Dari Jabar ke Makassar, Nia Jualan Bendera

MAKASSAR – Nia, perempuan berusia 50 tahun ini tampak jeli memandang pada setiap pengendara. Sesekali dia menawarkan bendera-bendera yang dijajakannya di tepi Jalan Urip Somoharjo, Kota Makassar. Bersama ketujuh temannya yang sama-sama dari Jawa Barat, Nia menjadi pedagang bendera musiman.

Nia yang sebelumnya merupakan pedagang kue di daerah asal, ingin mencari pengalaman baru dengan berjualan ornamen kemerdekaan dan bendera musiman. Sudah sebulan Nia berada di Makassar untuk menjadi pedagang bendera musiman.

Nia mengaku tertarik menjadi pedagang musiman. karena ingin mencari pengalaman baru dengan menjual bendera di Makassar. “Di Bandung, saya sering menjual kue brownis saat menjelang puasa dan lebaran setelah usai lebaran. Dan, momentumnya berdekatan dengan hari kemerdekaan saya berhenti untuk sementara dan berjualan bendera seperti ini”, ungkapnya, Selasa (15/8/2017).

Nia yang diajak oleh Dadang yang merupakan bosnya, tertarik untuk menjadi penjual bendera musiman. Selain menjadi bos, Dadang inilah yang menjadi koordinator orang-orang Bandung yang menjadi pedagang bendera musiman. Bersama ketujuh temannya yang berjualan di sepanjang Jalan Urip Somoharjo, Nia tinggal di Jalan Angkasa.

Di rumah 2 lantai tempat Nia tinggal, juga dijadikan sebagai tempat produksi bendera-bendera yang dijualnya. Ada sekitar 25 orang yang tinggal di rumah tersebut. Tujuh orang menjadi pedagang bendera dan sisanya menjadi perajin bendera.

Perempuan tamatan SMP ini juga menjelaskan, biasanya dalam sehari 20 perajin bendera bisa menghasilkan 10 kodi bendera, bahkan biasanya ada kamar yang disiapkan untuk bendera tersebut sampai penuh dengan bendera.

“Bahkan sampai dijual ke Maros, dan penjual di Maros tersebut orang Jabar juga dan merupakan teman satu kampung saya. Di Maros terdapat 18 orang yang menjadi pedagang”, jelas Nia.

Harga dagangngan Nia pun terbilang murah dan di bawah harga jual seumumnya, sehingga banyak yang membelinya. Mulai dari layur, umbul-umbul dan bendera dijual seharga Rp35.000, sedangkan untuk backgraund dijual dengan seharga Rp250.000 per meter. Bahkan ada beberapa kantor instansi di Makassar membeli dari Nia.

Untuk sistem bagi untungnya, Nia sehari mendapatkan Rp50.000 untuk uang makan di luar komisi. Komisi Nia sendiri baru bisa didapat di saat terakhir berjualan bendera di akhir bulan Agustus, nanti. “Hitung-hitung tabungan saat pulang kampung nanti pada tanggal 18, karena saya masih memiliki anak yang masih sekolah dan suami saya sudah tua, sehingga membantu suami juga”. katanya.

Hamzah, yang merupakan Ketua RT di Blok 8 Perumnas Antang, sering membeli bendera, umbul-umbul dan ornamen kemerdekaan lainnya di pedagang musiman. Ini karena harganya yang murah meriah dan dapat ditawar.

“ Saya biasa membelinya di Jalan Urip Sumoharjo”, katanya.

Hamzah mejelaskan, banyak masyarakat lebih menyukai membeli bendera di pedagang musiman, karena harganya yang murah. “Harganya mencapai Rp35.000 dan bahkan bisa ditawar. Kualitasnya juga sama dengan yang di toko”, ungkapnya.

Karena harganya yang murah inilah membuat banyak masyarakat lebih memilih untuk membeli bendera di pedagang musiman seperti Nia. Bahkan, kebanyakan pedagang musiman bendera ini merupakan orang yang berasal dari luar Pulau Sulawesi dan merupakan pendatang.

Para pedagang musiman bendara ini biasanya memenuhi jalan-jalan besar yang ada di Makassar. Tidak hanya di jalan-jalan besar saja, para pedagang musiman ini juga dapat ditemui di setiap sudut-sudut Kota Makassar.

Lapak milik Nia di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. -Foto: Nurul
Lihat juga...