Belajar dari Alam dalam Bingkai Pancasila di Takalar
TAKALAR — Sebanyak 67 anak yang rata-rata usia SD sampai SMP tampak berkumpul hamparan sebuah lapangan rumputan. Wajah mereka tampak serius , tetapi sesekali mereka tertawa ketika pengajar menyelipkan humor dalam ketika memberikan materi.
Pada Minggu sore lalu merupakan pembukaan pertama dari kelas sekolah alam, akan tetapi sekolah alam ini sudah menyedot perhatian Desa Mangindara, Dusun Bonto, Kabupaten Takalar.
Menurut dibukanya sekolah alam ini tidak lepas dari sebuah komunitas yang bernama Sekolah Alam yang dibentuk dua bulan lalu. Para anggota Komunitas Sekolah Alam ingin mewujudkan generasi unggul yang berbingkai Pancasila. Maka dengan tujuan ini komunitas sekolah alam membuka kelas untuk anak usia SD sampai SMP.
“Selain mengembangkan nilai jiwa patriotisme dilandasi dengan nilai religius terhadap adik-adik yang ikut belajar di sekolah ini,” tutur Irwan, salah seorang inisiator sekolah alam ini pada Cendana News, Kamis (31/08/2017).
Materi yang diajarkan para pengajar sekolah alam hampir sama dengan materi sekolah formal. Hanya cara mengajarkan anak-anak di Desa Mangindara ini berbeda dengan sekolah formal. Sesekali para pengajar menyisipkan games pada materi yang diajarkan pada anak-anak.
Misalnya saja ketika mengajar Bahasa Inggris, anak-anak diminta menebak gambar mata, telinga, hidung. Anak-anak kemudian menyebut apa Bahasa Inggrisnya masing-masing gambar yang ditebak. Begitu juga dalam pelajaran berhitung anak-anak diminta mengumpulkan batu dan menghitungnya. Dengan cara ini anak juga mempelajari alam sekitarnya.
Anak-anak juga diajarkan moral dengan cerita dari cerita Nabi Muhammad SAW. Misalnya Nabi membantu sesama manusia dan itu harus diteladani. Materi patriotisme dan Pancasila juga diselipkan melalui cerita kepahlawanan. Dengan cara bercerita materi malah bisa masuk ke alam pikiran anak-anak.
Sebanyak 15 pengajar pemuda-pemudi di Kabupaten Takalar dilibatkan dalam sekolah alam ini. Mereka datang dari berbeda universitas, bahkan terdapat pemuda yang tidak memiliki sekolah ikut berkontribusi dalam sekolah alam ini. Mereka yang mengikuti kegiatan di sekolah alam ini mereka semua merupakan anak dari seorang petani, nelayan, dan buruh bangunan.
Irwan menambahkan meski mereka rata-rata datang dari orang yang tidak mampu dan berekonomi rendah, semangat anak-anak ini dalamenempuh pendidikan sangatlah tinggi.
“Anak di sini walaupun berekonomi rendah menurut saya semangat belajar mereka tinggi dan sangat antusias dengan kegiatan yang diadakan sekolah alam,” tambah Irwan.
Rencananya ke depan komunitas ini ingin membuat organisasi. Untuk mewujudkan itu komunitas sekolah alam ini memiliki struktur sama dengan sekolah formal. Seperti ada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, bagian kurikulum, bagian sarana dan pembangunan, bagian humas, bendahara dan bagian seni dan budaya.
Sementara ini Irwan sedang dan teman komunitasnya sudah melakukan komunikasi dengan desa tentangga agar bisa membuka kelas baru. Irwan juga berharap kegiatan sekolah alam yang dilaksanakan seminggu dua kali itu akan bermanfaat di tengah masyarakat Takalar.
Reski, salah satu murid Kelas V Sekolah Alam Takalar mengaku belajar di alam terbuka membuatnya lebh rileks dan tidak setegang ketika belajar di sekolah biasa. Cara guru mengajar juga berbeda.
“Belajar di alam terbuka saya merasa lebih senang apalagi games yang di berikan kakak-kakak pengajar sangatlah menarik,” ungkap Resky.