BNPB Siapkan Dana Bencana Gunung Agung
JAKARTA — Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan dana cadangan operasional untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, meletus.
Demikian disampaikan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Humas BNPB saat menggelar acara jumpa pers terkait perkembangan kondisi terkini Gunung Agung di Jakarta, Senin (25/9/2017).
Menurut Sutopo, total dana penanggulangan yang dimiliki BNPB sepanjang tahun 2017 sekitar Rp4 triliun, masing-masing Rp2 triliun untuk penanggulangan antisipasi sebelum bencana, sedangkan Rp2 triliun untuk penanggulangan pascabencana.
Untuk mengantisipasi adanya kemungkinan letusan Gunung Agung, BNPB telah mengalokasikan dana yang menurut rencana akan diambilkan dari kas BNPB. “Totalnya mencapai Rp4 triliun. BNPB akan berkoordinasi dengan BPBD dan Pemerintah Daerah setempat terkait mekanisme penyaluran bantuan kepada masyarakat yang langsung terkena dampak letusan”, jelasnya.
Sutopo juga menjelaskan, selain pendanaan yang bersumber dari BNPB, anggaran juga dapat diambilkan dari APBD setempat, baik Kabupaten maupun Provinsi. Namun, Sutopo masih belum bersedia menjelaskan secara detil rincian biaya untuk penanggulangan bencana dampak peningkatan aktivitas luar biasa Gunung Agung.
Sutopo mengatakan, tak lama setelah status Gunung Agung ditingkatkan dari SIAGA manjadi AWAS, Gubernur Provinsi Bali, Made Mangku Pastika, langsung memutuskan untuk segera mengambil alih tanggung jawab dan pengendalian operasi terkait penanganan dan antisipasi adanya kemungkinan letusan Gunung Agung dalam waktu dekat.
Sebelum Gunung Agung dinyatakan berstatus AWAS, tanggung jawab dan kendali operasi untuk sementara masih berada di tangan Bupati Karangasem sebagai Kepala Darurat Sipil. Namun, setelah dinaikkan statusnya menjadi AWAS, untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, maka tongkat komando pengendalian dipegang Gubernur Bali.
Berdasarkan laporan petugas di lapangan, hingga saat ini tercatat 43.063 warga masyarakat setempat sudah mengungsi. Masing-masing 8.518 orang dari Tejakula, 11.253 orang dari Klungkung, Sidemen 1.953 orang, Bebandem 5.223 orang, Rendang 3.768 orang, Manggis 3.400 orang, Karangasem 785 dan Bangli 4.690 orang. Kemudian ditambah dengan warga pendatang sebanyak 3.446 jiwa sehingga totalnya diperkirakan mencapai 43.036 orang.