Sektor Furniture di Ketapang Bertahan di Tengah Kelesuan Penjualan

LAMPUNG — Angka penjualan produk furniture dalam kurun beberapa pekan terakhir mengalami penurunan diakui oleh beberapa pembuat kerajinan untuk kebutuhan rumah tangga tersebut berupa lemari, meja, kursi, meja rias serta tempat tidur.

Menurut Agus, salah satu pengrajin Furniture di Desa Pematangpasir Kecamatan Ketapang, angka penjualan produk furniture mulai menurun jika dibandingkan saat sebelum lebaran. Meski demikian ia tetap memproduksi untuk stok setelah lebaran Idul Adha.

Kebiasaan masyarakat, banyak yang melangsungkan acara pernikahan dan permintaan akan furniture lebih tinggi dibandingkan dengan hari biasa. Strategi marketing yang dilakukan selain membuka ruang pamer sekaligus toko dirinya dan pekerja lain melakukan penjualan keliling menggunakan kendaraan dan gerobak.

“Kita sediakan toko khusus untuk memajang beberapa contoh hasil furniture yang kita rakit karena sebagian bahan jadi didatangkan dari Jepara dan Boyolali Jawa Tengah lalu kita pasarkan di Lampung dan sebagian dibuat di sini dengan bahan baku yang ada,” terang Agus saat ditemui Cendana News tengah menyelesaikan proses pembuatan tempat tidur dari kayu akasia, Selasa (8/8/2017).

Hari Subagio dengan produk furniture yang diproduksinya [Foto: Henk Widi]
Agus mengaku dalam sepekan rata rata berhasil menjual sebanyak 5 unit furniture berupa lemari, tempat tidur dengan harga satu set lemari televisi dijual dengan Rp5 juta, tempat tidur seharga Rp400 ribu dan lemari pakaian seharga Rp4 juta terutama dengan bahan kayu jati.

Lesunya penjualan furniture tersebut terang Agus tak lantas mengurangi jumlah pembuatan sebab proses penjualan yang dilakukan secara berkeliling terbukti ampuh. Saat ini ia menyebut jangkauan hanya di beberapa kecamatan secara berkeliling untuk mencari konsumen.

“Pangsa pasar produk furniture kita kelas menengah ke bawah terutama para petani dan nelayan karena harganya terjangkau namun kualitasnya bagus,” terang Agus.

Mendapatkan omzet jutaan rupiah setiap pekan melalui penjualan keliling diakuinya menjadi solusi di tengah penurunan daya beli masyarakat akan furniture terutama dipengaruhi tahun ajaran baru sekolah. Strategi penjualan dengan sistem kredit dilakukan bagi petani dengan sistem bayar panen (yarnen) untuk meningkatkan jumlah penjualan.

“Kalau kita mengandalkan sistem penjualan cash banyak yang tak sanggup beli sehingga kita jual sistem tempo atau kredit yang penting konsumen dapat barang dan bisa membayar secara bertahap,” terang Agus.

Pelaku usaha kecil pembuatan furniture lain di Desa Sri Pendowo, Hari Subagio (44) mengaku dirinya bersama dua pekerja lain masih terus memproduksi furniture berupa meja kursi terbuat dari busa yang dibentuk menjadi sofa. Memanfaatkan bahan kayu sengon dan medang sebagian furniture tersebut sudah dirakit secara bertahap mulai dari bahan baku kayu hingga disempurnakan menggunakan kain dan busa.

Hari Subagio mengakui bisnis furniture seperti usaha kecil lainnya mengalami pasang surut dalam hal penjualan menyesuaikan dengan tren permintaan masyarakat yang terkadang meningkat dan terkadang turun. Strategi penjualan dititipkan di sejumlah toko penjualan furniture ikut menyumbang kelancaran distribusi barang yang telah dibuat oleh beberapa pekerjanya.

“Kita tidak menjual ke konsumen langsung karena sistem kita memang mengolah bahan baku kayu, busa dan kain menjadi furniture lalu kita jual ke toko,” terang Hari Subagio.

Hari Subagio menyebut untuk furniture yang sudah jadi dijualnya dengan harga Rp1,5 juta dengan dominan furniture berupa meja dan kursi sofa minimalis dengan berbagai motif untuk memenuhi keinginan pelanggan. Tren banyaknya masyarakat yang memiliki rumah minimalis juga berimbas pada bentuk furniture yang dibuatnya.

Bahan baku kayu yang sudah dibentuk dijemur untuk dibentuk menjadi meja dan kursi [Foto: Henk Widi]
Sebagai pelaku usaha kecil Hari Subagio mengungkapkan saat ini jumlah penjualan furniture yang diproduksinya mengalami penurunan dibandingkan sebelum hari raya Idul Fitri. Sejumlah toko di Kabupaten Lampung Selatan diakuinya memesan rata rata 50 unit sebelum Hari Raya Idul Fitri sementara setelah itu penjualan hanya mencapai 40 unit.

Hingga saat ini dengan lancarnya proses pengiriman ke sejumlah toko furniture membuat dirinya belum melakukan penjualan secara berkeliling untuk meningkatkan penjualan. Sebagai usaha kecil dirinya hanya tetap berharap dengan tetap berlangsungnya usaha tersebut bisa menjadi penghasilan bagi beberapa karyawan yang ikut bekerja dengannya mulai dari proses pembuatan pola hingga dibentuk menjadi furniture siap jual.

Lihat juga...