Kejuaraan Internasional Paralayang Digelar di Karanganyar
SOLO — Kejuaraan Paralayang tingkat internasional digelar selama 3 hari, di area Kebun Teh Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Lebih dari 170 atlit dari berbagai negara turut meramaikan Paragliding Trip of Indonesia (TROI) 2017 seri 3, yang dihelat pada 4-6 Agustus ini.

Ketua Panitia Paragliding TROI, Tiar, mengatakan sebanyak 175 atlit internasional paralayang yang datang ke kawasan kebun teh Kemuning itu baru peserta yang sudah datang ke lokasi. Jumlah peserta yang mendaftar dalam kejuaraan TROI seri 3 mencapai 235 orang. “Mereka berasal dari berbagai negara, seperti Arab Saudi, Korea, Filipina, Inggris, Australia dan berbagai negara lainnya,” ujarnya kepada awak media, Jumat (4/8/2017).
Dalam kejuaraan TROI 2017 seri 3 di Bukit Paralayang Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, terbagi menjadi 3 kelas. Yakni, kelas Junior (putra-putri), Senior (putra-puti) serta tandem. Sejauh ini atlit paralayang Indonesia di kancah Internasional cukup diperhitungkan. Sebab, atlit paralayang Indonesia beberapa kali menjadi juara dunia.
“Terakhir 2016 lalu, atlit paralayang Indonesia melalui Aris mampu menjadi juara dunia di Albania. Sebelumnya, pada 2010 atlit putri Indonesia juga menjadi juara dunia paralayang,” ungkap Tiar.
Dijelaskan, kejuaraan Internasional paralayang 2017 seri 3 sebenarnya digelar di Manado. Hanya saja adanya gangguan, sehingga TROI tidak memungkinkan digelar, akhirnya dialihkan ke Bukit Paralayang di Karanganyar. “Sebenarnya Karanganyar menjadi seri 4, tapi di seri 3 yang sedianya di Manado tidak bisa, jadi dialihkan di sini,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu atlit perempuan paralayang, Ifa Kurniawati, menandaskan jika olahraga ini mulai digemari kaum perempuan. Kondisi ini jauh berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah atlit paralayang perempuan Indonesia dapat dihitung dengan jari.
“Kalau sekarang sudah ada 60 atlit paralayang perempuan di Indonesia. Kalau dulu masih sangat jarang,” ucap Ifa.
Menurutnya, olahraga paralayang, jika mempunyai tekad yang kuat bukan sebagai olahraga yang ekstrem. Bahkan, setelah terbiasa terbang, semakin dapat menikmati pemandangan alam yang luar biasa. Prestasi di kejuaraan paralayang Internasional juga pernah ditorehkan.
“Atlit paralayang dari Indonesia sangat diperhitungkan. Banyak yang sudah menjadi juara satu dunia,” tambah perempuan 22 tahun yang menjadi juara satu dunia pada turnamen Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2010. lalu.