Mahasiswa Unila Galakkan Pelatihan Pembuatan Gula Semut dan Hidroponik
LAMPUNG – Masyarakat yang berada di dekat kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa atau Register 3 Rajabasa mendapat kesempatan menerima kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung yang berasal dari 5 fakultas di antaranya MIPA, Teknik, Fisip, FKIP dan Ekonomi.
Menurut Bayu, salah satu mahasiswa semester enam dari jurusan komunikasi FISIP Unila, mahasiswa Unila yang melakukan KKN di Kabupaten Lampung Selatan berjumlah 100 mahasiswa angkatan 2013/2014 dan ditempatkan pada beberapa kecamatan diantaranya Sragi, Rajabasa, Penengahan, Candipuro dengan masing-masing kecamatan sebanyak 25 mahasiswa.
Salah satu kegiatan yang dilakukan semasa KKN oleh para mahasiswa Unila tersebut, terang Bayu, beberapa mahasiswa sengaja ditempatkan di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan Gunung Rajabasa meliputi Desa Way Kalam, Desa Padan dan Desa Sumur Kumbang. Salah satu pendampingan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan yang dilakukan mahasiswa KKN diantaranya pola pemanfaatan lahan sempit dengan penanaman sayuran menggunakan teknik hidroponik dan pembuatan gula dari pohon aren untuk diolah menjadi gula semut.
“Sesuai dengan salah satu tujuan KKN kita untuk melihat potensi masyarakat pedesaan khususnya yang tinggal di kawasan sekitar Register 3 Rajabasa dengan pemberdayaan di sektor usaha kreatif tanpa merusak hutan dan masih bisa memberi penghasilan,” ungkap Bayu salah satu mahasiswa KKN Unila dari jurusan komunikasi Fisip Unila saat ditemui Cendana News tengah menyiapkan proses pembuatan media tanam hidroponik di Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan, Rabu (9/8/2017).
Bayu mengungkapkan, khusus untuk mahasiswa KKN Unila yang ada di Desa Way Kalam ditempatkan sebanyak 5 mahasiswa dengan beberapa kegiatan yang telah dilakukan diantaranya manajemen dan pengelolaan administrasi pedesaan serta mahasiswa KKN Unila yang sudah tinggal sejak bulan Juli dan akan melakukan masa KKN selama 40 hari telah melakukan pelatihan pola penanaman hidroponik.
Sistem penanaman hidroponik dengan menggunakan pipa PVC dan selang tersebut diakui Bayu melengkapi pola penanaman berbagai jenis tanaman sayuran dan bunga warga Desa Way Kalam yang telah mempergunakan polybag. Penanaman sistem polybag tersebut banyak dilakukan warga akibat tinggal di lahan terbatas dan sistem perumahan berundak undak di bawah kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa. Penanaman sayuran dengan sistem hidroponik diakui Bayu diharapkan akan mengoptimalkan penggunaan lahan pekarangan untuk kebutuhan sayuran yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Selain memberi pelatihan dan praktik penanaman dengan pola penanaman hidroponik kepada masyarakat sekitar Gunung Rajabasa, mahasiswa KKN Unila diakui Bayu juga akan melakukan konservasi tanaman aren atau enau di sekitar kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa. Meski diakui Bayu sebagian masyarakat telah secara tradisional melakukan pemanfaatan tanaman aren namun penambahan tanaman aren akan tetap dilakukan mendukung pengembangan pembuatan gula aren yang akan diolah menjadi semut oleh mahasiswa Unila.
Pelatihan konservasi tanaman aren di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa diakui Bayu akan dilakukan pada (12/8) di Desa Sumur Kumbang Kecamatan Kalianda dengan melibatkan ratusan petani kawasan hutan lindung Rajabasa meliputi Desa Way Kalam, Desa Padan dan Desa Sumur Kumbang.
Sebelum pelaksanaan pelatihan konservasi aren, mahasiswa KKN Unila juga telah melakukan penelitian terkait tanah yang cocok untuk budidaya tanaman aren dan sudah berkoordinasi dengan pihak Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS) Desa Karangsari selaku penyedia bibit aren. Ratusan bahkan ribuan bibit aren dipastikan akan terus dilakukan mendukung peningkatan produksi gula aren dan gula semut sebagai hasil hutan non kayu yang memberi nilai tambah ekonomis bagi masyarakat di kawasan berdekatan dengan hutan lindung.
Beberapa mahasiswa KKN diakui Bayu telah melakukan pemetaan persebaran tanaman aren milik masyarakat dan juga mendata sejumlah petani di dekat kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa untuk melihat pola pembuatan gula aren untuk selanjutnya dilatih membuat gula semut. Ia menyebut selama ini sebagian masyarakat masih mengolah atau menderes pohon aren untuk dibuat menjadi gula cetak.
“Mahasiswa Unila akan melakukan pelatihan dan sosialisasi penanaman dan pemanfaatan pohon aren termasuk pembuatan gula semut sekaligus meningkatkan nilai jual gula aren,” terang Bayu.
Gula semut yang sudah dibuat oleh mahasiwa Unila dengan memanfaatkan aren dengan membentuk kristal-kristal kecil yang dikenal dengan gula semut dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dimana gula aren saat ini bisa mencapai Rp20 ribu sementara gula semut bisa mencapai Rp50 ribu per kilogram.
Selain memiliki nilai jual yang tinggu gula semut memiliki kelebihan dengan bisa dikemas dalam bentuk sachet dan bisa disimpan lebih lama dengan rasa yang lebih manis. Pengolahan gula semut dengan bahan baku aren diakui Bayu didukung oleh melimpahnya bahan baku pohon aren yang ada di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa. Selain bisa dimanfaatkan sebagai tanaman produktif dengan penanaman pohon aren di perkebunan dan kawasan hutan diharapkan bisa menjaga konservasi air di wilayah hutan.
Sutikno, warga Desa Way Kalam petani sekaligus pembuat gula aren mengaku, membuat gula aren sejak beberapa tahun silam dan dirinya berharap bisa mendapat pelatihan pembuatan gula semut dari aren. Selain pola penanaman aren dengan manfaat pembuatan gula aren menjadi gula semut, ia berharap, diberi dukungan terkait pemasaran gula aren yang selama ini masih terbatas dijual di pasar tradisional.
