SEMARANG — Relokasi Pasar Johar di kawasan Masjid Agung, Jawa Tengah, (MAJT) hingga sekarang dalam kondisi memprihatinkan. Dari semua pedagang eks korban kebakaran Pasar Johar Lama, hingga kini hanya separuh yang menempati relokasi di kawasan MAJT tersebut.

Pedagang menuding pemerintah tidak serius mengelola tempat relokasi, karena tidak dilengkapi dengan fasilitas pendukung, seperti sulitnya akses jalan dan minimnya transportasi umum menuju relokasi MAJT tersebut. Hal ini menyebabkan Pasar Johar Baru sepi dan tidak maksimal. Parahnya, akibat kondisi ini banyak pedagang kecil gulung tikar dan justru menyewakan tempat jualannya.
Pedagang Johar Baru, Sulastri, mengatakan Pasar Johar Baru sangat tidak nyaman jika dibandingkan dengan Pasar Johar Lama. “Dulu di pasar Johar Lama terletak di tengah kota yang banyak pemukiman penduduk, sehingga banyak yang berbelanja di Pasar Johar. Sekarang ini, letak relokasi Pasar Johar jauh dari pemukiman penduduk, ditambah aksesnya juga susah membuat Pasar Johar Baru sepi pengunjung”, kata Sulastri, saat ditemui Kamis, (13/7/2017).
Sulastri juga mengeluhkan minimnya transportasi umum menuju Pasar Johar Baru, yang juga telah menyusahkan bagi pedagang maupun pengunjung. Lebih-lebih bagi para pedagang yang berusia lanjut yang harus menunggu transportasi umum dengan waktu lama. Selain itu, adanya pembayaran karcis masuk sebesar Rp2.000, menjadikan pengunjung semakin enggan untuk berbelanja di Pasar Johar Baru.
“Kalau di tempat yang dulu, pembeli masih mau ke pasar hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari, misal membeli bawang sekilo itu masih mau. Sedangkan sekarang mana mungkin pembeli mau berbelanja ke Pasar Johar Baru untuk membeli kebutuhan sehari-harinya. Bayar masuk saja sudah 2000 rupiah, ditambah lagi biaya transportasi untuk menuju pasar yang tidak murah, tentu banyak sekali orang kecil yang akhirnya malas untuk ke Pasar Johar Baru”, keluh Sulastri.
Selain itu, menurut Sulastri, sepinya pengunjung di Pasar Johar Baru itu dikarenakan Pasar Johar Lama masih digunakan, sehingga para pembeli tentu lebih memilih Pasar Johar Lama daripada Pasar Johar Baru. Dirinya berharap, agar pemerintah serius dalam membantu proses relokasi Pasar Johar dan tidak setengah-setengah. Karena itu, dirinya menghendaki pemindahan seluruh pedagang ke Pasar Johar Baru harus segera dilakukan.
“Pemerintah harusnya lebih adil, kalau memang semua pedagang harus pindah, ya pindahkan semua. Kalau dipindahkan semua pasti kan Pasar Johar Baru akan ramai, dan pembeli pun mau tidak mau akan ke Pasar Johar Baru, sebab tidak ada pilihan lain”, imbuhnya.
Sementara itu, pembeli Pasar Johar Baru, Handayani, juga mengeluhkan lokasi pasar yang sulit diakses. Dirinya harus naik transportasi umum dua kali dan tetap harus berjalan kaki juga untuk menuju lokasi pasar. Kesulitan menuju Pasar Johar Baru ini membuatnya baru 3 kali mengunjungi tempat relokasi ini.
“Dibanding Pasar Johar Lama, menurut saya sangat susah menuju Pasar Johar Baru. Saya baru 3 kali mengunjungi tempat relokasi ini, padahal sebelum di relokasi saya sering ke Pasar Johar. Bahkan, sekarang pun saya beberapa kali masih ke Pasar Johar Lama, karena mudah diakses”, ujar Yani.
Selain masalah akses menuju pasar, Handayani juga mengeluhkan adanya biaya masuk Pasar Johar. Dirinya juga merasa pedagang di Pasar Johar Baru masih sedikit dan banyak kios yang masih tutup, sehingga referensi saat akan membeli barang yang dibutuhkan pun sedikit.
Handayani berharap, agar pemerintah bisa mencari solusi masalah akses menuju Pasar Johar Baru dan memperbanyak jumlah transportasi umum untuk menuju Pasar Johar Baru. Dia juga berharap, agar biaya masuk menuju pasar juga dihilangkan.