Soal Tarif tak Wajar, Wajah Pariwisata Dikhawatirkan Tercoreng
PADANG — Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat, Oni Yulvian, meminta kepada pihak swasta pengelola lokasi wisata untuk menetapkan tarif karcis masuk sewajarnya saja. Tidak hanya karcis, tarif di rumah makan juga diminta untuk memajang harga makanan yang dijual agar kenyamanan pengunjung yang datang ke Sumbar tidak merasa dirugikan.
Menurut Oni, jika ingin wisata di Sumbar menjadi tujuan utama wisatawan lokal ataupun asing, perlu ada cara untuk memberikan kenyamanan terhadap para wisatawan dan bukan malah memanfaatkan momen dengan cara menetapkan tarif dengan jumlah yang terlalu mahal.
“Selama lebaran Idul Fitri kemarin, ada laporan terkait mahalnya karcis masuk di Wisata Puncak Lawang yang ada di Kabupaten Agam yakni sebesar Rp25.000. Kondisi yang demikian jika bergerak dari sisi pemerintah, akan sulit. Karena Puncak Lawang dikelola oleh pihak swasta, dan bukan dari pemerintah,” katanya, Kamis (6/7/2017).
Ia khawatir, jika hal tersebut tidak segera diubah, maka wisata di Sumbar bisa dinilai buruk di mata pengunjung. Padahal, wisata yang dikelola oleh pemerintah telah memberikan kenyamanan dan tidak ada istilah memainkan tarif sesuka hati.
Untuk itu Dinas Pariwisata Sumbar berharap betul kepada pihak swasta agar jangan menetapkan tarif sesuka hati, karena hal tersebut akan membuat lokasi wisata yang dinilai mahal itu sepi pengunjung.
“Mereka perlu juga memikirkan akibatnya, karena jika pengunjung sudah merasa tidak nyaman, dampaknya lokasi wisata itu bakal tidak dikunjungi oleh wisatawan di masa mendatang. Jadi, kepada pengelola wisata, mau lokasi wisatanya dikunjungi untuk tahun ini saja, atau tetap dikunjungi hingga masa mendatang. Jika ingin selalu dikunjungi, maka berikanlah rasa nyaman itu seperti halnya tarif karcis,” tegasnya.
Oni menyebutkan, untuk Puncak Lawang sebaiknya tidak perlu dihadirkan penampilan musik anak band atau semacamnya, karena untuk Puncak Lawang itu yang ingin dilihat pengunjung ialah pemandangannya. Udaranya yang sejuk dan kenyamanan berada di lokasi wisata.
Sedangkan terkait rumah makan, Oni menegaskan dari pemerintah telah sering meminta dan bahkan menyurati setiap rumah makan untuk memajang tarif makan agar masyarakat atau yang ingin memesan makanan bisa mengukur kemampuan biaya untuk menikmati hidangan di rumah makan.
“Soal tarif rumah makan ini juga ada laporan yang masuk, tarif biayanya di luar dugaan, dan cukup banyak pengunjung yang protes terhadap rumah makan tersebut. Hal semacam ini sungguh membuat saya heran juga, sudah dibilangin malah diabaikan saja,” katanya.

Sementara itu, Melba yang turut berkunjung ke wisata Puncak Lawang mengakui sebelum lebaran karcis untuk masuk ke Puncak Lawang itu hanya Rp10.000 per orang. Namun, pas lebaran kemarin naik menjadi Rp25.000 per orang. Kata yang minta karcis, naiknya karcis masuk, karena ada penampilan anak band.
“Padahal saya masuk ke Puncak Lawang bukan untuk menyaksikan band, tapi menikmati keindahan alam dan pemandangan di Puncak Lawang itu. Hal ini sungguh membuat saya bersama suami yang datang ketika itu merasa tidak nyaman,” katanya.
Ia juga menyebutkan, untuk wisata Puncak Lawang itu tidak usahlah ada penampilan anak band, karena keindahan pemandangan di Puncak Lawang sudah sangat membuat pengunjung merasa senang dan nyaman. Karena yang membuat pengunjung tertarik untuk datang ke Puncak Lawang itu pemandangan dan asri alamnya, bukan untuk menonton penampilan anak band.