KEEROM – Tim Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 410/Alugoro di Keerom, Papua, menggelar upacara bendera memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di belantara hutan Indonesia paling timur perbatasan RI dan Papua New Guinea (PNG). Perjalanan menuju lokasi menempuh perjalanan kaki menembus hutan sejak Rabu hingga Kamis (16-17/8/2017).
Tapak sepatu menjadi jejak perjalanan tim patroli Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) Yonif 410/Alugoro dalam penugasannya di perbatasan RI-PNG sebagai satuan tugas pengamanan perbatasan.
Dipimpin Lettu Inf. Ikhsan, prajurit satgas yang bertugas di Pos Kalilapar, Keerom, Papua ini bertolak patroli pada Rabu (16/7/2017). Rasa penasaran bagi mereka membuat keingintahuan semakin besar dan mulai menelusuri jalan setapak yang belum diketahui arahnya dan siapa saja telah melalui jalan setapak itu.
Satu regu prajurit ini perlahan meninggalkan kampung dan semakin hilang dalam penglihatan mata ke dalam hutan belantara, menembus hawa dingin sekitar pukul 05.15 WIT. Terlihat di depan mata, lereng gunung dipenuhi semak belukar dan lebatnya hutan. Semangat mereka tak surut, hingga tiba di Kampung Sach setelah tujuh jam perjalanan.
Desahan nafas yang sedikit kelelahan, lantaran perjalanan yang begitu berat terdengar. Namun, tanpa mengeluh, prajurit-prajurit ini satu persatu meneguk air putih untuk melepas dahaga sambil merenggangkan kaki di tengah-tengah perkampungan tersebut.
Suasana sedikit tegang, manakala terlihat sejumlah pemuda-pemudi berlari menuju ke arah tim ini sambil memegang sesuatu yang belum terlihat dengan jelas. Sungguh tercengang wajah prajurit-prajurit itu. Mereka seakan tak percaya sejumlah pemuda-pemudi tersebut menghampiri mereka dengan membawa satu kantong ubi yang telah direbus untuk bekal perjalanan patroli.
“Bapa (bapak –dialek Papua), tong (kita) ada rebus ubi ni (ini) buat bapak tentara dong bawa di perjalanan,” kata Juliana, salah seorang warga Kampung Sach sambil memberikan sebuah kantong plastik warna hitam berisikan ubi rebus kepada tim patroli.
Selang beberapa menit berbincang dan bercanda bersama warga kampung itu, tim kembali melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak, masuk ke dalam hutan menuju lokasi kampung berikutnya. Sejauh 3 kilometer perjalanan, tim tiba di Kampung Mink yang mayoritas rumah penduduknya terbuat dari batang sagu dan beratap daun sagu, akses transportasi pun terlihat minim di kampung ini.
Jam menunjukkan sekitar pukul 16.51 WIT, bersamaan matahari secara perlahan tenggelam ditelan waktu, seakan ditelan hutan belantara, Lettu Inf Ikhsan pun menginstruksikan untuk beristirahat di kampung tersebut, dengan menumpang di halaman rumah warga. Di sini pula terlihat suasana kekeluargaan. Warga mendekati mereka untuk saling tukar cerita.
Ransum atau makanan tentara yang menjadi bahan pengenyang perut yang dibawa tim patroli menjadi magnet beberapa warga setempat. Tak berpikir panjang, satu persatu prajurit menawarkan ransum mereka kepada beberapa warga untuk dimasak dan dicicipi bersama-sama.
“Sebenarnya bama (bahan makanan) yang kami bawa sudah dihitung sesuai dengan jumlah keperluan untuk beberapa hari kami jalan ini. Tapi, kami juga ingin memperkenalkan kepada mereka, ini loh makanan kami kalau jalan patroli, biar mereka juga tahu. Saya senang sekali lihat mereka makan bersama-sama kami,” kata Lettu Inf Ikhsan.
Keesokan harinya, Kamis (17/8/2017), pagi sekitar pukul 03.45 WIT, tim kembali bergegas meninggalkan kampung tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju kampung berikutnya, kembali melintasi hutan belantara yang penuh terjal, ekstrim serta jurang dan sungai. Perjalanan ini memakan waktu lebih dari lima jam lamanya, dan disambut hangat warga pemukiman Suku Ibe, Distrik Waris.
“Ini kampung terakhir kami, kan sebelumnya kami sudah mampir ke kampung Sach dan Kampung Mink. Karena instruksi dari pimpinan (Danyon) tepat hari ini, kami harus gelar upacara HUT ke-72 RI dan kembali lagi ke pos kami di Kampung Kalilapar,” tuturnya.
Di pemukiman ini, hanya dihuni sekitar 3-4 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 15-an jiwa, di bawah kepemimpinan Mikel Ibe, selaku Kepala Kampung Ibe. Di sinilah tim mempersiapkan upacara bendera ulang tahun ke-72 kemerdekaan RI, dengan sangat sederhana, hanya mempersiapkan sebuah kayu buah berukuran 10 meter, dan dirakit sedemikian rupa untuk menaikkan bendera merah putih berukuran satu kali setengah meter.
“Kami senang sekali bapak tentara datang dan memberikan kami pengetahuan sedikit tentang sejarah Negara Indonesia dalam berjuang hingga merdeka, agar anak-anak kami di sini juga semakin yakin akan pemerintah Indonesia masih melihat kami di sini,” kata Kepala Kampung Ibe, Mikel Ibe kepada Cendana News, Kamis (17/8/2017).
Mengajar baris-berbaris dengan singkat kepada sejumlah orangtua, mulai dari mama-mama dan bapa-bapa serta pemuda-pemudi bersama anak-anak dilanjutkan geladi bersih. Keheningan suasana mulai terasa di saat detik-detik hari kemerdekaan mulai dekat dengan waktu menunjukkan pukul 09.15 WIT saat upacara dimulai.
Suara dengan nada seirama mulai terdengar kencang dan lantang, di saat belasan prajurit bersama warga pemukiman Ibe turut serta dalam barisan upacara itu menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’, seiring dinaikkannya bendera merah putih oleh tiga tentara dengan suasana yang penuh hikmat di perbatasan RI-PNG.
Puncak upacara pun usai, diakhiri dengan ramah-tamah saling bertukar makanan dari tentara kepada warga, begitupun sebaliknya. Selanjutnya, tim kembali meninggalkan warga dan berjalan kaki beberapa kilometer ke arah ruas jalan utama kabupaten.
“Kami senang dalam HUT RI kali ini, dalam patroli banyak yang kami dapat, mulai dari bertemu saudara-saudara di tiga kampung, merasakan tiga tempat suasana yang berbeda. Sekarang kami balik ke pos, potong kompas, karena akan dijemput kendaraan menuju Pos kami di Kalilapar,” kata Komandan Tim Lettu Inf. Ikhsan.
Usai berjalan kaki, tim patroli bersama Cendana News yang telah potong jalan ke ruas jalan utama dan lanjut melakukan perjalanan menuju Komando Taktis (Kotis) Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 410/Alugoro di Pir IV, Distrik Arso Timur menggunakan kendaraan roda empat.
