SEMARANG – Gandos merupakan salah satu makanan khas Semarang. Gandos biasanya di jual di depan sekolah dasar sebagai jajanan anak-anak yang enak dan sehat. Orang tua seringkali khawatir akan jajanan anak-anaknya yang seringkali mengandung pengawet, gula buatan, dan pengembang. Gandos sebagai jajanan tradisional dapat menjadi solusi jajanan yang sehat bagi anak-anak.
Penjual Gandos, Gimanto, menjelaskan, Gandos merupakan jajanan yang terbuat dari kelapa muda dan tepung beras. Awalnya kelapa muda diparut dan dibuat santan. Hasil parutannya tidak dibuang, melainkan dicampur dengan santai dan tepung beras. Setelah itu aduk hingga menjadi adonan yang tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental.
Setelah itu adonan dituangkan di wajan yang berbentuk seperti perahu. Wajan itu sebelumnya sudah diletakkan di atas kompor sehingga adonan kemudian dipanaskan dalam waktu tertentu. Adonan di wajan tersebut lalu ditutup supaya cepat matang. Dalam beberapa menit, Gandos sudah matang dan sudah siap disantap. Biasanya untuk menambah rasa, Gandos ditambahkan dengan gula pasir, blue band, atau ceres.
“Gandos itu jajanan yang sehat. Bisa dilihat dari bahan dan cara masaknya, tidak menggunakan pengembang kue, gula buatan, bahan pengawet dan juga minyak. Jadi selain enak, gandos juga sehat,” tukas Gimanto saat ditemui Cendana News, Sabtu (22/7/2017).
Menurut Gimanto, Gandos merupakan makanan berupa jajanan khas jawa. Sejak dulu jajanan Gandos sudah bisa ditemui di Semarang dan bisa dikatakan salah satu jajanan khas Semarang. Namun di beberapa kota dengan budaya jawa, Gandos juga bisa ditemukan, seperti di Solo, Banyumas, dan kota-kota sekitar Semarang lainnya.
“Gandos sebenarnya ada di daerah-daerah tempat berkembangnya budaya Jawa, hanya kadang memiliki nama yang berbeda-beda,” imbuh Gimanto.
Selain enak dan sehat, Gandos juga merupakan jajanan yang murah meriah. Satu buah gandos hanya dijual 600 rupiah. Benar-benar jajan yang cocok untuk anak-anak, meski orang dewasa juga banyak yang menyukainya.
Gimanto mengaku bahwa dengan adanya jajanan modern dengan bahan pengawet, tidak mempengaruhi peminat Gandos. Dia juga tidak merasa kalah saing dengan jajanan modern, sebab dia optimis kalau Gandos lebih sehat dibanding jajanan modern yang ada saat ini. Dirinya malah menganggap semakin langkanya jajanan tradisional, maka semakin banyak orang mencarinya sehingga omzet penjualan Gandos justru bertambah.
“Saya berharap semakin banyak orang berkampanye tentang cinta kuliner Indonesia sehingga jajanan tradisional seperti Gandos banyak yang mencari. Dan juga kalau banyak peminat itu berarti jajanan tradisional tidak akan punah begitu saja,” pesan Gimanto.
