Makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus Masih Jadi Rujukan Wisata Religi di Lamsel

LAMPUNG — Perkembangan penyebaran agama Islam tidak terlepas dari peranan warga Arab yang berdagang ke wilayah pesisir atau tepi pantai di Lampung Selatan. Masjid Jami Nurul Huda di Kecamatan Ketapang menjadi salah satu peninggalan sejarah, terutama dengan keberadaan Makam Waliyulloh Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus.

Menurut Rasma (46), Kepala Dusun di lokasi Masjid Jami Nurul Huda masjid tersebut memiliki peranan yang cukup penting dalam penyebaran agama Islam pada ratusan tahun silam. Masjid di dekat makam tersebut merupakan salah satu awal perkembangan agama Islam yang semula dilakukan oleh Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus atau dikenal dengan Alwi bin Al Idrus di daerah Pegantungan Kecamatan Bakauheni. Akibat pengaruh letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 bersama para pengikutnya melakukan hijrah ke wilayah Ketapang Lampung Selatan.

“Masjid Jami Nurul Huda, masjid tertua sekaligus induk yang masih dikunjungi sebagai lokasi ziarah dan masih menjadi tempat untuk beribadah warga di Ketapang setiap hari dan setiap Jumat,” terang Rasma saat mendampingi Cendana News melihat bagian dalam masjid Jami Nurul Huda sekaligus melihat ke dalam makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus, Minggu (13/8/2017)

Rasma menunjukkan silsilah Alwi bin Al Idrus [Foto: Henk Widi]
Sebagai salah satu masjid tertua dan memiliki nilai historis dalam penyebaran agama Islam masjid tersebut kerap dijadikan rujukan para peziarah untuk bertirakat atau berdoa sekaligus napak tilas penyebaran agama Islam di Lampung Selatan. Akses jalan yang mudah dengan hanya berjarak satu kilometer dari simpang lima Jalan Lintas Timur Sumatera membuat peziarah mudah menuju ke makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus yang ada di tepi jalan.

Sebelum makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus ada di dalam masjid, Rasma menyebut awalnya masjid tersebut masih berupa bangunan kayu dan mulai mengalami renovasi secara bertahap salah satunya dengan membuat lokasi khusus untuk makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus sehingga makam berada di dalam masjid.

Saat masuk ke dalam masjid beberapa pilar terlihat kokoh menjulang dengan mimbar utama yang terbuat dari kayu berukir masih kokoh berdiri sebagai salah satu peninggalan pada zaman Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Masuk ke dalam masjid pada bagian kanan masjid terdapat sebuah ruangan dengan sebanyak empat makam di antaranya dua makam merupakan makam penjaga masjid, satu makam merupakan makam murid kesayangan Al Habib dengan kelambu berwarna putih sementara makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus ditutupi dengan kelambu berwarna hijau.

Pada bagian dinding ruangan tersebut terdapat pigura yang berisi informasi tentang silsilah atau garis keturunan Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus dengan menggunakan bahasa Arab yang menurut Rasma dimulai dari Abdurrohman bin Syekh Nul Karim, Abdurrohim bin Abdurrohman hingga Abdurrof bin Abdurrohim.

Hingga kini keturunan Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus sudah tidak menetap di Ketapang namun sebagian menetap di wilayah Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur dan menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Rasma menyebut sebagai tempat yang dikeramatkan dan dianggap memiliki karomah bagi umat Islam masjid Jami Nurul Huda masih menjadi rujukan untuk berziarah terutama pada hari atau bulan tertentu.

Ia menyebut pada bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri setiap tahunnya ia menyebut jumlah kunjungan peziarah bisa mencapai puluhan orang per hari bahkan ratusan peziarah dalam kegiatan wisata religi setiap bulannya.

Beberapa wisatawan religi atau ziarah yang kerap mendatangi makam tersebut diakui Rasma berasal dari wilayah Serang, Bogor, Sukabumi, bahkan Jawa Timur sementara peziarah lokal Lampung biasanya memilih waktu pada hari biasa setiap malam Jumat.

Berjarak hanya sekitar 300 meter dari bibir pantai pesisir Ketapang wilayah tersebut diakui Rasma kerap menjadi langganan banjir rob air laut sehingga sempat mengancam keberadaan masjid dan warga yang tinggal di wilayah tersebut karena gerusan air laut. Namun dengan adanya pembuatan tanggul penahan ombak membuat wilayah tersebut aman dari terjangan gelombang dan menjadi lokasi untuk wisata.

Berada di dekat pantai dan lokasi pusat pembuatan teri dan ikan asin diakui Rasma membuat peziarah yang berkunjung ke makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus sebagian memanfaatkan waktu perjalanan ziarah dengan menggunakan bis dan kendaraan pribadi dengan mengunjungi pantai serta membeli oleh oleh ikan asin dan teri.

“Jadi keberadaan lokasi wisata ziarah sekaligus kesempatan untuk berwisata ke pantai dan membeli oleh oleh berupa ikan asin dan teri,” ungkap Rasma.

Masjid Jami Nurul Huda lokasi ziarah yang di dalamnya terdapat makam Alwi bin Al Idrus [Foto: Henk Widi]
Meski pada hari biasa peziarah yang mendatangi makam tersebut terbilang sedikit namun mendekati Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri Rasma menyebut jumlah wisatawan religi dipastikan meningkat. Selain melakukan kunjungan ke makam Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus sebagian wisatawan rata rata melanjutkan wisata ziarah ke makam Raden Intan II di Gedong Harta dan makam Ratu Darah Putih di Kuripan Kecamatan Penengahan.

Lihat juga...