Fed Tekankan Pengetatan Moneter Bertahap di Tengah Inflasi
WASHINGTON – Bank sentral diminta untuk memperketat kebijakan moneternya meskipun berlangsung secara bertahap. Hal itu dinilai sebagai kebijakan yang tepat mengingat ketidakpastian seputar inflasi.
Ketua Federal Reserve AS Janet Yellen mengatakan, saat ini inflasi dalam nilai yang lemah dengan tingkat suku bunga riil yang juga rendah.
“Pendekatan pengetatan moneter sangat tepat mengingat inflasi yang lemah dan tingkat suku bunga riil rendah yang netral, yang menyiratkan bahwa FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) hanya memiliki cakupan terbatas untuk memotong suku bunga dana federal jika ekonomi terpukul gunjangan merugikan,” kata Yellen pada pertemuan tahunan Asosiasi Nasional untuk Ekonomi Bisnis, Selasa (26/9/2017)
Pernyataan Yellen tersebut juga mengacu pada implikasi kebijakan di tengah ketidakpastian seputar inflasi dan tingkat suku bunga netral. Dari analisa yang dilakukan, pengetatan moneter yang lebih cepat dapat membahayakan ekspansi ekonomi, sementara bergerak terlalu lambat bisa berisiko terlalu panas, karena pasar kerja terus menguat.
“Ini akan menjadi bijaksana mempertahankan kebijakan moneter berlanjut hingga inflasi kembali ke level dua persen,” tambah Yellen.
Pada Juli, indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, indikator inflasi yang disukai oleh Fed, naik hanya 1,4 persen dari tahun ke tahun, di bawah target Fed dua persen dan juga lebih rendah dari 1,9 persen pada Januari. Indeks telah berjalan di bawah target dua persen selama bertahun-tahun.
Yellen menegaskan bahwa inflasi akan bergerak ke arah target bank sentral dua persen dalam beberapa tahun ke depan, karena the Fed terus secara bertahap memperketat kebijakan moneternya dan pasar kerja terus menguat.
Namun, dia mencatat bahwa prospek tersebut tidak pasti karena “ketidaktepatan inheren” dalam perkiraan penggunaan tenaga kerja, ekspektasi inflasi dan faktor-faktor lainnya.
“Akibatnya, kita perlu memantau dengan hati-hati data yang masuk dan, sesuai kebutuhan, menyesuaikan atau menilai prospek dan sikap kebijakan moneter yang sesuai,” pungkasnya. (Ant)