MAKASSAR—Siswa-siswi di SMAN 10, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, memanfaatakan lahan sempit seluas sekira 25 meterpersegi sebagai kebun hidroponik. Di kebun yang dikelola siswa SMA tersebut terdapat beberapa jenis tanaman sayur mayur.
Pengelolaan kebun hidroponik ini merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah ini, masuk dalam pelajaran muatan lokal sekolah tersebut. Di sekolah ini tidak terdapat guru prakarya. Karena itu, guru biologi, kimia dan fisika diminta untuk mengajarkan murid membuat tanaman hidroponik sebagai ganti tugas prakarya.

Menurut Kepala Sekolah SMAN 10 Makassar, Dra. Hj. Husaefa, kebun hidroponik ini murni dari kerja keras para siswa yang ada di sekolah ini. “Guru hanya kasih gambaran seperti ini kemudian siswa siswa mengikuti instruksi guru-guru tersebut. Mulai dari merancang alat, pipa bahkan sampai menanam itu semua murid yang melakukannya”, ujarnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (8/1/2018).
Uniknya, dalam kebun yang dipelihara siswa SMA ini terdapat empat cara bercocok tanam, ada manual, semi manual, menggunakan polibag, dan hidroponik. Untuk manual media tanamnya menggunakan pipa setinggi 30 cm dan terdapat 3 lubang, tetapi cara penyiraman sama dengan media polibag masih secara manual.
Sedangkan untuk media penaman hidroponik sama denga cara penanaman semi manual, kedua media ini menggunakan mesin untuk menyiram tanaman. Selain itu, tingkat media tanam dibagi dalam setiap tingkatan kelas. Contohnya saja media tanam polibag digunakan untuk tingkatan kelas 1, manual untuk tingkatan kelas 2 atau berkelompok, sedangkan untuk hidroponik dan semi manual digunakan untuk kelas tiga.
Setiap media mewakili setiap kelas dan diwajibkan setiap anak merawat satu tanaman. “Setiap anak memiliki satu tanaman untuk bertanggung jawab dirawat sama halnya dengan media hidroponik meski tidak disiram tanaman tersebut harus diberikan nutrisi”, tuturnya.
Setiap anak wajib menjaga tanamannya agar tidak terkena hama atau penyakit. Jika tanaman anak tersebut layu atau mati, maka akan berdampak pada nilai yang diberikan guru terhadap siswa tersebut. Hal ini yang membuat siswa sangat telaten dalam merawat tanaman mereka.
Meski hanya menggunakan lahan yang tidak seberapa, tetapi hasil panen dari kebun tersebut mampu menghasilkan puluhan kilogram cabai, sawi, selada, terong dan tomat. Sehingga tidak heran sekolah SMAN ini ditetapkan oleh Gubernur Syarul Yasin Limpo sebagai sekolah percontohan. Bahkan, beberapa waktu lalu guru se-Susel melakukan kunjungan ke sekolah ini untuk study banding.
“Bahkan, 45 guru sekolah se-Sulsel mengunjungi sekolah kami untuk belajar media tanam tersebut yang dan yang mengajar merupakan siswa kami”, tutupnya.