Serangan Belalang Kembara di Sumba Timur Akibat Berkurangnya Pemangsa

RABU, 14 JUNI 2017

KUPANG — Serangan belalang Kembara yang terjadi di Sumba Timur sejak Sabtu (10/6/2017) dan memakan segala jenis rumput dan tanaman akibat berkurangnya predator atau binatang pemangsa belalang, sehingga menyebabkan populasinya meningkat drastis. Serbuan hama belalang Kembara yang terjadi ketiga kalinya di Sumba Timur setelah pernah terjadi tahun 1973 dan 1991 silam.

Hama belalang Kembara yang menyerang kabupaten Sumba Timur

“Ini akibat dari mulai berkurangnya predator dan serangan belalang kembara ini pernah terjadi sebelumnya dan pemerintah menggunakan tenaga manusia untuk menangkap dan menguburkan belalang tersebut,” tutur Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya kepada wartawan di Kupang Rabu (14/6/2017).

Pemerintah Provinsi NTT kata Lebu Raya, saat ini tengah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten Sumba Timur untuk mengantisipasi meluasnya serangan.

“Kami terus lakukan kordinasi untuk menangani serbuan hama belalang ini agar permasalahan ini bisa cepat selesai,” ungkapnya.

Bupati Sumba Timur Drs.Gidion Mbiliyora

Sementara itu, akibat serangan hama belalang Kembara yang membuat resah warga kota Waingapu dan menganggu jadwal penerbangan pesawat di bandara Umbu Mehang Kunda, serangan belalang juga membuat lahan pertanian terancam gagal panen sehingga Pemda Sumba Timur menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Benar, tadi kita sudah gelar rapat berbagai sektor dan tetapkan peristiwa ini sebagai Kejadian Luar Biasa dan jika terjadi rawan pangan akibat dari serangan hama belalang, maka Pemda Sumba Timur siap membantu karena stok beras saat ini masih 100 ton,” sebut Drs.Gidion Mbiliyora.

Bupati Sumba Timur ini mengatakan, belalang kembara, tak hanya menyerang di padang tetapi juga sudah menyerang sebagian wilayah pertanian seperti tanaman sayur dan tanaman produktif lainnya. Sehingga membuata para petani di kabupaten Sumba Timur mulai resah sebab takut mengalami gagal panen.

“Hama belalang sudah menyerang enam kecamatan yang yakni Pandawai, Umalulu, Kahaungu Eti, Kambata Mapambuhang dan Pahunga Lodu serta mengepung kota Waingapu,” pungkasnya. [Ebed de Rosary / ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary]
Source: CendanaNews

Lihat juga...