Warga Jatisari Swadaya Terangi Dusunnya

LAMPUNG — Kondisi Dusun Jatisari, Desa Pasuruan, menjadi salah satu dusun yang terlihat benderang kala malam datang, bahkan di jalan-jalan menuju area perkebunan warga yang tidak berpenghuni dan belum terdapat bangunan perumahan penduduk. Sementara, di depan rumah warga, lampu penerangan menyala dari setiap rumah warga.

Purwant,pemrakarsa penerangan jalan di Dusun Jatisari. -Foto: Henk Widi

Selain dari rumah warga, sebanyak 5 titik tiang lampu penerangan jalan umum (LPJU) terbuat dari tiang besi setinggi 3 meter lebih berada di sejumlah titik dengan lampu menyala cukup terang hingga ke gang-gang sempit yang banyak terdapat di dusun tersebut. Total 13 tiang lampu penerangan jalan dipastikan akan terpasang lampu penerangan jalan umum yang semakin menambah terang lingkungan dusun tersebut.

Purwanto (47), salah satu warga Dusun Jatisari, menyebut penerangan lampu yang dipasang di beberapa sudut jalan dan gang dusun, awalnya merupakan kegelisahan warga yang mengeluhkan beberapa sudut jalan gelap gulita saat malam hari. Selain berpotensi munculnya binatang buas saat malam hari dengan adanya perumahan warga yang berbatasan dengan perkebunan dan persawahan serta faktor keamanan, Purwanto dan warga lain sepakat untuk membuat beberapa lampu penerangan.

“Ide dan gagasan serta pembiayaan yang kami terapkan murni swadaya masyarakat, selanjutnya kami berkoordinasi dengan pihak PLN karena sebetulnya masyarakat mendapatkan jatah lampu penerangan jalan umum dari biaya tagihan listrik bulanan,” terang Purwanto, Kamis (13/7/2017), petang.

Setelah musyawarah bersama warga dan berkoordinasi dengan pihak PLN, instalasi listrik disiapkan dengan mengambil jalur dari kabel utama. Sementara, belasan tiang listrik dibuat oleh warga dengan melibatkan tukang las listrik untuk membuat tiang yang akan dilengkapi dengan saklar dan penutup lampu.

Biaya pembuatan satu unit tiang listrik dari besi berikut proses pembangunan menggunakan semen, per tiang menghabiskan dana Rp900 ribu, yang biayanya dibebankan kepada puluhan kepala keluarga di dusun tersebut.

Purwanto menyebut, berawal dari satu titik tiang yang dibuat dengan sistem cor menggunakan semen, selanjutnya lima titik tambahan lampu dipastikan menyala pada awal Juli dan sedang dalam proses pengerjaan sebanyak tujuh titik. Semua warga yang ikut membantu berupa iuran wajib sebesar Rp150.000 per kepala keluarga dan sebagian bahkan secara sukarela memberikan iuran lebih dari Rp300.000.

Beberapa sudut yang terang benderang di antaranya di dekat mushola, gardu poskamling serta beberapa sudut yang mulai terang sejak pukul 18.00 WIB hingga pukul 5.30 WIB pagi, dengan sistem saklar yang akan dimatikan dan dihidupkan oleh warga yang ada di dekat tiang listrik tersebut.

Muryono, salah satu warga Dusun Jatisari, menyebut jika menengok situasi beberapa tahun sebelumnya dusun tersebut merupakan satu dusun yang setiap gang gelap gulita. Bahkan sebagian warga enggan memasang lampu penerangan jalan. Selain alasan penghematan listrik, sebagian warga juga masih belum memiliki kesadaran akan pentingnya lampu penerangan saat malam hari dari aspek keamanan lingkungan.

“Ini murni program masyarakat dusun. Bukan dari dusun atau pemerintahan desa dan biaya yang kami gunakan iuran tanpa ada paksaan”, terang Muryono.

Selain lampu penerangan jalan umum yang ditargetkan akan dibuat di sejumlah titik dengan jumlah lebih dari 13 titik, dusun tersebut juga telah menunjukkan pembangunan tak harus menunggu kucuran dana dari pemerintah desa. Jalan-jalan dusun yang kini merupakan jalan aspal dikatakan Muryono juga murni swadaya masyarakat dan sebagian sumbangan pribadi warga dengan membuat jalan rigid semen.

Muryono menyebut, dengan adanya lampu penerangan yang baik, selain memudahkan warga sekaligus bisa meningkatkan keamanan di wilayah tersebut, ditambah dengan adanya Gardu Poskamling yang terang pada malam hari. Ia berharap, konsep penerangan secara swadaya tersebut bisa ditiru warga lain dan penerangan bisa meminimalisir tindak kriminal pada malam hari.

Lihat juga...