2021, Bantul Targetkan Semua Poktan Miliki Alsintan

YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, melalui Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan, menargetkan seluruh petani di wilayah Bantul bisa memanfaatkan prasarana berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) pada 2021, mendatang. Pemanfaatan alsintan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas produksi pertanian yang pada akhirnya mampu mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Bantul. 

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi, di sela kegiatan penyerahan bantuan alsintan kepada kelompok tani se-Kabupaten Bantul di Balai Desa Poncosari, Srandakan, Bantul, Selasa (8/8/2017).

Pulung menyebutkan, upaya mekanisasi pertanian melalui pemberian prasarana pendukung berupa alat dan mesin pertanian terus dilakukan pemerintah sejak beberapa tahun terakhir. Baik itu oleh pemerintah di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten. Namun demikian, hingga saat ini belum semua kelompok tani di Kabupaten Bantul mendapatkan bantuan alsintan tersebut.

“Dari total sekitar 818 kelompok tani yang ada di Kabupaten Bantul, baru sekitar 50 persen kelompok yang sudah menerima dan memanfaatkan alsintan. Kita targetkan 2021 nanti seluruh kelompok bisa menerima bantuan alsintan ini,” ujarnya.

Menurut Pulung, semakin berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian serta semakin meningkatnya kebutuhan komoditas pangan menuntut percepatan proses produksi pertanian. Hal itu hanya dapat terwujud dengan penerapan alat-alat modern seperti alsintan untuk menggantikan proses produksi pertanian secara manual atau tradisional dengan memanfaatkan tenaga manusia dan hewan.

“Memang saat ini sudah waktunya mempercepat proses produksi pertanian dengan alat modern. Yang paling mendesak dibutuhkan adalah traktor,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Subur Makmur, Tukijo, asal Desa Srihardono, Pundong, Bantul, mengaku sangat membutuhkan alsintan untuk dapat mendukung proses produksi pertanian. Pemanfaatan alsintan seperti traktor dinilai sangat efektif dan mempermudah penyiapan lahan pertanian. Selain lebih cepat, pemanfaatan traktor juga lebih murah dari sisi biaya.

“Dengan adanya bantuan ini, kita tidak perlu lagi menyewa traktor dari desa lain. Sehingga lebih menghemat biaya produksi. Jika menyewa kelompok lain, kita harus mengeluarkan biaya Rp1.500 per lubang (1 hektar sama dengan 1.000 lubang). Padahal, luas lahan pertanian di kelompok kami ada sekitar 17 hektare, sehingga biayanya cukup besar,” ujarnya.

Lihat juga...