Wabup Sikka Tekankan Perlu Revolusi Kemanusiaan

SELASA, 13 JUNI 2017

MAUMERE — Masyarakat khususnya di Kabupaten Sikka ke depan harus mencoba melakukan revolusi kemanusiaan dengan meninggalkan gaya lama, pola pembangunan lama, cara berpikir lama, struktur yang lama, pemimpin yang lama, dan berpindah ke sesuatu yang baru.

Johny Noya, manajer program Wahana Visi Indonesia Area Development Program (ADP) Sikka.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, dalam acara bersama WVI Area Development Programme Sikka, Selasa (13/6/2017).

Dikatakan Nong Susar, kita tidak perlu memilki otak besar tapi kosong di dalamnya sebab tujuan pembangunan yakni menghasilkan manusia yang bernalar dan berkarakter serta berdaya saing dengan dunia luar.

“Kalau berdaya saing maka pendidikan bukan hanya sekadar akademis tetapi sifatnya yang bisa mengatasi kompleksitas permasalahan yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Kalau pemimpin dengan gaya lama takut dengan kekuasaan, kata Nong Susar, membuat dia akan memakai pasukan-pasukan untuk menjaga kekuasaannya.

Ajaran semua nabi, terangnya, mengajarkan tentang pemimpin yang melayani sehingga kita harus bisa berpindah ke seberang dan menanggalkan ketakutan-ketakutan kita demi menata kehidupan yang baru.

“Ini pemikiran-pemikiran dan silakan berevaluasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil. Saya yakin evaluasi kegiatan yang dilakukan bisa mendapatkan model baru untuk melaksanakan pekerjaan yang lebih baik dan terfokus,” tuturnya.

Mantan anggota DPRD Sikka ini meminta Wahana Visi Indonesia (WVI) agar berjalan bersama masyarakat dan pemerintah supaya misi dan visi bersama baik WVI dan pemerintah bisa tercapai.

Johny Noya, manajer program WVI Sikka saat ditemui Cendana News di sela-sela kegiatan mengatakan, di dunia pendidikan WVI bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka sudah menciptakan kurikulum berbasis lokal yang dikenal dengan nama Pendidikan Kulababong, pendidikan karakter yang selain mendorong kemampuan membaca dan menulis anak, juga membentuk karakter anak.

“Pendidikan Kulababong ini menjadi model pendidikan karakter konseptual pertama di Indonesia dan kita sudah sering memaparkan model pendidikan ini di Kementrian Pendidikan,” sebutnya.

Di bidang kesehatan, lanjut Johny, WVI melatih ratusan kader Posyandu dan guru-guru PAUD untuk mendeteksi dini tumbuh kembang anak sebab di Sikka gizi anak masih bermasalah.

Peserta yang hadir saat perayaan evaluasi kegiatan WVI selama berkarya di Sikka.

WVI  juga, sambungnya, memiliki mobil Posyandu dimana dengan telepon genggam pintar atau smart phone, anak yang datang setiap bulan ke Posyandu bisa langsung dipantau sehingga membantu kader Posyandu melakukan konseling sebab data anak sudah bisa langsung dipantau di telepon genggam.

“Kami juga memiliki pusat pembelajaran kakao dan membuat pasar bersama sehingga para petani kakao di beberapa kecamatan yang didampingi bisa menjual komoditi kakao dengan harga yang layak,” pungkasnya. (Ebed de Rosary/ Satmoko/ Foto: Ebed de Rosary)

Source: CendanaNews

Lihat juga...