Kenaikan Harga Garam di Makassar Tiga Kali Lipat

MAKASSAR— Anto (45), pedagang di Pasar Terong, Kelurahan Tomppo Ballang, Kecamatan Bontoala, Makassar, tampak sibuk memotong-motong asam dan menatanya ke dalam sebuah wadah, sejak pagi hari.

Anto adalah pedagang kelontong  selama hampir 25 tahun Anto di pasar terbesar yang ada di Kota Makassar ini. Seluruh bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, merica, dan yang lainnya tampak rapi berjejar di bagian depan toko kecilnya. Sementara tumpukan garam bermerk hanya beberapa baris berjejer di bagian belakang tokonya.

“Garam saya masih beberapa bungkus lagi.  Bagi saya kenaikan harga garam tidak mempengaruhi saya yang notabene pedagang kecil,”  kata Anto, saat ditemui di Pasar Terong, Rabu (26/7/2017).

Biasanya, Anto mengambil garam dari toko kelontong yang lebih besar. Dalam sebulan, dia hanya mengabil 1 ball garam halus dan 1 ball  garam kasar. Setiap ball berisi ratusan bungkus garam yang berbentuk kotak.

Anto pun mengaku sempat kaget, dengan adanya kenaikan harga garam saat ini. Dalam dua minggu ini, harga garam per ball sudah naik 3 kali lipat. Harga per ball garam halus dari Rp28.000 menjadi Rp35.000, lalu naik lagi menjadi Rp47.000.

Sedangkan untuk garam kasar dari harga Rp35.000 menjadi Rp52.000. Dengan harga eceran yang ukuran besar, harganya Rp4.000 dan ukuran kecil Rp2.000, sedangkan untuk harga kasar per ecernya Rp5.000.

“Kalau di tempat lain, garamnya mungkin dijual sudah harga Rp2.000 untuk ukuran kecil, tapi saya hanya menjualnya dengan harga Rp1.500, yang penting sudah ada untung sedikit”, ucapnya.

Mahalnya harga garam, juga membuat pedagang lain harus berhenti berjualan. Tidak jauh dari tempat Anto, ada perempuan berambut panjang bernama Daeng Sangging (40). Dia merupakan pedagang lombok yang menjual garam jenis grosok kualitas bawah.

Daeng Sangging biasa mengambil sekarung garam grosok seharga Rp30.000 per karungnya, dan kini melambung menjadi Rp100.000 per 20 kilonya. Sehingga dirinya harus berhenti berjualan garam dan hanya berjualan lombok saja.

“Sejak harga garam naik dan langka, saya terpaksa berhenti berjualan garam dan lebih memilih untuk berjualan lombok saja”, ungkapnya.

Lihat juga...