SSB Rajawali Belasan Tahun Rujukan Siswa Sekolah Belajar Sepak Bola

LAMPUNG — Olahraga sepakbola menjadi salah satu favorit bagi siswa sekolah khususnya kaum Adam.  Tidak mengherankan kalau di berbagai daerah bermunculan sekolah sepakbola, termasuk di Lampung Selatan.  Salah satu sekolah sepakbola itu Sekolah Sepak Bola Rajawali.

Menurut Edi Tronton selaku pelatih SSB Rajawali sekolah sepak bola tersebut didirikanpada 1998, persisnya setelah  Piala Dunia FIFA 1998 di Perancis.  Kala itu demam bola menjangkit ke anak anak muda. Fenomena ini mendorong pecinta sepak bola di Penengahan yang memiliki Lapangan Penengahan mulai mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Rajawali.

Edi Tronton kala itu masih berusia sekitar belasan tahun menjadi salah satu murid yang belajar di Sekolah Sepak Bola Rajawali dengan murid murid pertama didominasi oleh siswa tingkat SMP.

Berbagai turnamen yang diikuti siswa siswa SSB Rajawali membuat klub Rajawali menjadi salah satu klub sepak bola kecamatan yang cukup disegani terutama untuk usia SMP. Kemudian sekolah mulai dikembangkan untuk usia SMA dengan jumlah siswa kala itu berjumlah sekitar 20 siswa.

“Awalnya hanya ada satu kelas untuk tingkat SMP namun selanjutnya banyak yang tertarik untuk masuk menjadi siswa di SSB Rajawali untuk tingkat SD dan SMA didukung dengan banyaknya turnamen terbuka antar kecamatan hingga kabupaten,” terang Edi saat ditemui Cendana News di lapangan Kecamatan Penengahan,Jumat (11/8/2017).

Latihan dilakukan intensif setiap sore. Edi  mengajar bersama dua pelatih lain. Tiga kelompok siswa SSB, yaitu tingkat SD, SMP, maupun SMA.  Kelompok SD jumlahnya dominan mencapai 50 siswa dalam satu sesi latihan.

Sementara kelompok siswa SMP bisa mencapai 20 orang dan siswa SMA mencapai 20 orang. Hingga  2017 total siswa yang masuk menjadi siswa SSB Rajawali berjumlah sekitar 110 siswa. Mereka berlatih menggunakan fasilitas lapangan yang cukup memadai dan juga aset bola dan peralatan berlatih yang disediakan oleh SSB Rajawali.

“Antusiasme siswa berbagai tingkat mulai SD hingga SMA masih cukup tinggi terutama kita tahu olahraga sepakbola menjadi olahraga  favorit anak laki laki sehingga mereka bangga jika bisa bermain bola dengan profesional,” tutur Edi.

Edi menyebut para pelatih juga sebagian merupakan wasit dan juga hakim garis yang sudah memiliki sertifikat dan pelaksanaan sekolah lebih banyak dilakukan di lapangan dengan materi tekhnik dasar bermain bola termasuk peraturan dalam permainan sepak bola.

Semua materi tersebut diberikan untuk berbagai tingkatan mulai tekhnik menggiring bola (dribbling), mengoper bola (passing),menghentikan bola (controlling),menyundul bola (heading) serta berbagai tekhnik lain dalam permainan bola dan mempraktekkan teori yang sudah diperoleh.

Banyaknya siswa SSB Rajawali yang mengikuti sekolah tersebut membuat jadwal latihan dilakukan bergilir di antaranya untuk tingkat SD dilakukan pada Selasa dan Jumat dan SMP serta SMA dilakukan pada hari Rabu dan Sabtu, karena pada hari lain lapangan dipergunakan untuk umum.

“Tujuan mendirikan SSB setidaknya membekali siswa untuk mencintai olahraga dan sebagai hobi ada yang dijadikan sebagai profesi sebagai guru olahraga sekaligus memiliki sekolah sepak bola,”ucapnya.

Sebagian siswa di angkatan tahun sebelumnya sudah terpilih dalam atlet untuk pekan  olahraga provinsi dan juga menjadi atlet sepak bola daerah. Meski demikian dalam beberapa turnamen persahabatan siswa siswanya menjadi juara pertama di antaranya untuk usia 14 tahun dan 16 tahun.

Siswa SSB Rajawali hanya membayar iuran Rp3.000 setiap latihan untuk uang kas dan keperluan membeli peralatan berlatih setiap tahun.

Aka,satu siswa kelas 6 SD di Desa Klaten menyebut sengaja ikut SSB Rajawali untuk bisa mengisi waktu luang dengan bermanfaat. Selain menyukai olahraga sepak bola dan kerap melihat pemain di televisi ia mengaku berniat menjadi pemain olahraga sepak bola profesional dengan menjadi siswa SSB Rajawali yang mengajari teori dan lebih banyak praktik.

Edi Tronton,pelatih Sekolah Sepakbola Rajawali Penengahan/ Foto: Henk Widi.
Lihat juga...