Kuliner Pindang Baung Sambal Calo, Sajian Khas Rumah Makan Tepi Kali
LAMPUNG – Berada di pinggir muara Sungai Way Pisang dan Sungai Way Asahan yang menjadi perlintasan warga Kecamatan Palas ke Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan menjadikan pasokan akan ikan air tawar kakap putih, ikan gabus, dan ikan baung sebagai kuliner khas pindang.
Menurut Tanti (35) sebagai pengelola rumah makan, makan di tepi kali atau sungai dengan menu utama kuliner yang disediakan di antaranya pindang ikan baung, ikan kakap putih dan udang satang mempunyai sensasi yang khas. Apalagi jika disajikan dengan berbagai jenis lalapan.
Rumah makan di tepi sungai yang berada di jalan lintas antar kecamatan dan berada di Desa Palas Jaya Kecamatan Palas tersebut, menurut Tanti merupakan satu-satunya rumah makan yang menyediakan menu pindang baung. Ikan baung sendiri merupakan sejenis ikan lele air tawar yang kerap digunakan sebagai bahan pembuatan pindang dengan bumbu rempah- rempah.
Tanti menyebut rumah makan yang sejatinya sebuah rumah biasa yang menjual menu pindang baung tersebut bahkan kerap menjadi langganan sejumlah pejabat yang ingin merasakan makan menu makanan hasil ikan air tawar. Sebagai bahan baku pindang baung sejumlah nelayan pencari ikan kerap mengantarkan ikan sungai tersebut untuk diolah menjadi pindang dengan satu juru masak yang sudah puluhan tahun menyediakan menu pindang baung.
Sabana (65) yang merupakan juru masak di rumah makan yang berada di tepi sungai tersebut mengaku sudah memasak selama puluhan tahun bahkan sejak buka sekitar tahun 1975. Waktu itu diakuinya masih memasak menggunakan tungku kayu dengan bahan bakar kayu. Kini seiring dengan adanya kompor gas proses memasak pindang lebih cepat dan proses pemanasan bisa dilakukan saat pelanggan datang.
Sabana yang dipercaya sebagai juru masak di rumah makan tersebut mengaku bahan pembuatan pindang ikan baung dengan sambal calo membutuhkan bumbu-bumbu khas yang banyak diperoleh dari wilayah Palas untuk pembuatan pindang ikan baung. Proses pembuatan pindang baung diawali dengan pembuatan bumbu yang diproses dengan cara ditumbuk secara manual diantaranya kunyit, jahe, bawang putih, daun serai, asam kandis, tomat, bawang daun dengan penyedap rasa serta garam secukupnya untuk menambah cita rasa gurih yang dimasak dalam air di wajan.
“Saat air sudah mendidih ikan baung yang sudah dipotong dan dibersihkan akan dimasukkan ke dalam wajan dan dimasak hingga empuk serta merasuk seluruh bumbu yang disediakan,” terang Sabana.
Berbeda dengan rumah makan lainnya yang menyediakan maskimal tiga jenis lalapan, lalapan yang disediakan oleh rumah makan ini terdiri dari enam jenis lalapan diantaranya
daun kemangi, lencak, daun jambu mede, mentimun, terong lalap, dan selada. Bagi pecinta lalapan berbagai varian lalapan tersebut menambah cita rasa pedas sambal calo yang merupakan campuran terasi, cabe merah, bawang merah dan tomat.
Sambal calo yang memiliki rasa pedas dan asam tersebut dominan dicampurkan pada nasi hangat yang akan menjadi menu utama bersama dengan pindang baung yang telah disediakan. Lukman Hakim, salah satu pelanggan tetap rumah makan dengan menu pindang baung tersebut mengaku kesegaran rasa pindang baung membuatnya selalu menikmati ikan tersebut setiap akhir pekan bersama keluarganya.
Rasa yang cukup lezat dan gurih dari pindang ikan baung pun dibanderol dengan harga yang sesuai dengan rasa penggoyang lidah dengan satu porsi makan ikan baung diantaranya kepala besar dan bagian badan ukuran besar seharga Rp50 ribu sementara untuk ukuran kecil dijual dengan harga Rp30 ribu.
Tanti mengaku menjalani usaha rumah makan tersebut selama bertahun-tahun sebagai usaha keluarga. Selain disantap di tempat, sebagian pelanggan meminta pindang baung dibungkus sebagai oleh-oleh keluarga. Sebagian pelanggan yang memesan ikan baung bahkan kerap memesan melalui telepon dan sebagian memesan beberapa jam sebelum datang ke rumah makan tepi sungai tersebut.
