menuntut ilmu. Sampai kelas rumah belajar berpindah-pindah tempat karena musibah dan masalah. Akan tetapi Naharia tetap semangat dalam mengelola kelas rumah belajar tersebut.
Naharia menambahkan bahwa dalam mengelola para siswa yang belajar di kelas rumah belajar ini ia relatif sendiri.
“Untuk mengajar saya dibantu oleh seorang saja. Terkadang juga ada mahasiswa dan kalau masalah agama terkadang ada dosen UIN (Universitas Islam Negeri) Tallasalapang untuk memberi ceramah,” jelasnya.
Memang masih banyak kendala dalam mengelola rumah belajar yang diperuntukkan bagi warga dan anak-anak pemulung tersebut. Akan tetapi Naharia bahagia, paling tidak bisa melakukan suatu yang bermanfaat bagi warga yang ada di sekitarnya. Dengan adanya program kelas rumah belajar, paling tidak juga bisa mengubah pola pikir warga yang tinggal di TPA Borong Jambu.
Ke depan Naharia berharap pemerintah bisa melihat usaha dalam memajukan pendidikan bagi anak-anak pemulung tersebut. Setidaknya pemerintah bisa menaruh perhatian lebih pada tempat yang ia jadikan kelas rumah belajar. Saat ini bangunan yang dijadikan kelas rumah belajar juga masih berdinding tripleks tanpa pintu.
“Jika berharap dari tabungan pribadi saya saja itu tidak akan cukup. Maka saya berharap pemerintah bisa memberikan sumbangan untuk membangun kelas rumah belajar ini agar bisa lebih layak lagi,” tutup Naharia.
