Bendungan Indah Way Pisang, Hidupkan Ekonomi Masyarakat Petani dan Pembudidaya Ikan

LAMPUNG – Peninggalan infrastruktur dalam penyokong bidang pertanian pada era Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, masih sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Palas. Salah satunya Bendungan Indah yang berada di Desa Sukabakti dan Desa Sukaraja, membelah kedua desa di Kecamatan Palas tersebut.

Menurut Suwadi (37), warga Desa Sukaraja, keberadaan bendungan Way Pisang yang dimanfaatkan untuk mengairi areal lahan pertanian sawah warga Desa Sukabakti dan Desa Sukaraja, sudah ada sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto dan mengalami beberapa kali pelebaran serta perbaikan. Baik badan bendungan, pintu-pintu air, serta saluran irigasi.

Suwardi menyebut, selain dialirkan ke alur utama Bendungan Way Pisang, dua pintu air besar mengarah ke Desa Sukabakti dan Desa Sukaraja juga menjadi sumber pengairan utama Sungai Way Pisang yang berada di bawah pengawasan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung tersebut. Debit air yang lancar meski musim kemarau dan hujan, membuat petani bisa melakukan penanaman padi sepanjang tahun akibat pasokan air yang cukup. Bahkan kerap justru harus dibuang saat musim hujan akibat banjir yang membahayakan lahan pertanian.

“Sejak era Pak Harto saluran yang dikenal dengan Bendungan Indah ini sudah digunakan dan kerap mendapat perbaikan sehingga masih dimanfaatkan warga di wilayah ini yang memanfaatkan air sungai,” terang Suwardi, warga Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, saat dikonfirmasi Cendana News di dekat saluran irigasi Bendungan Indah Sungai Way Pisang Kecamatan Palas, Rabu (30/8/2017).

Ratusan hektare sawah di beberapa desa yang memanfaatkan aliran air dari Bendungan Indah Way Pisang, diakui Suwardi, saat musim kemarau tetap terus memperoleh pasokan air. Meski harus menerapkan sistem buka-tutup dalam pembagian air irigasi yang dilakukan oleh petugas pengairan yang sudah ditunjuk. Selain itu sebagian masyarakat memanfaatkan lancarnya air Sungai Way Pisang yang dibendung dan dialirkan ke saluran irigasi sebagai sarana budidaya ikan air tawar.

Suwardi yang merupakan salah satu anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Agung mengungkapkan, lancarnya pasokan air membuat sebagian petani pemilik lahan masih bisa memanfaatkan lahan untuk budidaya ikan. Dirinya bahkan menyebut dengan belasan petak kolam budidaya ikan air tawar ia bisa memelihara ribuan ekor jenis Patin pada lahan seluas seperempat hektare, tepat di saluran irigasi yang masih dalam kondisi baik hingga kini. Selain dipergunakan untuk dijual, kolam ikan milik anggota Pokdakan Mina Agung kini juga disulap menjadi tempat rekreasi pemancingan ikan sistem timbang kiloan.

“Kami sempat berhenti menebar ikan karena ada virus. Tapi awal tahun ini dengan lancarnya air kami mulai menebar ikan dengan dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Selatan,” terang Suwardi.

Suwardi, anggota Pokdakan Mina Agung memanfaatkan Bendungan Indah Sungai Way Pisang untuk budidaya ikan dan kolam pemancingan di Desa Sukaraja Kecamatan Palas. [Foto: Henk Widi]
Memiliki beberapa petak kolam ikan patin, ia menyebut, pemancing bisa membawa pancing dan umpan sehingga juga hanya cukup membayar ikan saat ditimbang Rp20 ribu per kilogram untuk dibakar atau dibawa pulang. Tren rekreasi memancing ikan tersebut, diakui Suwardi, terus berlangsung dengan terjaganya aliran Sungai Way Pisang dan bendungan yang masih tetap terjaga. Pemilik kolam pun bisa memperoleh omzet ratusan ribu per hari dari penyediaan sarana memancing. Bahkan jutaan dari menjual ikan ke luar Lampung.

Selain digunakan sebagai lokasi budidaya ikan pada beberapa tanggul kolam miliknya, beberapa rumpun bambu penahan erosi dan berbagai tanaman buah-buahan juga ditanam oleh Suwardi.  Termasuk pohon buah-buahan jambu, mangga, dan kelengkeng. Selain sebagai peneduh lingkungan, keberadaan pepohonan yang sengaja ditanam tersebut  memiliki manfaat sebagai penahan tanah agar tidak tergerus banjir.

Ia menyebut, meski dimanfaatkan sebagai kolam budidaya ikan air tawar, penggunaan air juga masih bisa dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian sawah. Masyarakat pun juga bisa memanfaatkan air sungai dari Bendungan Indah Way Pisang untuk berbagai keperluan.

“Meski lancar namun karena kerap ada sampah membuat lingkungan sekitar bendungan dipenuhi sampah kiriman dan menyumbat saluran. Sangat disayangkan masih ada warga membuang sampah di sungai,” keluh Suwardi.

Tamon, petani di Desa Sukabakti yang berseberangan terpisah oleh Sungai Way Pisang menyebut, meski air Sungai Way Pisang dialirkan melalui Bendungan Indah namun pada saat musim hujan areal persawahan di wilayah tersebut masih kerap terendam air. Belum dibangunnya tanggul penangkis air sungai di wilayah tersebut membuat sebagian areal persawahan kerap dilanda banjir yang merugikan petani.

“Tanggul sebagian memang dibangun di bagian bawah namun di wilayah kami juga memerlukan infrastruktur tanggul penahan agar saat debit air besar tidak meluap ke area persawahan,” terang Tamon.

Sebagian warga terpaksa mempergunakan cara alami menanam beberapa pohon penahan air berupa pohon pinang dan bambu yang bisa menahan laju air saat musim hujan. Meski pintu bendungan ditutup sebagian luapan air berimbas terendamnya areal persawahan di wilayah tersebut. Beberapa lahan kolam ikan air tawar bahkan ikut terimbas pada saat sungai meluap, terutama akibat banyaknya sampah yang kerap menyumbat saluran air di Bendungan Indah.

Selain berharap masyarakat menjaga sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan, ia juga berharap warga sekitar sungai bisa ikut menjaga konservasi Sungai Way Pisang melalui penanaman pohon penahan erosi. Selain berguna untuk pengairan, diakui Tamon, Sungai Way Pisang memiliki dampak lingkungan dan ekonomi yang besar bagi petani sawah dan pembudidaya ikan di wilayah tersebut yang mengandalkan pasokan air Sungai Way Pisang.

Tanam buah dan kolam budidaya ikan air tawar di dekat saluran irigasi dan Bendungan Indah Sungai Way Pisang. [Foto: Henk Widi]

 

 

Lihat juga...