Nelayan Danau Singkarak Keluhkan Cuaca Buruk

SOLOK — Hasil tangkapan ikan jenis bilih oleh nelayan di Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, akhir-akhir ini menurun sangat drastis. Nelayan di Singkarak, Dasril mengatakan, sejak cuaca sering hujan dan angin kencang, membuat hasil tangkapan ikan menjadi menurun. 

Ikan bilih, khas Danau Singkarak. -Foto: M. Noli Hendra

“Hujan dan angin kencang membuat arus air menjadi kuat. Hal ini membuat ikan bilih sulit untuk ditangkap melalui jaring yang panjangnya mencapai 30 meter dan kedalaman 1,5 meter,” katanya, ketika ditemui di Danau Singkarak, Kamis (13/7/2017).

Buktinya, dengan kondisi arus air yang kuat tersebut, hasil tangkapan nelayan hanya 1,5 kilogram per hari. Padahal, pada hari dengan kondisi air danau lebih tenang, hasil tangkapan ikan bilih bisa mencapai 5 kilogram per hari.

Kendati hasil tangkapan menurun, tidak mempengaruhi harga ikan di tingkat pasaran. Ikan bilih basah masih dijual Rp75.000 per kilogram, dan untuk ikan bilih yang telah digoreng sebesar Rp300.000 per kilogram.

“Di Danau Singkarak ini ada sekira 30-an nelayan yang menangkap ikan bilih. Jadi, dengan kondisi yang seperti saat ini, dari puluhan nelayan itu, hanya berhasil menangkap ikan bilih sebanyak 10-30 kilogram per hari,” ujarnya.

Menurut Dasril, untuk menangkap ikan bilih tersebut, nelayan harus bermalaman di danau. Berangkat sore dan pulang ke tepian pada pagi harinya. Jadi, dengan kondisi yang demikian, menurunnya hasil tangkapan, juga membuat para nelayan menjadi resah.

Sementara itu, warga setempat, Yurnalia, mengaku meski telah tinggal cukup lama di daerah Singkarak, tidak pernah bosan memasak dan memakan ikan bilih. Selain rasa ikan yang enak digoreng, ikan bilih juga merupakan ikan khas di Danau Singkarak.

“Saya cukup sering membeli ikan bilih ini. Terkadang goreng ikan bilihnya saya campur dengan cabe merah dan hijau. Bahkan, bila ada sanak-saudara yang datang, saya kasih oleh-oleh ikan bilih ini,” ucapnya.

Lihat juga...