Kegiatan Belajar PAUD Kasih Ibu Ketapang Menumpang di Rumah Warga

LAMPUNG – Semangat belajar anak-anak di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, terbilang masih cukup tinggi dengan keberadaaan tempat belajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di antaranya Trans Kediri, RK IX serta RK I yang memiliki puluhan siswa.

Menurut Tri Ratnawati, selaku tenaga pendidik di PAUD Kasih Ibu RT I RK IX Desa Karangsari,
PAUD yang sudah berdiri sejak tahun 2006 tersebut beberapa kali pindah untuk proses kegiatan belajar mengajar dengan keterbatasan ruang belajar.

Tri Ratnawati menyebut, awalnya proses belajar siswa PAUD Kasih Ibu yang sudah berlangsung sejak tahun 2006 memiliki siswa didik sebanyak 21 anak. Selanjutnya terus mengalami perkembangan meski proses belajar masih menumpang pada salah satu rumah warga. Perkembangan selanjutnya, kegiatan belajar dilakukan di kantor desa setempat dengan tenaga pendidik masih terbatas dua orang untuk mengajar anak-anak di PAUD Kasih Ibu tersebut.

“Proses selanjutnya lagi, karena ruangan di kantor desa dipergunakan untuk aktivitas pemerintahan desa, kami terpaksa pindah menggunakan rumah warga yang kosong sehingga bisa digunakan untuk belajar,” terang Tri Ratnawati, salah satu tenaga pendidik PAUD Kasih Ibu, saat ditemui Cendana News di salah satu rumah warga yang kini dipergunakan untuk kegiatan belajar, Kamis (31/8/2017).

Kegiatan belajar mengajar di PAUD Kasih Ibu Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Tri Ratnawati menyebut, upaya untuk memiliki lahan serta bangunan permanen sudah dilakukan dengan mengajukan ke pihak desa melalui hasil hibah dari salah satu warga berupa tanah yang bisa dipergunakan untuk mendirikan bangunan PAUD. Meski demikian keterbatasan pendanaan membuat realisasi pembangunan belum bisa dilakukan sehingga kini proses belajar masih terpaksa dilakukan di rumah salah satu warga. Tepatnya sejak tahun 2015 hingga kini.

Mengabdi sebagai tenaga pendidik, diakui Tri Ratnawati, tidak sendiri. Pengabdian bagi warga Desa Karangsari tersebut ia lakukan bersama Bunda Tatik. Memang, tenaga pendidik di PAUD Kasih Ibu kerap berganti-ganti. Sebagai tenaga pendidik yang berbeda dengan tenaga pendidik di sekolah pada umumnya yang mendapat gaji bulanan, saat ini ia hanya memperoleh uang dari alokasi dana desa.

Sejak tahun 2016 sebagai tenaga pendidik dirinya mengaku mendapat bantuan dari alokasi dana desa sebesar Rp600 ribu. Sementara pada tahun 2017 sebagai tenaga pendidik akan memperoleh insentif sebesar Rp1 juta meningkat dari tahun sebelumnya.

Meski sebagai PAUD yang cukup tertua di desa tersebut, Bunda Tri Ratnawati mengaku, beberapa lulusan dari PAUD yang diajarnya cukup berprestasi saat masuk sekolah dasar dan siswa angkatan pertama dari PAUD tersebut sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Hingga kini masih memiliki dua kelompok belajar dengan kelas A atau kelas baru sebanyak 5 siswa dan kelas B sebanyak 13 siswa.

“Meski dalam keterbatasan para orang tua masih mempercayakan anak-anaknya yang berumur di bawah tujuh tahun untuk sekolah di PAUD kami,” ungkap Tri Ratnawati.

Salah satu bentuk kepedulian untuk menyediakan rumah yang bisa dipergunakan untuk lokasi belajar di antaranya Wakiran (63). Ia menghibahkan rumahnya untuk dipergunakan sebagai tempat belajar PAUD Kasih ibu yang sudah pindah tiga kali. Wakiran menyebut, merelakan rumah kosong yang merupakan bangunan rumah bagi anaknya untuk sementara waktu dipergunakan karena pihak PAUD Kasih Ibu sudah mendapatkan hibah tanah.

“Beberapa kali PAUD Kasih Ibu pindah dan harus menumpang di rumah warga. Harapannya nanti segera bisa memiliki yang baru,” terang Wakiran.

Ia menyebut dengan memiliki lahan yang luas, dirinya masih bisa memberi ruang untuk kegiatan belajar anak-anak PAUD Kasih Ibu yang saat ini masih belum memiliki bangunan sendiri. Ia juga berharap pemerintah desa bisa memberi perhatian untuk pembangunan sarana pendidikan anak usia dini.

Wakiran, salah satu warga Karangsari Kecamatan Ketapang, merelakan rumah miliknya dipergunakan untuk PAUD Kasih Ibu. Foto: Henk Widi
Lihat juga...