147 Desa di Sikka, Baru 12 Desa Miliki BUMDes
MAUMERE – Baru 12 desa dari 147 desa yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Sikka yang sudah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga Pendamping Desa dan juga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sikka terus melakukan sosialisasi.
Demikian disampaikan Kornelis Soge tenaga ahli pendamping desa kepada Cendana News Rabu (27/9/2017) terkait pendirian BUMDes di Kabupaten Sikka yang masih sangat minim.
Dikatakan Kornelis, tahun 2017 ini baru pada tahap sosialisasi sebab BUMDes merupakan salah satu gerakan sosial sehingga tidak bisa dipaksakan dari atas. Dalam Undang-Undang Desa dikatakan dapat didirikan yang pendiriannya harus melewati musyarawarah desa. Oleh sebab itu pendamping desa pun berkewajiban terus melakukan sosialisasi.
“Saat ini sudah ada sekitar 30 desa yang tertarik, tapi kami targetkan 20 BUMDes saja yang terbentuk tahun ini dengan memperhatikan semua potensi yang ada di desa tersebut,” tegasnya.
Pembentukan BUMDes, tandas Kornelis, diserahkan kepada masyarakat di desa apakah mereka mau atau tidak mendirikan BUMDes dan bila pihak desa mau mendirikan BUMDes maka pendamping desa akan mengambil langkah lanjutan dengan melakukan musyawarah komitmen hingga musyawarah deklarasi.
“Bila sumber daya alam ada tapi sumber daya manusia atau orang yang mengelola tidak ada, maka lebih baik tidak usah didirikan. Sebab pasti BUMDes tersebut tidak berjalan maksimal dan membebani keuangan desa,” ungkapnya.
Pendirian BUMDes terus digaungkan, tandas Kornelis, dengan maksud supaya potensi Sumber Daya Manusia asal desa tersebut yang ada di kota bisa pulang membangun desanya dengan memanfaatkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah.
“Banyak lulusan sarjana berada di kota, padahal peluang saat ini banyak berada di desa dan dana desa bisa menjadi stimulan, perangsang sehingga pihak desa harus tetap kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di desanya,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sikka, Robertus Ray kepada Cendana News mengatakan, di Kabupaten Sikka belum semua desa memiliki BUMDes bahkan terbentuk pengurusnya sehingga melalui sosialisasi akan didorong agar setiap desa memiliki disesuaikan dengan potensi yang ada di desa tersebut.

BUMDes yang sudah berdiri, terang Robert sapaannya, memiliki usaha di bidang simpan pinjam, perdagangan, konstruksi, pertanian, perkebunan dan kelautan. Namun pihaknya belum melakukan evaluasi perkembangan BUMDes yang ada sebab belum lama beroperasi.
“Kami terus mendorong agar pihak desa bisa menggali dan mengelola potensi yang ada di desanya agar bisa mendatangkan pendapatan serta dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.