Harga Cabai Merah Besar di Tingkat Petani Anjlok

PONOROGO — Petani cabai merah besar di Ponorogo mengeluhkan rendahnya harga jual di tingkat petani. Untuk satu kilogram cabai merah besar hanya dihargai Rp7 ribu. Padahal dengan harga jual seperti itu, petani yakin tidak bisa balik modal.

Salah satu petani cabai, Dasir (50 tahun) mengatakan dirinya hanya bisa pasrah. Pasalnya, hasil jual panenannya kali ini tidak sebanding dengan biaya perawatan yang ia keluarkan.

“Saya berharap cukup untuk balik modal saja,” jelas warga Desa Kunti, Kecamatan Bungkal ini kepada Cendana News, Senin (27/8/2017).

Menurutnya, cabai merah besar kali ini membutuhkan perawatan ekstra. Mulai dari pengairan yang sering, jika tidak bunga akan sering rontok. Serta pemberian pestisida secara teratur, demi menghindari lalat buah.

“Apalagi di desa kami, sumber air dari sungai sudah tidak ada, sebagai gantinya kami harus menggunakan diesel untuk mengairi,” cakapnya.

Penggunaan diesel dibarengi dengan biaya solar sebagai bahan bakar. Tiap kali pengairan dibutuhkan minimal tiga liter solar. Selama tiga bulan masa tanam, tiap minggu harus melakukan pengairan.

“Biaya perawatannya mahal untuk tanaman cabai ini,” keluhnya.

Tanaman yang memiliki nama latin Capsicum Annum L. ini bahkan perlu diberikan pestisida secara rutin untuk menghindari lalat buah yang dapat menyebabkan busuk buah. Kendala yang dihadapi di Ponorogo saat ini berangin, banyaknya kupu-kupu di lahan pertanian membawa hama ulat pada daun tanaman.

“Setidaknya agar kami bisa untung harga cabai seharusnya bisa Rp10 ribu ke atas, tapi ini hanya Rp7 ribu untuk yang super. Kalau standar di bawahnya, harganya turun,” tandasnya.

Padahal ia berharap, harga cabai miliknya bisa mengalami kenaikan mengingat saat ini sudah mulai masuk musim hajatan sekaligus Hari Raya Kurban. “Tapi malah harganya anjlok seperti ini,” tukasnya.

Nasib Dasir lebih mujur daripada Gayuh Satria (29 tahun) yang mengaku sejak setahun terakhir sudah tiga kali mencoba menanam cabai besar namun gagal total.

“Banyak cabai saya yang tiba-tiba keriting daun terus tanamannya mati,” tuturnya.

Ia pun tak putus asa, percobaan menanam cabai dilakukan berulang kali hingga tiga kali. Namun hasilnya tetap nihil. Kini lahannya hanya kosong tidak ditanami.

“Cuaca yang ekstrem menjadi penyebab ini, saya sudah pasrah. Mengingat harga jual di tingkat petani yang murah, saya memilih mengistirahatkan lahan,” pungkasnya.

Cabai merah milik Dasir/Foto: Charolin Pebrianti.
Lihat juga...