Jaga Kelestarian Tanaman, Warga Way Kalam Terapkan Pola Tebang Selektif
LAMPUNG — Kebutuhan akan kayu sebagai bahan bangunan dan mebel membuat sejumlah pemilik kebun menjual kayu yang dimiliki untuk kebutuhan hidup dan sebagian dilakukan untuk peremajaan tanaman berusia tua.
“Sebetulnya ada dua faktor masyarakat menebang kayu untuk dijual di antaranya kebutuhan ekonomi serta peremajaan tanaman tak produktif diganti menjadi tanaman produktif sehingga warga bisa mendapatkan hasil dari tanaman kayu yang ditanam,” terang Sodik warga Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News di kaki Gunung Rajabasa, Kamis (27/7/2017).
Sodik dan sebagian warga di bawah Gunung Rajabasa yang tinggal di kawasan hutan lindung sengaja melakukan penanaman kayu sebagai sumber penghasilan harian, bulanan dan investasi tahunan. Selama tinggal di Way Kalam, dirinya mengaku menanam puluhan jenis kayu pada lahan seluas satu hektar.
Khusus untuk tanaman tidak produktif yang kerap dijual, di antaranya jenis durian dan kelapa dengan melihat usia dan produktifitas. Sebelum dijual sebagian petani telah menyediakan bibit yang ditanam untuk pengganti sehingga keberlangsungan produksi masih bisa dimanfaatkan.
“Kearifan lokal warga di sini sengaja menanam berbagai jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan buahnya dan juga kayunya sehingga kami tidak hanya mengandalkan satu hasil saja,” terang Sodik.
Pola penebangan selektif dengan acuan usia pohon, produktifitas pohon dan jenis jenis kayu dijualnya dengan sistem borongan rata rata Rp6 juta hingga Rp7 juta menyesuaikan jenis dan ukuran.
Beruntung bagi Sodik dengan adanya pola pendampingan dari Kesatuan Polisi Penjaga Hutan untuk melindungi kawasan hutan sebagian besar masyarakat diberikan bibit kayu dengan pola Kebun Bibit Rakyat (KBR) untuk jenis tanaman sengon dan jabon.
Program dari Kementerian Kehutanan yang sudah berjalan selama beberapa tahun tersebut bahkan telah memberikan hasil dengan dipanennya ratusan kubik sengon dan jabon yang ditanam sebagai tanaman investasi dengan tanaman sela pisang dan kakao yang masih produktif.

Khusus kayu medang banyak dijadikan kebutuhan lokal untuk pembuatan mebel dan bahan bangunan dengan kebutuhan mencapai ratusan kubik per bulan.
“Kita menyebutnya kayu merah dan banyak dikirim ke Bintaro dan Cianjur sehingga banyak masyarakat yang duriannya sudah tak produktif dijual namun saat ini banyak petani menanam sengon dan jabon di lahan mereka untuk kebutuhan kayu log dan palet,” terang Jamal.
Meski melakukan penebangan untuk jenis kayu tertentu dengan jumlah ratusan kubik seiring kesadaran masyarakat akan mahalnya harga kayu sesuai dengan jenisnya dari harga Rp800 ribu hingga Rp2 juta perkubik banyak warga mulai menanam kayu. Regenerasi tanaman kayu tersebut diakuinya bisa memenuhi kebutuhan pengusaha penggergajian kayu sehingga pasokan tetap terpenuhi dan peremajaan terus dilakukan.