Disdikpora DIY Evaluasi Pembiayaan Delapan Sekolah Khusus Olahraga
YOGYAKARTA — Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY akan mengevaluasi proses pembiayaan Sejolah Menengah Atas (SMA) khusus olahraga yang ada di DIY. Hal itu dilakukan seiring peralihan pengelolaan sekolah tingat SMA/SMK dari semula oleh Kabupaten/Kota ke Propinsi mulai tahun 2017 ini.
“Pelayanan pembiayaan terhadap sekolah khusus olahraga ke depan akan kita evaluasi. Jika tahun sebelumnya dana tambahan pembiayaan sekolah khusus ini diberikan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah, tahun depan ingin kita seragamkan,” ujar Kasi Perencanaan Sekolah Menengah, Disdikpora DIY, Bachtiar Nur Hidayat.
Di DIY sendiri, terdapat sebanyak delapan sekolah khusus olah raga yang tersebar di lima Kabupaten/Kota di DIY. Dijelaskan pada tahun 2017, pemerintah memberikan dana tambahan khusus dengan besaran berbeda-beda tiap sekolah antara Rp50-100juta per tahun. Jumlah itu diberikan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
Namun pada tahun ajaran 2018 mendatang Disdikpora mengusulkan pemberian dana tambahan sebesar Rp100juta per sekolah per tahun. Di samping bersumber dari pemberian dana tambahan pemerintah tersebut, sekolah masih diperbolehkan menarik biaya dari siswa sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain mengevaluasi proses pembiayaan sekolah, Disdikpora mengaku juga akan mengevaluasi model sekolah khusus olahraga. Dimana setiap sekolah nantinya akan diarahkan untuk memiliki pembinaan bidang olehraga tertentu. Selain lebih fokus, hal itu dinilai akan memudahkan pemerintah dalam hal ini Diadikpora dalam melakukan pembinaan maupun pengembangan.
“Selama ini tiap sekolah bisa menerima semua bidang olahraga apapun. Kita ingin nantinya karakteristik tiap sekolah diperkuat, sehingga memiliki bidang olah raga tertentu, sehingga lebih fokus satu jenis olahraga itu. Misal sekolah ini fokus pada sepakbola, sedang sekolah ini fokus pada badminton dsb,” katanya.
Menurut Bachtiar, dengan model seperti itu siswa yang memiliki bakat prestasi dibidang olahraga tertentu akan dapat dikumpulkan dalam satu sekolah, sehingga pembinaanya pun akan lebih ebektif. Selain itu proses pembiayaan juga akan lebih evisien. Pemenuhan fasilitas juga akan menjadi lebih cepat terpenuhi dan lebih mudah karena semua dilakukan secara terfokus.
“Jangan sampai sekolah khusus olahraga ini hanya sekedar untuk mencari prestasi bagi tiap sekolah saja. Kita ingin sekolah khusus olahraga ini benar benar bisa menjadi tempat pembinaan bagi siswa,” katanya.