Industri Batu Tela Meningkat di Keerom

KEEROM – Sekitar seribu dua ratus batu tela dihasilkan dalam produksi batu tela Prakarsa yang selama ini dilakukan di Kampung Arsopura atau Arso IV, Kabupaten Keerom, Papua. Dalam minggu kedua bulan ini, permintaan konsumen telah dipenuhi industri batu tela tersebut.

“Sehari minimal dibuat 1200 batu tela yang kasar dan halus. Karena ini manual, kami kerja mulai dari jam 7 pagi dan jam 11 istirahat, terus lanjut jam 02.00 WIT lagi. Kami masih baru di Arsopura, baru jalan bulan Februari tahun ini,” kata Maulana, pengawas sekaligus Koordinator Pekerja Industri Batu Tela Prakarsa kepada Cendana News, Selasa (22/8/2017).

Selama berapa bulan ini, pihaknya tak mengutamakan harga namun kualitas dari batu tela itu sendiri yang paling penting. Hingga kini, dalam seputaran Distrik Skanto, Keerom, industri batu tela Prakarsa terus diminati pelanggan atau konsumen.

“Kalau kami utamakan produk, soal harga kami nomor dua. Kualitas produk itulah menjadi persaingan kami dengan industri lainnya di kampung lain,” ujarnya.

Sistem pekerja yang dijalankan, pihaknya kontrak khusus dengan tenaga spesialis batu tela yang telah memiliki banyak pengalaman di bidang tersebut. Terdapat dua pekerja Warga Negara Asing (WNA) dari negara Timor Leste yang benar-benar sarat pengalaman di bidang industri batu tela.

“Mereka dua orang itu sudah banyak pengalaman kerja di Indonesia, terakhir kerja di Kota Jayapura. Di sini mereka juga kerja profesional dan mereka memiliki paspor sebagai warga Timor Leste. Kami juga sudah lapor ke RT dan juga Kepala Kampung kalau mempekerjakan mereka,” ujarnya.

Batu tela yang telah diproduksi selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari. (Foto: Indrayadi T Hatta)

Bicara soal bahan dan alat kerja, kata Mul sapaan akrabnya, karang, alat berat, truk dan lokasi memang milik perusahaan CV Prakarsa. Untuk karang sendiri, pihaknya telah kontrak kerja dengan Ondoafi di sekitar Kampung Gudang Garam, Keerom.

“Iya untuk alat-alat kami punya sendiri, mulai dari yang mesin manual, sementara mesin pemisah karang sedang dirakit. Untuk alat berat kami juga punya sendiri, tidak ada yang disewa, kecuali karang, kami kontrak dengan pemiliknya,” tuturnya.

Frans, salah satu tenaga kerja asing mengatakan, dirinya senang bekerja di Papua, karena upah kerjanya lebih tinggi dan jauh berbeda saat ia bekerja di negaranya sendiri di Timor Leste. “Di sana (Timor Leste) sehari kerja Rp330 ribu, beda dengan di sini bisa sampai Rp500 ribu. Kalau beras di sini lebih murah dibanding dengan beras di negara kami,” kata Frans.

Meningkatnya industri batu tela di Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, menandakan banyaknya pembangunan di distrik setempat. Dalam proses bangun satu rumah permanen, data yang didapat media ini, pemborong membutuhkan sedikitnya empat ribu batu tela.

Lihat juga...