LAMPUNG – Komoditas lada atau merica atau dikenal dengan tanaman sahang menjadi salah satu hasil pertanian paling banyak dibudidayakan di Provinsi Lampung sejak ratusan tahun silam terutama jenis lada rambat. Hingga kini pula dibudidayakan para petani di lahan perkebunan melalui pola tanam tumpangsari dengan tanaman jenis lain.
Suwarna (30) salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan mengaku, masih mengembangkan jenis lada rambat di lahan perkebunan miliknya di kaki Gunung Rajabasa meski diakuinya tanaman lada rambat miliknya sudah tidak produktif akibat umur yang sudah tua dan dirinya belum melakukan proses peremajaan tanaman.
Selain belum melakukan peremajaan tanaman dirinya pun menyebut belum melakukan perluasan areal tanaman lada yang menjadi komoditas cukup menjanjikan secara ekonomis bagi petani dengan harganya yang relatif menguntungkan. Ia bahkan menyebut tidak dilakukannya peremajaan atau proses penyulaman akibat varietas lada lokal yang ditanamnya kerap diserang hama busuk pangkal batang sehingga sebagian tanaman lada miliknya mati.
“Sebagian petani memilih mempertahankan tanaman lada varietas lokal serta varietas Natar 1 dan Natar 2 sebagai tanaman sela di antara komoditas tanaman lain karena lada rambat masih bisa menghasilkan. Meski sebagian petani memilih beralih ke budidaya lada perdu,” terang Suwarna saat ditemui Cendana News di pekarangan rumahnya yang juga berfungsi sebagai lokasi pengembangan tanaman lada perdu dengan media tanam pot polybag, Senin (11/9/2017).
Suwarna yang menjadi petani dengan beberapa tanaman budidaya seperti jagung, pisang, dan kakao tersebut mengaku, awalnya membudidayakan lada sulur atau rambat yang hasilnya cukup menjanjikan. Meski akibat serangan penyakit busuk batang ia terpaksa memusnahkan sebagian besar tanaman lada sulur miliknya. Pengaruh hama busuk daun serta pergantian cuaca musim penghujan ke musim panas juga ikut memicu pengurangan budidaya lada sulur.
Semenjak dua tahun terakhir Suwarna mengaku mendapat ide budidaya lada jenis perdu dari salah satu petugas Dinas Kehutanan yang memberi pelatihan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan tentang pola budidaya komoditas ekonomis non kayu. Selain bisa dibudidayakan tanpa menggunakan lahan luas, media tanam yang mudah diperoleh, lada perdu yang dibudidayakannya cukup mudah dirawat karena ditanam di sekitar pekarangan rumah.
Ia menyebut, menyediakan bibit dalam polybag yang dibelinya dari pusat penjualan bibit tanaman pertanian di Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur dengan bibit awal sebanyak 50 batang seharga masing-masing Rp8.000 lengkap dengan polybag. Sebanyak 50 batang bibit tersebut diakuinya sekaligus menjadi indukan dengan pola tanam berjajar di sekitar pekarangan perumahan seluas 20×30 meter. Setelah itu pengembangan dengan pola stek batang dilakukan untuk melakukan perluasan areal tanam.
“Awalnya, saya kursus terlebih dahulu cara penyediaan indukan dan memperbanyak bibit sehingga akhirnya lada perdu yang saya kembangkan sudah cukup banyak, kini ratusan tanaman,” terang Suwarna.

Proses perawatan lada perdu diakuinya terbilang mudah sehingga ia mulai bisa mengembangkan dengan teknik setek batang yang selanjutnya disemaikan dalam polybag khusus. Selain itu penanganan dengan penggunaan pasir, tanah gembur serta pupuk organik memicu perkembangan lada perdu, di mana bibit dari persemaian bisa dipindah setelah berusia sekitar 3-4 bulan.
Selain dilakukan penanaman di pot polybag sebagian tanaman lada perdu miliknya sengaja ditanam langsung di tanah yang subur tepat di bawah pohon penaung. Sekaligus akan menjadi indukan dengan adanya sulur panjar yang bisa digunakan untuk proses setek setelah berakar langsung di tanah.
Meski cukup mudah, penanaman lada perdu tetap harus dirawat dengan adanya musuh alami tanaman lada perdu saat musim pembungaan berupa penyakit busuk pangkal batang, keriting daun, penyakit kuning, walang sangit, jamur hingga hewan kambing yang kerap memakan daun lada perdu miliknya.
Menekuni budidaya lada perdu dalam polybag pun sudah mulai dirasakannya setelah tanaman berusia 12 bulan dan memasuki bulan ke-25. Kini keluarganya tak perlu membeli bumbu lada di pasar. Suwarna menyebut dari masa panen tahun kedua untuk setiap pot polybag bisa menghasilkan sekitar 50 gram lada kering sehingga untuk 100 polybag miliknya menghasilkan 500 gram lada. Pada masa tanam awal ia menyebut sempat banyak tetangga yang datang melihat tanamannya dan bahkan tertarik untuk ikut membudidayakan setelah mulai menghasilkan.
“Pada tahap awal sebagian buah yang dihasilkan saya berikan ke tetangga sekaligus memperkenalkan ke mereka cara budidaya lada perdu dan teknik pasca panen serta menyimpan sebelum dijual hingga akhirnya banyak yang ikut membudidayakan,” ungkapnya.
Budi (30) warga di desa yang sama yang memulai menanam puluhan tanaman lada dan warga lain termasuk Suwarna dipastikan sudah menanam lada perdu dengan jumlah mencapai ratusan polybag yang terus akan dikembangkan. Budi mengungkapkan selain belajar dari Suwarna ia juga mulai otodidak mengembangkan budidaya lada perdu dengan polybag.
Budi mengaku, berniat membudidayakan lada perdu awalnya untuk memenuhi kebutuhan akan bumbu pedas. Hasilnya pun cukup lumayan. Saat ini untuk per kilogram lada dijual dengan harga Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram di tingkat pengepul. Sementara jenis lada panjat bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp110 ribu.
“Pada musim tertentu harga lada kerap naik dan turun secara signifikan sehingga budidaya lada dalam polybag bisa menjadi pilihan investasi,” terangnya.
Budi juga mengakui dengan tanpa menggunakan lahan luas, pada areal tanah kavling seluas 10×15 meter miliknya, dan hanya dengan bermodalkan jaring waring, dirinya bisa mulai membudidayakan puluhan polybag ukuran besar, termasuk di beberapa sudut pekarangan miliknya. Budidaya lada dalam polybag semacam itu terus dikembangkan oleh petani sebagai upaya pemberdayaan masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan dan mendapat hasil hutan non kayu.
