Grebeg Sinongkel Ritual Bersih Desa Prambon Trenggalek

TRENGGALEK — Khasanah budaya harus selalu terjaga secara turun temurun, sepertinya hal inilah yang menjadi landasan Kepala Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Anang Irwanto untuk menghidupkan kembali tradisi sinongkelan yang hanya ada di desanya dan sempat vakum pada tahun 2007 lalu. Mulai tahun 2013, ia kemudian menggagas diadakannya sinongkelan, namun dengan konsep berbeda yang diberi nama Grebeg Sinongkel.

“Grebeg Sinongkel dihadirkan seiring dengan usaha pemberdayaan masyarakat yang kami inginkan sebagai kegiatan tambahan dari sinongkelan,” jelasnya saat dihubungi Cendana News, Minggu (13/8/2017).

Grebeg Sinongkel mulai diselenggarakan sejak tahun 2016 lalu, mengusung konsep lebih menarik dengan melibatkan aktif warga desa. Acara ini dihelat setiap tanggal 14 bulan Selo. Menariknya, meski belum ada perhatian berupa bantuan dana untuk acara ini. Masyarakat rela mengumpulkan dana secara swadaya.

“Sebanyak 90 persen dana berasal dari swadaya masyarakat, sedangkan dari Pemdes membantu Rp 8 juta,” ujarnya.

Acara yang dihelat selama tiga hari mulai dari tanggal 10-12 Agustus 2017 ini, berhasil menarik minat para wisatawan, bahkan Bupati Trenggalek menyempatkan diri untuk hadir saat perayaan.

“Hari pertama sampai hari kedua ritual ziarah, malam harinya pertunjukkan yang menggambarkan perjalanan Kanjeng Sinongkel, hari ketiga ada kirab budaya,” tuturnya.

Ditanya terkait kapan mulai diadakannya tradisi sinongkelan ini, Anang mengaku tidak tahu menahu pastinya, pasalnya tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak sebelum bumi pertiwi merdeka.

“Bahkan kakek saya yang berumur 90 tahun pun tidak tahu kapan pastinya dimulai tradisi sinongkelan ini,” tandasnya.

Sesepuh Desa Prambon_Ist

Saat ini Anang tengah menggandeng seorang penulis, Joko Kuntono untuk menuangkan dalam buku kisah Sinongkel yang hanya ada di Prambon. Berharap khasanah budaya yang sudah ada sejak turun temurun ini bisa diwariskan kepada anak cucu.

“Kami menggali berbagai informasi dari para sesepuh, mulai dari pakaian pelaku sinongkel, dan menerjemahkan apa yang tersembunyi dari dialog sinongkel,” pungkasnya.

Sejarah Sinongkel di Desa Prambon

Grebeg Sinongkelan merupakan tradisi bersih desa atau ruwatan desa yang di dalamnya menyimpan sandi sejarah ‘terusir’ dan ‘pengungsian’ oleh Sinuwun Ingkang Jumeneng Paku Buwono II disebut juga Kanjeng Sinongkel, Ki Ageng Surya Lelana, Sunan Ponorogo atau Panembahan Brawijaya dari Pura Wanakerta atau Kartasura menuju Ponorogo – sekarang masuk kedalam wilayah Trenggalek – menyusul pendudukan Keraton Kartosuro oleh Sunan Amangkurat V bentukan laskar Cina-Jawa dipimpin Kapiten Khe Panjeng dan Patih Notonegoro.

Grebeg Sinongkel diambil dari nama Kanjeng Sinongkel. Menariknya, ruwatan Desa Sinongkelan ini selalu diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 14 bulan Selo atau malam Sabtu, saat Kalamangsa berada di puncak kemarau.

Grebeg Sinongkel sendiri dihelat selama tiga hari, hari pertama dan kedua diisi dengan ritual ziarah yang dilakukan oleh kepala desa bersama perangkat desa dan sesepuh desa ketujuh tempat petilasan sakral yakni Selakar (Paseban Sekti), Siraman, Petilasan Budo Ganggung, Petilasan Budo Canthing, Setono Ngongrang, Petilasan Jutak (Jetakan) dan Gunung Untal Kemloko.

Kirab budaya warga Prambon_Ist

Malam kedua Grebeg Sinongkel diisi dengan penggambaran perjalanan Kanjeng Sinongkel dikejar oleh Sunan Amangkurat V hingga ke Desa Prambon. Dan terakhir pada hari ketiga diisi dengan kegiatan kirab budaya.

Melalui tradisi ini, masyarakat desa Prambon yang berjumlah 10 ribu orang ingin mengikat ingatan sekaligus kemelekatan jiwa-batin ‘Kawulo-Ratu’ atau antara mandat kerakyatan dan wahyu keratuan atas titah lar-laran (pamekaran) dusun oleh Kanjeng Sinongkel.

Lihat juga...