Berawal Isi Waktu Kosong, Kerajinan Rajut Kini Jadi Berkah
SOLO — Berawal dari coba-coba dan untuk mengisi waktu luang, seorang istri polisi di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, tengah mengembangkan usaha kerajinan rajut. Hasilnya pun cukup lumayan, karena mampu menjadi penghasilan tambahan selain gaji dari sang suami.
“Awalnya hanya ikut latihan-latihan yang digelar di Gerakan Organisasi Wanita (GWO) Karanganyar. Setelah itu, coba-coba buat di rumah, dan alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai lancar,” ucap Andriani Zamrud di sela-sela aktivitasnya merajut, Selasa (26/9/2017).
Warga Kauman RT 2, RW 14, Keluarahan Cangakan, Karanganyar itu mengaku, tujuan pertama menekuni kerajinan rajut hanya untuk mengisi waktu luang disela tuganya menjadi ibu rumah tangga. Modal yang dibutuhkan untuk bisa menjalankan usaha kerajinan rajut, menurut dia tidaklah mahal.
“Yang penting suka dulu. Kalau sudah senang merajut, hasilnya pun mengikuti. Mau buat tas, sepatu ataupun kerajinan lainnya pasti bisa,” ulasnya.
Keahlian yang dimiliki perempuan 56 tahun inipun telah ditularkan kepada ibu-ibu yang ada di sekitarnya. Bahkan, tak sedikit rekan sesama bhayangkari juga ikut berlatih membuat kerajinan rajut dari benang tersebut.
“Saya juga pekerjakan ibu-ibu yang ingin mengisi waktu luang dengan membuat kerajinan rajut. Hasilnya lumayan untuk tambahan mencukupi kebutuhan keseharian,” terangnya.
Sejumlah karya milik Andriani ini sudah ikut dalam berbagai pameran di tingkat kabupaten maupun kota. Bahkan, saat Ibu negara berkunjung ke Karanganyar, sempat membeli salah satu karyanya.
“Saat itu yang dibeli tas rajut. Saya juga ikut gabung dengan teman-teman kerajinan di Solo agar meluaskan jaringan usaha,” ungkap dia.
Sejumlah karya yang mulai digemarai di pasar adalah tas rajut, sepatu, dan berbagai produk lainnya. Untuk harga kerajinan rajut sendiri beragam, sesuai dengan besar kecilnya barang serta tingkat kesulitan.
“Ada yang Rp350 ribu, ada pula yang sampai Rp 500 ribu,” ucap ibu empat anak tersebut.
Selain menjadi ladang berkah, ketrampilan merajut benang ini juga untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Tak sedikit, tetangga atau teman yang ingin belajar rajut, disambut dengan tangan terbuka.
“Berbagi ilmu pada orang lain itu lebih utama. Makanya, kalau ada yang ingin belajar saya tambah senang, karena bisa bermanfaat bagi orang lain,” tekan Andriani.