JAKARTA – Batu Akik Pandan dapat dikatakan merupakan batu akik ciri khas orang Betawi. Batu pandan ini merupakan batu caesodony yang bersisik. Walaupun batu akik saat ini sudah mulai menurun peminatnya, namun bagi sebagian besar pecinta batu akik, penurunan tersebut tidak berpengaruh bagi mereka.
Adalah Fandi Lesmana, salah satu pengurus Komunitas Pandan Condet (KOMPAC) menceritakan awal mula berdirinya komunitas batu akik Pandan tersebut. KOMPAC lahir berawal dari adanya Pandan lovers yang merupakan cikal bakalnya. Para pecinta batu akik pandan ini selalu bertemu dan berkumpul bersama ketika ada event pameran batu akik, kontes-kontes batu akik, dan juga ada beberapa orang yang sering kumpul bareng membahas perihal batu akik pandan mulai dari sejarahnya, jenisnya, dan banyak hal.
Menilik sejarah, menurutnya, pandan itu berasal dari kata pendan pada zaman Belanda yang artinya liontin atau kalung yang dipakai oleh meneer meneer Belanda. Ada pula yang menceritakan bahwa filosofi batu pandan itu berasal dari daun pandan. Artinya dilihat dari bentuknya dilihat, dari variannya juga, seperti batu pandan kapas yang memiliki filosofi bahwa batu tersebut bisa dilihat dari pohon pandan yang baru keluar (baru tumbuh). Artinya bila daun pandan baru tumbuh pucuknya terlihat putih, bila sudah tua daun pandan terlihat seperti nanas warnanya. Kenapa pandan lumut yang berwarna hijau terbilang mahal karena bila dilihat dari filosofi lagi bahwa daun pandan yang berguna dan berfungsi untuk digunakan yakni daun pandan yang berwarna hijau.

Ada pula yang berfilosofi bahwa batu pandan berasal dari 3 aliran sungai yakni Bekasi, Jakarta, Tangerang (Cisadane, Citarum, Ciliwung). Dahulu batu pandan hanya 3 yang dikenal yakni pandan lumut, pandan sutra, dan pandan kapas. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak varian batu pandan seperti pandan sutra bulu domba, pandan gold, pandan sule, pandan unik, dan masih banyak lagi, kurang lebih sekitar 48 varian nama batu pandan.
“Pandan lovers itu sendiri merupakan sebutan untuk orang-orang yang memakai batu akik pandan, kumpul-kumpul biasa satu sama lain saling bercerita tentang batu pandan yang mereka dapatkan, saling bertukar informasi,” jelasnya, Minggu.
Pendel, begitu nama panggilannya, menjelaskan lagi bahwa KOMPAC pada akhirnya berdiri 3 tahun yang lalu ketika sudah ada beberapa komunitas-komunitas, beberapa chapter-chapter, dengan tujuan untuk mengumpulkan dan menyatukan komunitas yang sudah ada.
Menurutnya, keunikan batu akik Pandan sendiri itu banyak sekali mulai dari segi bentuknya, versinya, ikatannya, varian-variannya, dan hampir semua pengguna batu akik pandan ini bilang bahwa semua batu akik pandan tidak memiliki kesamaan satu sama lainnya. Dalam arti dilihat dari perbedaan sisiknya, ukuran, serta warna. Ambil contoh misalnya dirinya memiliki batu akik pandan nanas, dan temannya juga memiliki batu akik pandan nanas, bila dilihat berbarengan memang tampak sama, namun bila diperhatikan secara seksama memiliki perbedaan di dalamnya.
Katanya lagi, batu akik pandan ini seperti sidik jari manusia, dalam artian sidik jari manusia tidak ada yang sama. Walaupun ada seribu batu pandan kapas, itu tidak akan sama dengan yang saya miliki atau mungkin kamu punya, karena itu tadi, dilihat dari lebar sisiknya, jenis sisiknya, dan mungkin jumlah sisiknya juga belum tentu sama. Artinya satu batu pandan itu bisa kita cirikan, makanya rekan-rekan pecinta batu pandan banyak ada yang bilang batu pandan tersebut diberi nama seperti Clara, Hulk, dan banyak lagi sesuai keinginan si pemakai. Bila batu yang kita punya beralih ke orang lain atau berpindah tangan sampai lima kali, tentu kita sebagai pemilik awalnya akan tetap mengenali dan mengetahui batu kita tersebut.
“Keunikan batu pandan ini memiliki histori, cerita asal perjalanan dari pemilik awalnya hingga sudah berpindah-pindah ke pemilik lain sampai akhirnya ketika ada event atau acara pagelaran kontes, batu yang sudah berpindah-pindah tersebut bisa diketahui pemilik asalnya,” ungkapnya lagi.
Berbicara mengenai komunitas, untuk harga dari batu pandan ini bervariatif, tidak ada ketentuan berapa kisaran harganya, bisa dibilang “gue suka ya gue beli, ga perduli berapa harganya”. Terlebih bila batu itu memiliki prestasi yang artinya dalam sebuah kontes batu itu sudah beberapa kali berpindah tangan dengan harga yang selalu naik, dari prestasi itulah, harga semakin tinggi. Kalau ditanya kisaran termurah, ada yang menjual mulai dari 100 ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah.
“Untuk mendapatkan batu pandan yang menurut sebagian orang susah didapat, saya menganggap tidak terlalu susah dikarenakan apa yang kita inginkan pasti ada dan pasti kita dapatkan karena adanya wadah komunitas batu pandan ini. Dengan adanya KOMPAC ini secara tidak langsung kita juga syiar kepada masyarakat bilamana masyarakat menyukai atau ingin mendapatkan batu pandan tidak perlu bingung karena sudah ada KOMPAC. Selain itu KOMPAC juga sebagai tempat ajang silaturahmi, berbagi edukasi, dan KOMPAC sendiri tidak hanya orang-orang dari condet melainkan dari berbagai wilayah ibukota dan sekitarnya kumpul menjadi satu didalam KOMPAC,” jelasnya lagi.
