Kasus Perdagangan Orang di NTT Masih Sangat Tinggi
MAUMERE — Kasus perdagangan orang atau human trafficking di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama 2015 dan 2016 masih sangat tinggi, khususnya yang menimpa kaum perempuan.
“Hal ini perlu mendapat perhatian serius,” sebut Desideramus Bitan, ketua panitia kunjungan mahasiswa Katolik internasional atau International Movement of Catholic Students (IMCS) saat kunjungan ke Flores, khususnya Sikka saat pertemuan, Jumat (7/7/2017) malam.
Dikatakan Desideramus, berdasarkan data yang dileuarkan Polda NTT, terdapat 1.667 calon pekerja perempuan (TKW) illegal dari NTT yang tertangkap tangan akan diselundupkan ke luar daerah.
“Mereka akan dikirim ke Medan, Sumatera Utara dan selanjutnya akan dikirim ke Malaysia, dimana hampir semua pekerja tersebut data identitas dirinya seperti umurnya dipalsukan,” ungkapnya.
Pada 2015 terang Desideramus, kejahatan human trafficking yang berhubungan dengan Tenaga Kerja Wanita (TKW) illegal ini berjumlah 941 orang, sementara pada 2016 jumlah ini menurun menjadi 726 orang yang tertangkap akan diselundupkan ke luar NTT.
Sikka sebagai salah satu kabupaten di NTT sebutnya merupakan daerah penyumbang human trafficking terbesar dengan jumlah 92 orang pada tahun 2016 dan angka ini mengindikasikan bahwa kabupaten Sikka identik dengan kabupaten penjual manusia.
“Angka ini menuntut sebuah kemendesakan akan pembenahan dan perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat kabupaten Sikka yang notabenenya masih berada di bawah garis kemiskinan,” tegasnya.

Sementara itu ketua presidium pusat PMKRI Angelinus Wake Kako mengatakan, kegiatan kunjungan mahasiswa Katolik internasional ini biasa dilakukan di berbagai negara, dimana kali ini di Indonesia dan NTT terpilih menjadi tuan rumah.
Provinsi NTT sebut Angelo sapaannya dipilih karena selain itu isu keadilan sosial, kasus perdagangan manusia di provinsi NTT saat ini merajalela sehingga hal ini menjadi salah satu pertimbangan.
Pertimbangan lain kata Angelo, di tingkat internasional Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan, setelah merebaknya berbagai aksi teror dan kekerasan yang berlatarbelakang SARA, (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) padahal dulunya negeri ini diakui dunia sebagai negara yang paling harmonis dan hidup rukun antar suku, agama dan golongan.
Provinsi NTT terangnya, dikenal sebagai model bagaimana hidup rukun, harmonis dalam bermasyarakat meski memiliki kemajemukan sehingga perlu didorong agar dalam kegiatan ini dapat menjadi momentum mengkampanyekan Indonesia sebagai negara, tempat yang aman, damai dan harmonis.
“Provinsi NTT harus segera mewakili Indonesia untuk mengkampanyekan Indonesia sebagai land of harmoni ke tingkat internasional,” pungkasnya.