SELASA, 6 JUNI 2017
JAYAPURA — Tetesan air mata berjatuhan tak kala cerita tentang lahan sagu yang mulai punah akibat banyak pembukaan lahan sawit. Cerita ini dikolaborasi melalui sebuah pentas musik Ensamble Papua karya Septina Rosalina Layan di Kota Jayapura, Papua, Selasa (6/6/2017) malam.
| Pemain Ensamble Music Papua bersama Rektor ISBI Papua (duduk tengah) usai pentas |
Pentas seni berkolaborasi alat musik tradisional dan modern yang menceritakan tentang semakin sedikitnya hutan Sagu akibat pembukaan lahan Sawit di Papua, secara khusus di Kabupaten Merauke. Penonton yang hadir di aula Santo Igna Tius, Gereja Katolik Kristus Terang Dunia yang hadir sejak pukul 18.00 hingga 20.30 WIT diberi suguhan musik kolaborasi dipadukan dengan teatrikal serta beberapa untaian kata-kata dari beberapa seniman tersebut.
“Saya lahir, besar di Merauke, dan kebetulan banyak hutan sagu disana. Kenapa karya ini lahir, dua tahun lalu saya pulang ke Merauke, ternyata ada perusahaan sawit yang masuk dan membuat kekesalan bagi masyarakat pribumi,” kata Septina dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan hasil karyanya di hadapan penonton.
Saat dirinya di kampung dan bertemu dengan salah satu pemilik dusun keturunan delapan dari beberapa suku yang ada disana mengatakan kepada Septi, apabila hanya dirinya yang mempunyai keputusan sendiri, maka tak akan mengizinkan tanah ini kepada perusahaan sawit, tetapi pendapat-pendapat dari beberapa pemilik tanah disana mengharuskan ia harus mengalah.
“Disana sagu ada tetapi tak bisa lagi dikelola, karena air sudah terkontaminasi dari obat-obatan pohon sawit itu sendiri. Sehingga kenapa saya angkat itu dalam karya saya ini,” dijelaskan Septi.
Dirinya hanya dapat memberikan pandangan kerusakan itu melalui seni. Pandangan yang diberikannya itu meneritakan susahnya masyarakat menerima manfaat dari sagu itu sendiri. Dirinya berharap kepada orang-orang yang punya kebijakan atau andil dalam hal ini untuk melihat lebih dekat terkait pahit yang diterima masyarakat pribumi.
“Saya hanya bisa bicara melalui karya, saya harap kaka-kaka yang hadir disini, aktifis lingkungan dan lainnya agar turun ke lapangan, semoga karya ini dapat membuka mata hati kita,” dikatakan Septi.
| Aktivis lingkungan Papua, Andre Liem |
Salah satu aktivis lingkungan, Andre Liem sedih dan juga teteskan air mata saat melihat langsung pentas seni yang menceritakan rusaknya hutan sagu atas masuknya sawit di Papua. Ia mengaku hutan sagu sudah mulai hilang, dengan kepastiannya setelah sekian lama berkeliling ke polosok-pelosok Tanah Papua dan melihat itu dengan mata kepalanya sendiri.
“Ini juga sebuah pesan lewat karya saudari Septi dan ini satu memotifasi masyarakat Papua yang berada di hutan sagu, ini penting sekali dan luar biasa. Saya hadir disini melalui media dan ini suatu sumbangsih besar dari karya seni menceritakan Tanah Papua yang kaya ini,” kata Andre.
Sementara Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua, Prof. Dr. I Wayan Rai mengaku perkembangan teknologi tentu juga dapat diekpresikan lewat seni, dapat dikatakan sebagai bentuk protes, kekhawatiran, semacam pesan, dan lainnya.
“Secara umum alat musik Papua bersifat individu, mulai dari Tifa, Fu, Pikon dan lain sebagainya,” kata Prof. Dr. I Wayan Rai.
Ia juga mengaku bangga atas pencapaian yang diraih Septina Rosalina Layan, lantaran dari sekian banyak seniman di Indonesia hanya terpilih dua orang oleh Yayasan Kelola yang memberi perhatian pada seni dan budaya Indonesia.
“Hanya dipilih dua orang dan satu dimenangkan oleh Papua. Ini luar biasa dalam hal kreatifitas, selamat buat Septi karena lewatkarya ini dari sudut pandang kesenian Papua dapat dipandang melalui kekuatan seni,” tutur I Wayan.
Dalam pementasan seni kolaborasi alat musik tradisional dan modern ini karya Septina Rosalina Layan ini dibagi menjadi tiga bagian yakni bagian pertama Perubahan ataupun perebutan lahan makan dan Identisas Budaya, bagian kedua menceritakan sebuah peperangan tanpa jawab akhir, dan terakhir tentang penyesalan, pertanyaan, was-was, ratapan kesedihan, doa dan harapan.[Indrayadi T Hatta / ME. Bijo Dirajo / Foto : Indrayadi T Hatta]
Source: CendanaNews