LEBAK –— Nilai tukar petani Banten secara umum selama Juni 2017 naik 1,34 persen dari NTP pada bulan sebelumnya dari 98,86 menjadi 100,19.
Kenaikan NTP pada Juni 2017 karena laju kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,85 persen dari laju kenaikan pada indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik sebesar 0,51 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Sabtu (8/7/2017).
Kenaikan NTP itu disebabkan oleh naiknya NTP pada seluruh subsektor, yakni subsektor tanaman pangan yang naik 0,92 persen, subsektor hortikultura 0,06 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 2,07 persen, subsektor peternakan 0,90 persen, dan subsektor perikanan dengan kenaikan 0,96 persen.
Soebeno mengatakan bahwa It yang menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani pada bulan Juni mengalami penaikan sebesar 1,85 persen dari It Mei, yaitu dari 125,71 menjadi 128,04.
Sebagaimana NTP secara umum, kenaikan It pada Juni 2017 disebabkan naiknya It pada seluruh subsektor, yakni subsektor tanaman pangan yang naik 1,48 persen, It subsektor hortikultura 2,50 persen, It subsector tanaman perkebunan rakyat 2,72 persen, subsektor peternakan 1,09 persen, dan It subsektor perikanan yang naik 1,46 persen.
Indeks harga yang dibayar petani terdiri atas dua golongan, yaitu konsumsi rumah tangga (KRT) dan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM).
Pada Juni 2017, indeks harga yang dibayar petani mengalami penaikan sebesar 0,51 persen. Hal ini terjadi karena indeks konsumsi rumah tangga mengalami penaikan 0,59 persen dan indeks BPPBM juga naik sebesar 0,33 persen. Kenaikan indeks BPPBM ini disebabkan naiknya lima dari enam kelompok, yakni kelompok pupuk, obat-obatan, dan pakan naik 0,04 persen; biaya sewa dan pengeluaran lain naik 0,06 persen; kelompok transportasi naik 0,03 persen; kelompok penambahan barang modal naik 0,48 persen; kelompok upah buruh mengalami kenaikan 0,68 persen. Sementara itu, pada kelompok bibit justru turun 0,05 persen.
Perubahan indeks konsumsi rumah tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di perdesaan. Pada Juni 2017, dari pantauan di empat kabupaten di Provinsi Banten, terjadi infllasi di perdesaan sebesar 0,59 persen.
Pemicu inflasi tertinggi adalah inflasi pada kelompok sandang, yakni sebesar 2,20 persen, yang diikuti oleh kelompok perumahan 1,74 persen; kelompok bahan makanan 0,76 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,27 persen; kelompok transportasi dan komunikasi 0,16 persen. Sementara itu, terjadi deflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,14 persen; kelompok kesehatan 0,02 persen.
Dari 33 provinsi di Indonesia, sebanyak 15 provinsi yang NTP-nya berada di atas angka 100. NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Gorontalo dengan nilai indeks sebesar 105,21 yang diikuti Provinsi Nusa Tenggara Barat 105,08 dan Provinsi Sulawesi Barat 104,65.
Nilai tukar petani terendah terjadi di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 92,40. NTP nasional sebesar 100,53 yang mengalami peningkatan sebesar 0,38 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 100,15.
Ketahanan Pangan di Banten
Luas panen padi di Kabupaten Lebak, Banten, mencapai 8.404 hektare selama Juni 2017 seluas dan mampu menyumbang ketahanan pangan di daerah itu.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distabun) Kabupaten Lebak, Sabtu, panen padi pada Juni lalu seluas 8.404 hektare dan dilaporkan 55 hektare mengalami gagal panen.
Tanaman padi yang gagal panen atau puso di Kecamatan Malingping disebabkan serangan hama wereng batang coklat (WBC). Produksi pangan mencapai 40.036 ton dengan luas tanam 32.516 hektare.
Produksi panen Juni rata-rata 5,8 ton gabah kering pungut (GKP) per hektare.
“Kami menilai produksi pangan dari hasil panen menurun akibat serangan hama WBC dan tikus,” kata Supardi, seorang petugas pencacat laporan pertanaman pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distabun) Kabupaten Lebak saat dihubungi di Lebak, Sabtu.
Menurut dia, meski terjadi serangan hama, namun tidak berdampak terhadap produksi pangan di Kabupaten Lebak sebab sisa angka tanam seluas 32.516 hektare dipastikan panen berlangsung sampai September.
Saat ini petani di berbagai daerah sudah melaksanakan gerakan percepatan tanam sehubungan curah hujan di daerah itu cenderung meningkat. “Kami yakin produksi pangan 2017 surplus, kendati ada serangan hama,” ujarnya.
Yadi (55), petani di Desa Cikatapis, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, mengatakan petani memasuki panen padi dari hasil tanam Mei lalu.
Kemungkinan panen Juli 2017 cukup bagus dibandingkan Februari lalu yang terserang hama WBC (Ant).