Tanjabar Kembangkan Sentra Produksi Benih Padi
JAMBI — Kabupaten Tanjung Jabung Barat mengembangkan sentra produksi benih padi melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) di area sawah seluas 10 hektare di Desa Sri Agung Kecamatan Batang Asam dalam rangka mendukung kemandirian benih petani.
“Dengan adanya kemandirian produksi benih ini nantinya petani yang ada di Desa Sri Agung dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, bahkan bisa menyuplai kebutuhan benih di daerah lainnya,” kata Safrial di Kualatungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Rabu (12/7/2017).
Panen raya benih padi varietas inpari di desa itu bukan hanya padi konsumtif melainkan padi benih, dengan jenis padi Inpari 30 dari Balitbang Kementerian Pertanian.
Kegiatan itu dihadiri Dandim 0419/Tanjab Letkol Arh Hary Sassono Utomo, Kepala BPTP Provinsi Jambi Dr Muhammad Takdir Mulyadi, Asisten Ekbang Amdani, Kadis Tanaman Pangan dan Horikultura Zainuddin serta para kepala desa se-Kecamatan Batang Asam dan serta seluruh Kelompok Tani Karya Mukti dan Kelompok Tani Sri Arumse Desa Sri Agung.
Langkah itu sebagai upaya meningkatkan produksi padi guna mendukung program UPSUS Pajala.
“Dengan konsistensi nantinya saya harapkan Sri Agung tidak hanya menjadi Desa Mandiri Benih saja melainkan juga Kabupaten Mandiri benih atau bahkan Kabupaten surplus benih,” kata bupati.
Tentunya tetap meningkatkan kualitas dari benih itu sendiri dan mempersiapkan pasarnya. Pasar dikembangkan untuk mengamankan produksi benih padi mereka.
“Karena bahaya bila produksinya banyak akan tetapi tidak mempunyai pasar untuk pemasaran,” kata Safrial.
Bupati juga menyampaikan kepada seluruh petani agar memaksimalkan lahan pertanian dan berharap dukungan dari BPTP Jambi, para penyuluh pertanian serta instansi terkait untuk selalu mendampinginya agar produktivitas yang diharapkan semakin meningkat. Selain itu mendorong peningkatan pendapatan petani yanglebih baik.
Kepala BPTP Jambi Dr Muhammad Takdir Mulyadi mengatakan padi varietas inpari 30, 32 dan 33 memiliki berbagai keunggulan, di antaranya rata-rata produksi mencapai 6,8 ton sampai 7 ton per hektare dengan masa tanam yang singkat hanya 111-117 hari sampai masa panen dibanding varietas lainnya.
“Benih agak tahan terhadap berbagai hama wereng, kemudian agak cocok pula ditanam pada sawah tadah hujan. Varietas ini tidak cepat membusuk,” katanya.
Menurut dia, hasil panen di atas lahan percontohan BPTP Desa Sri Agung itu, untuk kebutuhan bibit atau benih padi yang akan terus dikembangkan para penangkar benih padi. [Ant]