Pedagang Beras Akui Permintaan Beras Medium Meningkat Pada Awal Masa Tanam
LAMPUNG—Sejumlah pedagang beras dan pemilik penggilingan padi di Kabupaten Lampung Selatan mengakui permintaan akan beras kelas medium mulai meningkat bersamaan dengan dimulainya musim tanam padi di sejumlah wilayah atau mulai berkura ngnya pasokan padi dari petani.
Menurutnya Ibu Suradi, salah satu pedagang beras di pasar tradisional Desa Pasuruan tidak adanya pasokan gabah dari petani membuat sebagian masyarakat memilih membeli beras di toko beras.
Persoalan adanya beras yang diduga kelas medium yang dikemas dan dijual dengan merk tertentu diakui Suradi ikut menjadi faktor penyebab masyarakat terutama kaum ibu rumah tangga membeli beras curah kelas medium dibandingkan beras premium dalam kemasan.
Dampak dari adanya persoalan beras merk tertentu yang dianggap bermasalah dirinya bahkan mengalami kerugian hingga jutaan rupiah karena beras merk tertentu yang dipersoalkan juga dijual di toko miliknya.
Tanpa mau menyebut merk namun menunjukkan beras yang dimaksud ia mengaku imbasnya stok sebanyak lima karung dengan merk tertentu tersebut tidak laku. Ibu Suradi kebingungan karena tidak ada mekanisme pengembalian atau langkah lanjutan terkait beras premium yang diakuinya dijual dengan harga Rp13 ribu per kilogram tersebut.
“Sistem pembelian kita terputus sehingga saat barang tidak laku otomatis kami tidak bisa klaim kerugian. Jadi solusinya mungkin kami konsumsi sendiri karena sudah kita beli dan masyarakat juga enggan membelinya karena lebih mahal dari beras kelas biasa dan kelas medium,” terang ibu Suradi saat dijumpai Cendana News di toko miliknya, Kamis siang (27/7/2017)
Persoalan beras tersebut diakuinya justru berdampak positif bagi penjualan beras curah dan beras kemasan yang dijualnya dengan kemasan ukuran 10 kilogram, 15 kilogram hingga ukuran 25 kilogram. Stok beberapa ton beras yang dimiliki oleh Suradi tersebut sebagian dibeli oleh para pemilik usaha rumah makan,warung kecil termasuk pedagang nasi goreng dan pecel lele yang membutuhkan beras.

Suradi mengaku beras yang dijualnya memiliki beberapa varietas diantaranya jenis beras Muncul lama yang dijual dengan harga Rp8.000 per kilogram, beras Muncul baru dengan harga Rp8.500 per kilogram beras IR64 dengan harga Rp9.000 per kilogram, beras kemasan jenis Roja Lele dijual dengan harga Rp 9.000 per kilogram dan beras kemasan merk Manggis dijual dengan harga Rp9.000 per kilogram.
Selain faktor adanya persoalan beras kemasan jenis premium dengan merk tertentu yang imbasnya tidak dibeli masyarakat dan berimbas ke pembelian beras jenis lain ia menduga belum adanya masa panen membuat masyarakat yang tak memiliki sawah membeli beras curah di toko miliknya.
Pemilik penggilingan padi di Desa Klaten,Marjuki saat ditemui Cendana News di gudang penggilingan padi miliknya mengaku sebagian besar masyarakat petani di wilayah tersebut melakukan sistem penitipan di penggilingan padi miliknya. Pada awal musim tanam rendengan ini ia bahkan menyebut sebagian petani memilih menggilingkan padi yang disimpan dibanding membeli beras di toko.
“Selain adanya polemik terkait beras premium atau dalam kemasan sebagian petani dan masyarakat lebih memilih beras lokal serta membeli langsung dari tempat penggilingan”terang Marjuki.
Ia menyebut sebagian petani yang menitipkan padi rata rata menyimpan sebanyak 10 hingga 15 kuintal bahkan lebih yang disimpan hingga masa panen berikutnya sehingga petani tidak pernah kekurangan pasokan beras. Beberapa masyarakat yang membeli beras ke penggilingan tanpa memiliki simpanan diakui Marjuki biasanya membeli dari pemilik gabah yang sudah digiling.
Saat ini di penggilingan padi diakuinya beras kualitas biasa dijual dengan harga berkisar Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram dan diprediksi akan merangkak naik menjelang Hari Raya Idul Adha dan seiring dengan masa tanam sebagian petani dengan jumlah pasokan gabah mulai terbatas.
Sejumlah pedagang beras yang membeli beras dari penggilingan diakui Marjuki untuk jenis beras curah rata rata mengambil keuntungan Rp500 perkilogram di antaranya semula harga Rp7.500 dijual dengan harga Rp8.000.
Masyarakat yang sebagian memiliki acara hajatan dan syukuran pada bulan Juli ini diakui Marjuki menjadi salah satu penyebab meningkatnya permintaan akan beras jenis IR64 yang masuk kelas medium dibandingkan membeli beras premium yang harganya bisa mencapai Rp13 ribu per kilogram.
