LAMPUNG — Berjarak sekitar tiga kilometer dari proyek Jalan Tol Trans Sumatera tidak berarti warga tidak terimbas proyek pembangunan jalan bebas hambatan tersebut. Sejak proses pembangunan jalan tol di Bakauheni warga mulai merasakan dampaknya secara langsung.
Siti Khotimah, seorang warga Dusun Pegantungan Desa Bakauheni mengaku material penggusuran tanah tol berimbas pendangkalan di aliran Sungai Pegantungan yang memiliki kedalaman sekitar 3 meter lebih namun kini berakibat sungai menjadi dangkal.
Sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan bahkan harus menyandarkan perahunya ratusan meter dari lokasi semula akibat sungai sudah tak bisa dilintasi perahu yang mereka miliki.
Isteri Siti seorang nelayan tersebut mengungkapkan dua tahun sebelumnya muara Sungai Pegantungan masih bisa dijadikan alur masuk dan keluar kapal ratusan warga yang berprofesi sebagai nelayan sekaligus akses lalulintas antar pulau.
Pendangkalan sungai tersebut terjadi dampak dari material tanah dan pasir pembangunan jalan tol yang terbawa aliran sungai dan masih berlangsung hingga kini.
“Sebelumnya sungai ini masih cukup dalam seukuran leher orang dewasa dan kami harus menyeberang menggunakan perahu tapi kini sangat dangkal perahu sudah tak bisa melintas,” terang Siti Khotimah saat ditemui Cendana News tengah mencari kayu bakar dari pohon Si Api-api untuk keperluan memanggang ikan asap miliknya, Rabu (9/8/2017),
Siti yang dibesarkan di kampung nelayan Pegantungan puluhan tahun silam tersebut kerap mencari ikan, kerang dan kepiting bakau di sepanjang aliran sungai dan areal tanaman mangrove namun kini habitat ikan dan kepiting bakau sudah tertimbun pasir dan tanah. Siti harus mencari lebih jauh ke area hutan mangrove yang tidak terimbas material tol Sumatera meski sebagian harus dicapai dengan perahu ketinting.
Dampak langsung keberadaan material pasir dan tanah dari proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera dirasakan oleh Hasanudin,nelayan sekaligus warga yang puluhan tahun menetap di kawasan kampung nelayan tersebut.
Jauh sebelum proyek pembangunan tol dirinya menyebut pemerintah kecamatan dan desa telah melakukan proses pengerukan untuk pendalaman alur sungai tapi kini semakin dangkal setelah ada proyek tol.
“Sudah kami usulkan berkali kali melalui aparat desa hingga kecamatan untuk dilakukan pengerukan namun belum ada respon dari pihak terkait khususnya pengembang tol untuk kepentingan masyarakat,” tegas Hasanudin.
Pasir dan material tanah yang terbawa aliran sungai selain mendangkalkan sungai sebagai alur masuk kapal nelayan tersebut juga berdampak muara sungai lebih jauh menjorok ke laut berimbas nelayan menambatkan perahu di lokasi yang jauh.
Sebelumnya warga pemilik rumah di sepanjang aliran sungai bisa menambatkan perahu di belakang rumah namun kini terpaksa harus rela menempuh perjalanan ratusan meter untuk menuju perahu.
“Saat surut air laut sebagian perahu nelayan bahkan seperti perahu yang terdampar karena air tidak bisa menjadi alur masuk keluar kapal,” ungkap Hasanudin.
Dihantam pendangkalan sungai dari proyek tol Trans Sumatera bahkan bukan satu satunya penyebab warga mengalami kesulitan melaut sebab sebagian pohon mangrove yang berada di lahan milik pemodal ditebangi dan diubah menjadi areal pertambakan budidaya udang vaname. Selain menyebabkan habitat ikan,kerang dan kepiting warga yang bekerja sebagai nelayan bahkan harus mencari ikan di lokasi yang lebih jauh.
Hasanudin mengaku masih tetap mempertahankan tanaman mangrove di sekitar rumah yang ditinggali sebagai penahan abrasi dan juga penahan angin saat musim angin Barat yang berasal dari Selat Sunda.
Kerusakan lingkungan dampak dari pembangunan proyek nasional jalan tol Sumatera tersebut diakui oleh Hasanudin justru berimbas akses warga terhambat untuk menggunakan perahu sebagai cara mencari nafkah sebagai nelayan tangkap.
Lokasi pencarian ikan dan kepiting yang semula menjadi area pohon mangrove dan sudah berpindah ke tangan pemodal untuk disulap menjadi tambak sekaligus ikut merusak lingkungan dan menghilangkan area mencari nafkah bagi sebagian besar nelayan.
Selain dipagar secara permanen sebagian warga bahkan tidak memiliki akses ke kawasan hutan mangrove yang sudah dipagar sekedar untuk mencari kepiting ditambah dengan sungai yang dangkal akses alur masuk perahu.
“Lingkungan kami sudah rusak meski terjadinya bukan karena alam tapi karena ulah manusia dalam proses penggusuran untuk lahan tol namun saat kami meminta untuk pengerukan belum juga ditanggapi,” tutup Hasanudin.
Hasanudin yang memiliki rumah di tepi pantai berjarak sekitar lima meter dan memiliki akses yang mudah ke laut kini harus berjalan cukup jauh dan menambatkan perahunya di tiang tiang pancang yang dibuatnya. Sungai yang semula dalam pun kini dangkal oleh pasir dan material tanah tol yang terus menimbun akses alur masuk perahu nelayan.
